Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Back to Nature Segelas Sehat dari Alam, Bahan Racikan Tidak Boleh Dibeli Sembarangan  

Lombok Post Online • Minggu, 20 Juli 2025 | 16:38 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

 LombokPost - Makanan dan minuman herbal kini tak lagi sekadar obat untuk orang sakit.

Dengan slogan back to nature, masyarakat mulai menjadikan konsumsi herbal sebagai bagian dari gaya hidup sehat sehari-hari.

Bahkan racikan ini mulai diminati beberapa kafe sebagai menunya.

 

Botol-botol berisi jamu dan minuman herbal kini banyak terlihat di meja kerja, tas olahraga, hingga kafe kekinian.

Tren konsumsi makanan dan minuman herbal menjelma menjadi gaya hidup masyarakat urban yang semakin sadar akan kesehatan.

Tak hanya kalangan dewasa, generasi muda pun mulai beralih ke pola hidup sehat dengan cara alami, menjadikan ramuan herbal sebagai teman harian untuk menjaga imun dan kebugaran tubuh.

Mereka percaya, kembali ke alam adalah cara terbaik untuk tetap sehat di tengah gaya hidup serba cepat saat ini.

Fenomena ini pun terlihat di tengah hiruk pikuk Kota Mataram. Di Jalan Terusan Bung Hatta Nomor 14 Cakranegara terdapat sebuah tempat yang menawarkan lebih dari sekadar kopi dan kudapan. Sebuah kafe yang juga menyajikan minuman herbal kekinian.

Begitu melangkah masuk mendekati area display makanan dan kasir, aroma hangat rempah dan wangi pastry sudah terasa. Menciptakan sebuah suasana yang menenangkan.

Namanya Nostalgic Coffee & Eatery. Konsepnya yang natural, modern, dan minimalis dengan sentuhan industril ringan. Fokus pada pencahayaan yang hangat untuk menciptakan suasana nyaman di malam hari yang dingin.

“Kita punya menu rempah yang jadi signature kami, karena banyak yang suka, setiap hari pasti ada yang pesan,” ujar Arifah, salah satu pelayan di Nostalgic.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Menu signature kafe ini adalah Herbal Nostalgic. Sebuah minuman yang merupakan perpaduan sejumlah rempah utuh. Mulai dari kayu secang, kayu manis, jahe, sereh, bunga lawang, cengkeh, kapulaga, madu, dan banyak lagi.

Dijual seharga Rp 45 ribu, Herbal Nostalgic disajikan dalam sebuah teko khusus minuman rempah. Sebuah teko kaca transparan dengan infuser (saringan, Red) ukuran 350 mililiter.

Teko jenis ini sangat populer untuk menyeduh teh herbal, teh bunga, atau minuman rempah. Sebab memungkinkan pengguna untuk melihat bahan-bahan seduhan di dalamnya. Sekaligus mencegah ampas ikut tertuang ke dalam cangkir.

 Baca Juga: Berkat “BRInita”, Teh Herbal Jadi Produk Unggulan Poktan Bensor Semarang

Diminati Lintas Generasi

Menurut Arifah, minuman rempah ini diminati berbagai kalangan. Baik muda maupun tua, yang datang untuk nongkrong bareng teman maupun keluarga. Terutama di malam hari, apalagi suhu di Kota Mataram saat ini sangat dingin.

“Satu teko itu bisa untuk minum 2-3 orang, dan bisa refill (isi ulang) dua kali,” jelasnya.

Minuman ini memberikan rasa hangat dan membuat tubuh terasa lebih nyaman. Perpaduan rempah dengan takaran yang tepat, ditambah madu, membuatnya terasa tidak terlalu pahit, bahkan menyegarkan di setiap tegukannya.

Tren minuman herbal kekinian sekarang memang sedang naik daun. Hal itu menunjukkan pergeseran menarik dari persepsi jamu pahit tradisional menjadi pilihan yang stylish, lezat, dan berorientasi pada kesehatan.

Ini bukan lagi sekadar minuman, tetapi bagian dari gaya hidup sehat dan kesadaran akan bahan-bahan alami. Terlebih di tengah kondisi cuaca saat ini yang tidak menentu dan kurang bersahabat.

“Banyak bapak-bapak yang datang ke sini dan pesan minuman ini, apalagi saat (nongkrong) malam,” bebernya.

Tidak asal Racik

Setiap herbal yang digunakan diracik dengan tepat dan sesuai dengan manfaat yang dibutuhkan para konsumen. Irni Dwiastiti Irianto, salah satu penjual herbal di Car Free Day Mataram mengatakan, menjual rempah langsung, jamu dan minuman herbal kekinian tidak bisa asal.

Bahan yang digunakan tidak boleh dibeli sembarangan. Seperti dirinya, rempah dibeli langsung di toko obat herbal yang tiap bulan tetap di periksa BPOM.

“Beli bahan-bahannya tidak di pasar, belinya di toko obat herbal resmi, jadi saya tidak khawatir. Kita aman konsumen yang kita berikan juga aman, karena sesuai standar,” jelasnya.

MINUMAN SEHAT KEKINIAN: Salah satu pengunjung sedang menikmati menu minuman Herbal Nostalgic yang banyak diminati di Nostalgic Coffee & Eatery, Mataram, belum lama ini.
MINUMAN SEHAT KEKINIAN: Salah satu pengunjung sedang menikmati menu minuman Herbal Nostalgic yang banyak diminati di Nostalgic Coffee & Eatery, Mataram, belum lama ini.

Secara garis besar, lulusan magister Ilmu Kesehatan Masyarakat di Semarang ini menjelaskan, herbal yang dijual menggunakan resep dari beberapa jurnal kesehatan yang pernah dibacanya. Dari sana, dirinya bisa mengetahui takaran rempah yang digunakan untuk minuman herbal. Termasuk fungsi dan manfaatnya.

Satu bungkus rempah herbal dijual mulai dari Rp 3 ribu. Namun itu hanya bisa dimasak hingga dua kali. Artinya ketika pertama kali di masak, sisa rempah jangan lansung dibuang, tapi masih bisa dimasak lagi dengan air baru.

“Satu bungkus ini bisa jadi satu setengah gelas belimbing, ditambahkan madu dan gula aren bisa, untuk gula putih sebaiknya dihindari,” jelasnya.

Beragam Khasiat

Racikan rempah yang dijualnya, kata Irin bisa untuk membantu mengobati diabetes, hipertensi, kolestrol, asam lambung, asam urat, vertigo, dan lainnya.

Perempuan berhijab ini sudah menggeluti usaha racikan rempah di Udayana sejak 2022. Berawal dari pengalamannya sendiri yang menjalani operasi perut hingga 7 kali di tahun 2018. Lima kali di Lombok dan dua kali di Semarang.

“Dulu saya pakai selang yang digunakan untuk mengeluarkan cairan atau sisa-sisa cairan di dalam itu setahun. Kemudian ada dokter kasihan sama saya karena merantau jauh dari keluarga menyelesaikan sekolah dalam kondisi sakit tesisnya sambil jalan,” tuturnya.

Dokter yang menangani Irin itu merupakan dokter rehab medik keturunan China yang ternyata sering meracik rempah untuk kesehatan. Dirinya kemudian ditawari berobat menggunakan cara tradisional selama sepekan. Irin menjalani proses pengobatan pijat biasa, pijat saraf dan akupuntur.

“Saya dikasih rempah-rempah ini, ingetnya saya tuh akar alang-alang, bunga lawang, kayu secang, cengkeh, kapulaga, kayu manis,” bebernya.

“Kemudian dia (dokter, Red) bilang ini besok bekalmu pulang, kamu harus siarkan bahwa ini nih pengobatan secara alami,” imbuhnya.  

Kemudian di 2019, ia memutuskan kembali ke Lombok dan sedang viral dokter Zaidul Akbar dengan resep JSR (Jurus Sehat Rasulullah). Dari situ muncul ide untuk membuat JSR yang dari racikan rempah. Awalnya, dia buat hanya untuk konsumsi keluarga terdekat, dan tenyata banyak yang cocok.

“Jadi trial errornya banyak, banyak yang kita coba sampai ketemu komposisi racikannya,” terangnya.

Ditambahkan, setiap rempah yang dijadikan minuman herbal memiliki banyak manfaat. Contohnya seperti kayu secang, manfaatnya terutama untuk infeksi di dalam tubuh, imunitas, mencegah tumor, kanker, dan lainnya.

“Apalagi pas drop tubuh, itu bisa jadi booster. Pada pasien demam dan diare juga bisa,” jelasnya.

“Intinya saya ini ingin mengsyiarkan pengobatan komplementer, pengobatan ala nabi seperti bekam dan minum herbal,” tandasnya.

Sehat Dapat, Cuan Dapat

Salah satu minuman herbal kekinian yang cukup banyak diminati adalah Herbalife. Berbeda dengan minuman herbal tradisional yang masih otentik, minuman ini herbalnya sudah melalui proses olahan di pabrik.

Produk utamanya berupa produk pengelolaan berat badan berupa pengganti makanan (meal replacement shakes), suplemen diet, dan produk penurun berat badan lainnya. Kemudian suplemen nutrisi untuk kesehatan jantung, pencernaan, imunitas, dan lain-lain.

Selain itu ada juga produk minuman untuk energi dan kebugaran, seperti minuman energi dan suplemen untuk mendukung aktivitas fisik. Ada juga produk perawatan kulit dan rambut.

Berbeda dengan herbal tradisional, Herbalife tidak menjual produknya di toko ritel tradisional. Penjualan dilakukan oleh distributor independen yang membeli produk langsung dari perusahaan.

Distributor ini tidak hanya menjual produk kepada konsumen, tetapi juga merekrut distributor baru ke dalam ‘downline’ mereka. Penghasilan distributor berasal dari penjualan produk langsung dan juga bonus dari penjualan yang dilakukan oleh downline mereka.

“Saya ikut Herbalife itu sejak 2019,” ujar Devi Handayani, salah satu pengguna produk Herbalife.

Semua berawal dari melihat progres teman yang berhasil menurunkan berat badan dengan Herbalife. Rasa penasaran memicu untuk ikut bergabung ke dalam komunitas yang ternyata bukan sekadar tentang minuman herbal.

"Kita di sana diajarin kayak bukan hanya sekedar minuman herbal aja, tapi kayak dari pola makannya, terus gizinya, kemudian ada olahraganya juga jadi kita seimbang," beber Devi.

Meski begitu, perjalanan ini tidak instan. Di tahun pertama, konsistensi masih menjadi tantangan. Namun, ketekunan membuahkan hasil di tahun kedua. Dengan komitmen penuh, dalam waktu enam bulan, dirinya sukses turun 11 kilogram. Dari 68 kilogram menjadi 56 kilogram.

"Kalau konsisten itu kelihatan banget hasilnya," tegasnya.

Lebih dari sekadar angka di timbangan, ada beberapa perubahan yang dirasakan sangat signifikan. Di antaranya, badan terasa enteng, kualitas tidur terjaga hingga kulit yang lebih segar dan cerah.

Minuman Herbalife, kata Devi adalah campuran nutrisi yang berasal dari buah-buahan dengan tambahan protein. Minuman ini disajikan praktis hanya dengan diblender bersama es batu. "Itu mengenyangkan," katanya.

Meski terlihat mudah, namun untuk mengikuti program Herbalife memerlukan biaya yang cukup besar. Satu paket produk Herbalife bisa mencapai di atas Rp 500 ribu, dan cukup untuk konsumsi sekitar 20-an kali atau kurang lebih satu bulan. Tersedia juga tambahan protein dengan formula yang lebih menyegarkan. (fer/nur/r3)

Editor : Siti Aeny Maryam
#tren #herbal #Kesehatan #jamu #gaya hidup