LombokPost - Di tengah padatnya rutinitas kerja dan aktivitas harian, masyarakat mulai menyadari pentingnya waktu berkualitas bersama keluarga.
Fenomena "family time" kian menjadi tren baru di akhir pekan.
MATAHARI pagi menyapa puncak Tambora dan kabut perlahan turun dari lekuk-lekuk kawahnya yang megah.
Johan Rosihan bersama putra sulungnya Abdu Robbil ‘Alamin atau akrab disapa Alam, berhasil summit.
Keduanya sedang berdiri di atas bukan hanya gugusan batu dan tanah, namun berdiri di atas ekosistem langka yang masih perawan.
Momen family time ini, menjadi salah satu cara Johan Rosihan berkomunikasi dan mengisi kebersamaan yang merupakan kunci utama untuk menciptakan keharmonisan dalam keluarga.
Di tengah kesibukannya sebagai anggota DPR RI dan aktivitas partai yang padat, pria yang akrab disapa Bang Jo itu selalu berusaha menjaga keseimbangan antara rutinitas dan keluarga.
Bang Jo memiliki prinsip sederhana yang selalu dipegang teguh.
“Family time itu wajib disediakan, bukan disisakan,” ujarnya.
Keluarga Sumber Energi
Family time adalah momen krusial bagi keluarga. Di momen ini, terbangun kebersamaan yang melibatkan kontak atau interaksi antara orang tua, saudara, dan anak-anak dengan tujuan mempererat hubungan satu sama lain.
Bagi orang tua, kata Bang Jo, family time bisa jadi waktu untuk berbagi cerita sekaligus memberikan perhatian penuh kepada anak-anak di tengah kesibukan sehari-hari. Sementara bagi anak, family time bisa membuat anak merasa lebih diperhatikan, didengar, dan diberikan kasih sayang.
Bagi dia, keluarga adalah sumber energi sekaligus tempat dirinya kembali menjadi diri sendiri. Di hadapan sang istri dan kelima orang buah hati. Apa adanya. Jika sedang di Jakarta atau tidak ada agenda keluar kota, politisi PKS ini kerap mengusahakan mengajak anak-anak sekadar makan bersama atau ngobrol santai di rumah.
“Iya lho, momentum sederhana seperti itu sangat berarti, apalagi di tengah rutinitas kerja saya yang sering menguras waktu dan pikiran,” terang Bang Jo.
Ketika libur panjang sekolah tiba, mantan anggota DPRD NTB ini biasanya memilih pulang kampung halaman bersama keluarga. Kadang ke Pulau Lombok atau Pulau Sumbawa. Di antara kedua pulau ini, dia bersama keluarga menikmati alam, menyatu dengan udara bersih, memandang laut yang biru. Bahkan naik Gunung Rinjani dan Gunung Tambora seperti beberapa waktu yang lalu.
“Mengajak anak-anak ke alam, bukan hanya penyegaran fisik, tapi juga menumbuhkan spiritual, seperti mengisi ulang baterai kehidupan,” ungkap suami dari Wahidah Hakim ini.
Di mata Bang Jo, kebersamaan dengan keluarga bukan soal mewah atau mahal, melainkan bagaimana bisa hadir secara utuh, jiwa dan raga, di tengah-tengah keluarga. Mau itu di atas meja makan, di pinggir pantai, atau di atas gunung terpenting adalah dirinya hadir sebagai ayah dan suami. Bukan sebagai pejabat.
“Itulah bentuk tanggung jawab dan cinta yang saya jaga untuk keluarga,” jelasnya.
Membangun bahtera rumah tangga dengan menjunjung family time, bagi Bang Jo menjadi kunci utama menjaga hubungan keluarga yang harmonis dengan menjalin komunikasi dengan baik. Sebab itu, family time perlu dijadwalkan secara rutin.
Momen family time juga dimanfaatkan oleh Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Puteri.
Politisi Golkar ini memilih menghabiskan waktu bersama keluarga dengan rekreasi mengunjungi objek wisata.
"Saya suka semua tempat rekreasi, saya suka ke pantai, ke gunung," ujar Wagub Indah dengan antusias.
Menurut dia, hal ini menunjukkan bahwa destinasi rekreasi di NTB tidak hanya menarik bagi turis, tetapi juga nyaman dan menyenangkan bagi penduduk lokal untuk melepas penat dan mempererat ikatan keluarga.
Sementara Ahsanul Khalik, staf ahli gubernur NTB Bidang Sosial dan Kemasyarakatan, memilih cara sederhana untuk family time.
Bukan di hotel berbintang atau restoran mewah, melainkan di berugak kayu beratap ilalang, ditemani semilir angin, secangkir kopi Sembalun, dan cerita-cerita yang berseliweran di antara tawa anak-anaknya.
"Kami lebih sering tinggal di kampung. Rumah di Mataram sesekali kami tempati. Tapi yang kami cari bukan tempatnya, melainkan momen untuk bersama," tutur Khalik.
Baca Juga: Rekomendasi 4 Hotel Murah di Kota Mataram, Bisa Jadi Alternatif Menghemat Budget Liburan
Bersama sang istri dan ketiga buah hatinya, keluarga ini menciptakan tradisi yang mereka sebut sebagai waktu suci: family time.
Tanpa jadwal resmi, tanpa aturan formal, namun tetap sakral dalam kesederhanaannya dan berjalan secara alami, spontan, dan tetap terjaga.
Bagi Khalik, family time bukan sekadar waktu yang berkualitas.
Tapi ruang jiwa. Tempat mereka mengurai kerumitan, merawat cinta, dan kembali mengingat, bahwa rumah adalah tempat di mana semua bisa merasa cukup dan didengarkan. (ewi/nur/yun/r3)
Editor : Kimda Farida