LombokPost -- Di tengah laju kehidupan modern dan dominasi teknologi, makna 'quality time' dalam keluarga mengalami pergeseran.
Psikolog Fitriani Hidayah menekankan bahwa 'quality time' bukan sekadar tentang kuantitas waktu yang dihabiskan, melainkan lebih dalam lagi mengenai kualitas interaksi dan kedalaman hubungan yang terjalin antar anggota keluarga. Hal ini menjadi krusial dalam membangun fondasi keluarga yang kokoh di era digital.
"Quality time melibatkan perhatian penuh, komunikasi efektif, dan kebersamaan yang mendalam. Ini pada akhirnya akan menciptakan ikatan emosional yang kuat dan kenangan berharga,” terang Fitriani.
Ia menambahkan bahwa mewujudkan 'quality time' di era digital yang serba cepat dan penuh kesibukan bukanlah tanpa tantangan.
Tantangan dan Solusi 'Quality Time' di Era Digital
Fitriani menyoroti beberapa kendala utama dalam menciptakan 'quality time' yang berkualitas, yaitu distraksi teknologi, minimnya kesadaran akan pentingnya interaksi tatap muka, dan perbedaan persepsi antar generasi terhadap penggunaan teknologi.
"Generasi boomer hingga milenial pertengahan cenderung lekat dengan musyawarah, diskusi, serta komunikasi langsung. Sementara generasi milenial akhir hingga Alpha lebih menikmati komunikasi via gawai karena menurut mereka lebih simpel dan mudah," paparnya. Perbedaan inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga masa kini untuk meluangkan waktu berinteraksi tatap muka.
Penggunaan smartphone dan media sosial, di satu sisi, memang memudahkan komunikasi jarak jauh. Namun, Fitriani mengingatkan, penggunaan berlebihan justru dapat memicu konflik, gangguan psikologis, dan berkurangnya interaksi tatap muka. "Manusia sejatinya adalah makhluk sosial. Jika dasar ini tidak terpenuhi, wajar saja jika akhirnya terjadi beberapa gangguan sosial bahkan berdampak pada diri sendiri," ucapnya. Untuk isu perbedaan jadwal kegiatan, solusinya adalah menyepakati manajemen waktu yang efektif, mencari solusi bersama antara orang tua dan anak, serta saling memberi pengertian.
Ide Kegiatan 'Quality Time' untuk Setiap Usia
Membangun 'quality time' bersama keluarga tidak harus rumit, bahkan bisa disesuaikan dengan usia dan minat setiap anggota.
-
Untuk Balita: Kegiatan sederhana seperti memasak bersama dapat melatih motorik halus, fokus, dan membangun rasa percaya diri mereka. Momen tukar peran sangat bermanfaat untuk mengembangkan empati si kecil, sementara membuat cerita bersama bisa jadi sarana mengasah imajinasi, ekspresi emosi, dan melatih kemampuan narasi mereka. "Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendukung tumbuh kembang anak secara holistik," imbuhnya.
-
Untuk Remaja: Bentuk 'quality time' dapat bergeser ke aktivitas yang mendorong komunikasi lebih terbuka. 'Walk and Talk', yaitu jalan sore sambil mengobrol, terbukti ampuh menciptakan suasana santai yang membuat remaja lebih nyaman bercerita tanpa tekanan. Tak kalah penting, 'journaling bareng' atau menulis jurnal bersama bisa menjadi media refleksi dan kejujuran, membantu remaja mengungkapkan perasaan yang mungkin sulit disampaikan secara lisan.
-
Untuk Semua Usia: Ada beragam aktivitas yang bisa mempererat ikatan keluarga:
-
Family Mission Day: Dilakukan sebulan sekali dengan kegiatan sosial bersama, menumbuhkan empati dan rasa kontribusi pada anak-anak.
-
Movie Night: Disusul sesi refleksi setelah menonton film keluarga, efektif melatih empati dan berpikir kritis.
-
Circle Malam: Setiap anggota keluarga berbagi cerita tentang hari mereka sebelum tidur, membangun kebiasaan refleksi dan komunikasi terbuka, menciptakan ikatan yang lebih dalam dan saling memahami.
-
"Kuncinya adalah fleksibilitas, inklusivitas, dan variasi aktivitas. Terima perbedaan minat, berikan ruang ekspresi, dan rotasi kegiatan agar semua anggota keluarga merasa terwakili," saran Fitriani.
Editor : Redaksi Lombok Post