Kota Mataram kian asri dengan ruang terbuka hijau (RTH) dan median jalan yang dipenuhi berbagai macam tanaman hias. Di balik keindahan tersebut, ada sosok yang punya peranan penting.
Dialah Akhir Suhariyanto atau yang akrab disapa Dimas, tukang tanam di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram.
-------------
DIMAS dikenal dengan "tangan basah"-nya, sebutan untuk orang yang ahli dalam menanam hingga tanamannya selalu tumbuh subur.
Sudah dua tahun Dimas menekuni pekerjaan sebagai tukang tanam di bawah naungan DLH Kota Mataram. Tugasnya tidak hanya menanam, tetapi juga merawat berbagai jenis tumbuhan di RTH, taman, dan median jalan di seluruh sudut Kota Mataram.
"Sudah dua tahun ini. Ya, di RTH, di taman-taman, di median jalan. Semua titik yang di bawah DLH," jelas Dimas.
Sebelumnya, Dimas bekerja di bidang pengadaan, di mana ia hanya bertugas mengantar tanaman ke lokasi.
Namun, setelah koordinatornya pensiun, ia mengambil alih peran tersebut dan kini bertanggung jawab penuh atas proses penanaman.
"Dulu saya hanya mengantar, sekarang langsung tanam," katanya.
Dimas mengaku banyak belajar secara otodidak selama dua tahun terakhir. Ia tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus di bidang pertanian, namun naluri dan hobinya terhadap tanaman membuatnya cepat beradaptasi.
Tantangan dalam menanam selalu ada, namun Dimas dengan percaya diri mengatakan, "Selama ini alhamdulillah penanaman kita tidak ada yang gagal. Berhasil semua," katanya sambil tersenyum.
Menurut dia, tidak ada tumbuhan yang sulit ditanam. Keberhasilan menanam sangat bergantung pada proses perawatan setelahnya. Proses penanaman yang benar, mulai dari menyiapkan media tanah yang bagus, pemupukan secara rutin, hingga penyiraman yang teratur, menjadi kunci utama.
"Yang penting pertama, median tanahnya harus bagus, jangan pasir. Kedua, pemupukan juga perlu ketika sudah selesai penanaman. Kalau saya sih pakai NPK 16-16 setiap tiga bulan sekali," ungkapnya.
Soal penyiraman, Dimas memiliki jadwal khusus tergantung cuaca. Saat musim kemarau, ia menyiram dua kali sehari, yakni pagi dan sore. Sementara saat musim hujan, ia cukup membersihkan rumput liar agar nutrisi tidak terbagi.
Ia mencontohkan tanaman di jalan bypass yang seluruhnya ditanami bunga kertas atau bougenville. Menurutnya, tanaman ini memiliki karakter unik.
“Bougenville ini karakternya musim panas keluar bunga ada putih, ungu, merah. Kadang pengunjung merasa senang mencabut bunganya. Kalau mati tidak ada," ujarnya.
Meskipun kerap kali bunga dicabut oleh pengunjung atau terkena limbah air bekas minyak dari Pedagang Kaki Lima (PKL), bougenville tidak mudah mati.
"Bougenville tidak cepat mati, karena tidak suka air. Kalau kebanyakan air malah tidak bisa berbunga," jelasnya.
Dalam memilih jenis tanaman, Dimas tidak selalu menentukan sendiri. Kadang, ada permintaan khusus dari pimpinan DLH. "Kadang-kadang ada permintaan dari kepala dinas. Mintanya warna merah atau warna kuning, memang ada. Kadang juga dia minta yang berbunga," katanya.
Untuk tanaman hias di median jalan, jenis yang paling sering ditanam adalah sambang dara, songgop india, pangkas kuning, dan riolia. Sementara untuk tanaman indoor, ia biasa menanam Aglonema dan Alicornia yang tidak tahan sinar matahari langsung.
Dimas juga menceritakan pengalamannya menanam pohon-pohon besar, seperti Tabibuya, Ketapang, dan pohon pelindung lainnya. Ia menekankan pentingnya melepas polybag saat menanam.
"Kadang-kadang kalau kita menyuruh pihak kedua atau ketiga, karena dia nyari cepat, ditanam sama polybag-nya. Padahal itu sangat mengganggu, akarnya lama dia menembus di tanah. Kalau saya harus dilepas polybag-nya itu,” jelasnya.
Berkat keahliannya, Dimas bahkan berhasil menanam pohon-pohon yang sudah tua, seperti pohon ancak, yang dicabut dan ditanam kembali.
“Pohon ancak ini saya cabut dan saya potong. Padahal dia batang yang sudah tua. Saya tanam alhamdulillah dia hidup," kenangnya.
Dimas percaya bahwa setiap tukang tanam memiliki "resep rahasia" sendiri. “Setiap koordinator penanam, tukang tanam itu pasti punya rahasia, dan itu khusus untuk kita saja," ujarnya sambil tertawa.
Sejauh ini, ia bersyukur tidak pernah mengalami kegagalan besar. Namun, ia tidak memungkiri bahwa ada kalanya satu atau dua tanaman mati karena faktor kelalaian.
"Dalam sepuluh, satu atau dua itu pasti ada. Karena kelalaian kita, atau di bagian penyiramannya," jelasnya.
Dengan total 6 tahun bekerja di DLH, Dimas merasa senang dengan pekerjaannya. Ia berharap ada penambahan tenaga kerja di masa depan untuk membantunya mengelola kebun bibit seluas 8,6 hektare yang menjadi tanggung jawabnya di RTH Pagutan. (SANCHIA VANEKA, Mataram /r3)
Editor : Jelo Sangaji