LombokPost - Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, segelintir orang justru memilih menoleh ke masa lalu.
Mereka menyisihkan waktu dan biaya untuk mengoleksi barang-barang antik.
Mulai dari peralatan rumah tangga kuno, alat komunikasi tempo dulu, senjata tradisional, hingga naskah-naskah tua.
“Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar hobi atau investasi. Namun, bagi saya koleksi antik adalah sesuatu yang jauh lebih dalam, sebagai penjaga jejak sejarah dan identitas budaya lokal,” terang Bunyamin selaku Pamong Budaya Ahli Madya Museum NTB saat ditemui Lombok Post.
Bunyamin menekankan pentingnya koleksi antik sebagai sumber pengetahuan yang tidak bisa diremehkan.
Menurutnya, benda-benda kuno bukan hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga menjadi bukti nyata dari perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, serta budaya manusia dari masa ke masa.
Ia mencontohkan, benda-benda seperti alat transportasi tradisional, alat komunikasi kuno, atau perabot rumah tangga zaman dahulu dapat menunjukkan bagaimana manusia mengembangkan solusi atas kebutuhan hidupnya, dan bagaimana kebudayaan lokal memberi bentuk pada benda-benda tersebut.
“Koleksi ini sangat penting, misalnya tentang teknologi, itu berguna untuk mengetahui perkembangannya dari masa ke masa. Sekarang teknologi sudah sangat canggih, tapi kita tidak bisa melepaskannya dari hasil budaya zaman sebelumnya. Pasti ada proses perkembangan yang menyertainya,” jelas dia.
Bunyamin memandang positif orang-orang yang secara konsisten mengoleksi barang antik.
Menurutnya, mereka secara tidak langsung berkontribusi dalam pelestarian sejarah dan budaya. Bahkan, dalam banyak kasus, kolektor pribadi justru memiliki benda-benda berharga yang tidak dimiliki oleh institusi negara seperti museum.
“Saya senang melihat individu yang suka mengoleksi benda jadul, karena mereka secara tidak langsung ikut melestarikan budaya,” tegasnya.
Kolektor sering menjadi jembatan antara masyarakat umum dan warisan sejarah.
Koleksi pribadi bisa menjadi pelengkap penting dari narasi sejarah yang belum sepenuhnya tergali secara akademik.
Koleksi tersebut bisa memperkaya riset ilmiah, pameran budaya, hingga materi pendidikan.
“Makanya saran saya, koleksi jangan hanya disimpan saja. Tentunya harus dirawat, karena benda-benda ini bisa menjadi sumber pengetahuan dan informasi penting bagi generasi berikutnya,” kata Bunyamin.
Ia juga menyoroti pentingnya komitmen kolektor terhadap pelestarian budaya, bukan sekadar mencari keuntungan ekonomi.
Ia mengingatkan agar benda-benda bernilai sejarah tidak dijual sembarangan ke luar daerah, apalagi ke luar negeri.
“Memang tidak ada orang yang tidak butuh uang, tapi sebisa mungkin jangan sampai benda bersejarah kita pindah tangan. Kalau ada orang yang mencari, kita bisa kasih duplikatnya. Yang asli tetap dijaga,” tegasnya.
Selain itu, penting bagi kolektor atau masyarakat untuk melakukan pendataan koleksi, terutama ketika benda-benda tersebut dipinjamkan ke pihak lain.
Proses pendataan, termasuk penggunaan berita acara dan koordinat lokasi penyimpanan, sangat krusial dan berguna untuk menghindari kehilangan atau ketidaktahuan akan keberadaan benda tersebut.
“Ketika benda dipinjamkan, harus ada berita acara. Kalau benda itu sudah terdata oleh pemerintah, maka akan disertai titik koordinat penyimpanan,” ujarnya.
Hal ini tidak hanya mempermudah peneliti dalam melakukan riset, tetapi juga berfungsi sebagai sistem pengawasan untuk memastikan koleksi tidak hilang atau berpindah tangan tanpa sepengetahuan pemilik aslinya. Dengan demikian, pelestarian benda-benda bersejarah bisa berjalan lebih terorganisir dan efektif.
“Kolektor atau masyarakat kadang lupa, siapa yang sudah meminjamnya, jadi saran saya seperti itu, buat berita acara,” jelasnya.
Sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya, Bunyamin juga menyampaikan bahwa Museum NTB membuka kesempatan bagi masyarakat yang memiliki benda bersejarah untuk mendapatkan edukasi perawatan.
Menurutnya, tidak semua orang tahu bagaimana cara melestarikan benda-benda kuno dengan benar, sehingga peran museum di sini menjadi sangat penting.
“Silakan bersurat ke museum. Kami bisa bantu perawatan atau setidaknya mengedukasi tentang cara melestarikannya. Karena pengetahuan seperti ini belum tentu dimiliki oleh masyarakat yang menyimpan benda-benda bersejarah,” jelasnya.
Tentu saja, mengoleksi benda antik adalah salah satu bentuk konkret pelestarian budaya, tidak hanya berbicara soal benda fisik, tetapi juga narasi yang menyertainya. Dan juga, kolektor memainkan peran kunci. Mereka adalah penjaga sejarah, tidak sedikit kolektor yang secara pribadi mendanai upaya restorasi atau pelacakan asal-usul benda koleksinya.
“Saya sangat mengapresiasinya,” tandas Bunyamin. (yun/r3)
Editor : Kimda Farida