Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Wisata Yoga, Peluang Emas Lombok di Pasar Wellness

Ali Rojai • Sabtu, 27 September 2025 | 09:11 WIB
Akademisi FEB Unram Muhammad Mujahid Dakwah
Akademisi FEB Unram Muhammad Mujahid Dakwah

LombokPost- Yoga kian berkembang di Lombok, dari studio di Mataram hingga retreat internasional di Gili dan Mandalika. Meski belum sepopuler Bali, tren ini mulai menarik wisatawan yang mencari kesehatan dan ketenangan.

Dengan potensi ekonomi hingga puluhan miliar rupiah per tahun, yoga dipandang sebagai peluang emas untuk memperkuat citra Lombok sebagai “Island of Wellness”, destinasi wisata sehat kelas dunia.

Yoga kini menjadi bagian dari tren wellness tourism atau wisata kesehatan yang tumbuh cepat di dunia. Tidak sekadar olahraga, yoga hadir sebagai daya tarik wisata bagi mereka yang mencari ketenangan jiwa sekaligus kebugaran tubuh. Banyak wisatawan datang bukan hanya bersantai di pantai, tetapi juga menyehatkan tubuh, menenangkan pikiran, hingga memulihkan stres lewat yoga dan retreat kesehatan.

Fenomena ini sejalan dengan tren global yang menempatkan yoga sebagai magnet baru pariwisata dunia. Di Indonesia sendiri, geliat wisata yoga semakin terasa dan nilainya terus tumbuh signifikan, dengan proyeksi peningkatan konsisten dalam beberapa tahun mendatang.

Di Lombok, geliat yoga kian terasa. Gili Yoga di Gili Trawangan dan H2O Yoga & Meditation Center di Gili Air menjadi destinasi favorit wisatawan mancanegara. Di Kuta Mandalika, Xanadu Surf & Yoga Hotel serta beberapa studio lokal seperti Ashtari Yoga, Mana Yoga, dan Shanti Yoga Lombok rutin membuka kelas harian dan retreat internasional.

Data BPS NTB mencatat, sepanjang 2023 ada sekitar 1,9 juta wisatawan berkunjung ke NTB. Jika mengacu pada tren global, sebagian kecil wisatawan biasanya tertarik dengan aktivitas yoga.Artinya, di Lombok bisa ada puluhan ribu pengunjung yang berpotensi mengikuti kelas atau retreat yoga setiap tahun. Dengan rata-rata belanja ratusan ribu hingga jutaan rupiah per orang, nilai ekonominya berpotensi mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah per tahun. Meski angka ini masih berupa potensi, tren tersebut menunjukkan arah pertumbuhan yang menjanjikan bagi NTB.

Selain fasilitas komersial, geliat yoga di Lombok juga didukung oleh komunitas lokal. Perkumpulan Praktisi Yoga Nasional Indonesia (PPYNI) NTB bersama sejumlah studio seperti Lombok Yoga Center dan Yasana Yoga kerap menggelar Yoga Camp serta bakti sosial, salah satunya di kawasan wisata alam Gunung Jae, Lombok Barat.

Di Mataram, studio seperti Namaha Yoga dan Space52 aktif menggelar kelas rutin, sementara komunitas di Kuta Mandalika dan Gili terus memperkuat jaringan melalui kelas harian maupun perayaan Hari Yoga Internasional yang melibatkan masyarakat luas.Potensi besar ini juga diakui oleh kalangan akademisi dan praktisi pariwisata di NTB.

“Yoga bisa menjadi ikon baru pariwisata Lombok. Potensi ini sudah tampak dari menjamurnya studio yoga di Kuta Mandalika, retreat internasional di kawasan Gili, hingga hotel-hotel yang mulai memasukkan yoga dalam layanan mereka,” ujar Muhammad Mujahid Dakwah, akademisi FEB Unram yang juga Dewan Pengawas Destination Management Organization (DMO) Senggigi.

Diutarakan, dukungan lanskap alam yang tenang, pantai tropis, serta budaya lokal yang sarat nilai spiritual, Lombok memiliki modal kuat untuk mengembangkan yoga sebagai produk unggulan wellness tourism.

“Selain mendukung kesehatan wisatawan, yoga juga mampu memperkuat citra Lombok sebagai destinasi wellness kelas dunia,” ucap Mujahid.

Ia menyebutkan, yoga berpeluang menjadi identitas baru pariwisata Lombok. Dengan keindahan alam, keheningan suasana, dan bertumbuhnya komunitas yoga di Mandalika maupun Gili, Lombok bisa diproyeksikan sebagai salah satu pusat yoga unggulan di Asia Tenggara.

Jika dikelola serius melalui kolaborasi pemerintah, pelaku pariwisata, dan komunitas lokal, yoga tidak hanya menjadi aktivitas tambahan, tetapi motor penggerak citra Lombok sebagai pulau wellness.

“Dengan seperti ini, Lombok bisa dikenal dunia bukan sekadar pulau indah, melainkan pulau penyembuhan diri,” ujar Mujahid.

Menurutnya, Lombok tidak hanya bisa dipandang sebagai pulau dengan pantai dan gunung yang memesona.

Lebih dari itu, Lombok berpeluang besar dikenal dunia sebagai “Island of Wellness”, pulau tempat wisatawan menemukan ketenangan, kesehatan, sekaligus kebahagiaan.(*)

Editor : Jelo Sangaji
#wisatawan #Gili #yoga #wellness #wisata #Mandalika #daya tarik wisata #olahraga #Peluang Emas #Lombok