LombokPost - KEHADIRAN barbershop di perkotaan sebenarnya bukan hal baru. Sejak dulu tempat cukur rambut dan jenggot sudah ada.
Misalnya di Ampenan, ada versi lamanya yang dikenal dengan nama Cassanova.
Bedanya, barbershop masa kini lebih disempurnakan, baik dari desain maupun pelayanannya.
Kini pelanggan tidak hanya sekadar datang untuk potong rambut atau merapikan kumis dan jenggot.
Mereka juga dimanjakan dengan interior yang nyaman, ruangan beraroma wangi, serta pelayanan tambahan seperti pijat kepala.
”Tak heran, barbershop menjadi tempat gaya hidup, bukan sekadar tempat singgah,” kata pakar Fashion Stylist Roy Primanto.
Konsep tempat cukur rambut modern, kini cocok bagi pria yang peduli penampilan.
Menurutnya barbershop kini banyak dipilih kaum pria metroseksual.
“Mereka bukan hanya mencari tukang cukur yang cocok, tapi juga suasana, pelayanan, bahkan desain interiornya,” jelas Roy.
Setiap barbershop pun punya keistimewaan. Mereka pun membawa ciri khas tersendiri.
Dari yang retro hingga industrial modern, semuanya hadir untuk memenuhi kebutuhan pria urban yang ingin rapi, wangi, dan percaya diri.
Perkembangan barbershop sudah bukan dapat dijangkau semua orang.
Kalau dahulu, masuk kelas salon atau barbershop sudah dikatakan orang itu memiliki penghasilan ekonomi menengah ke atas.
”Sekarang sudah menjadi urban stylist bagi kaum pria. Masuk ke tempat tukang cukur biasa lebih gengsi. Dengan masuk ke barbershop kini menjadi kebanggaan,” kata dia.
Roy mengatakan, ada beberapa alasan saat ini para pria memilih masuk barbershop.
Mereka mendapatkan perlakuan lebih personal.
Caspter atau tukang cukurnya, biasanya telah mempelajari berbagai teknik dengan peralatan modern.
“Hal ini berbeda dengan tukang cukur tradisional yang mengandalkan pisau cukur dan gunting, atau salon yang lebih fokus pada penataan, pewarnaan, hingga pengeritingan rambut,” terangnya.
Capster barbershop juga umumnya pria muda yang ramah dan senang bersosialisasi. Seperti barista di kedai kopi, mereka tak segan mengajak pelanggan mengobrol soal musik, hobi, hingga politik.
“Suasana ini membuat potong rambut terasa lebih santai, tidak kaku, dan menyenangkan,” kata dia.
Selain itu, layanan yang ditawarkan lebih lengkap.
Mulai dari handuk panas, pijat kepala, pijat punggung, hingga cuci rambut setelah dipotong.
”Layanan seperti ini jarang ditemukan di tukang cukur tradisional, sementara di salon, suasana dan perlengkapan cenderung didesain untuk perempuan,” kata dia.
Kini, barbershop bukan hanya tempat pangkas rambut, melainkan bagian dari gaya hidup.
Banyak milenial menjadikannya ajang tampil stylish dan tidak ragu membagikan hasil potongan rambut mereka ke media sosial.
“Suasana nyaman, konsep interior menarik, dan nama besar barbershop menjadi kombinasi yang membuat tren ini terus digandrungi,” terangnya.
Sementara itu, gaya rambut kini terlihat sudah bergeser.
Perkembangannya tergantung dari model papan atas kelas nasional atau internasional.
”Misalnya, orang melihat yang lagi buming gaya rambut spikey yang dipakai David Bekcham (modeling sekaligus pemain sepak bola), pasti akan menuruti gaya rambut itu,” kata dia.
Gaya rambut spikey kembali digandrungi kaum pria.
Model ini dikenal menghadirkan penampilan yang dinamis, modern, sekaligus fleksibel dalam mengekspresikan diri.
Kelebihan rambut spikey tidak hanya membuat tampilan lebih segar, tetapi juga mampu memberikan ilusi bentuk wajah yang lebih proporsional.
”Misalnya, untuk wajah bulat, gaya ini bisa memberi kesan lebih panjang. Sementara bagi wajah persegi, spikey dapat menciptakan tekstur lembut sehingga terlihat lebih seimbang,” beber Roy.
Rambut tipis pun bisa diatasi dengan gaya spikey.
Teknik penataan rambut tegak ini membuat helaian terlihat lebih bervolume sehingga tampak tebal alami.
”Hasilnya, penampilan jadi lebih segar dan awet muda,” terangnya.
Dengan fleksibilitasnya, gaya rambut spikey cocok untuk berbagai kalangan.
Baik untuk tampilan kasual sehari-hari maupun formal, gaya ini tetap memberi kesan percaya diri dan stylish.
”Tak heran, spikey masih menjadi pilihan populer di kalangan pria urban,” ujarnya. (arl/r3)
Editor : Kimda Farida