Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Praktisnya Transaksi QRIS Tak Perlu Repot Pikirkan Kembalian, Namun Sinyal Internet Jadi Kendala

Lombok Post Online • Sabtu, 1 November 2025 | 14:47 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
  

LombokPost – Transaksi digital menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terus menunjukkan popularitasnya di kalangan masyarakat, memberikan kemudahan sekaligus tantangan baru.

Dua pejabat publik di Nusa Tenggara Barat (NTB) berbagi pengalaman mereka yang telah menjadikan QRIS sebagai bagian integral dari rutinitas harian.

Kepala BPSDM NTB, Baiq Nelly Yuniarti, mengaku hampir setiap hari memanfaatkan QRIS dalam aktivitas belanja maupun pembayaran sehari-hari selama hampir tiga tahun terakhir.

“Praktis, cepat, dan mendukung gaya hidup tanpa uang tunai,” tegas Nelly.

Dalam setiap transaksi, nominal yang ia bayarkan melalui QRIS berkisar antara Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu. Ia memilih QRIS karena lebih praktis, mendukung gaya hidup cashless, dan dianggap lebih sehat.

“Saya tidak perlu repot membawa uang tunai dalam jumlah besar,” katanya.

Nelly menambahkan bahwa kemudahan ini membuat aktivitas belanja menjadi lebih efisien di tengah kesibukan. Ia juga mengapresiasi sektor ritel yang menyediakan layanan QRIS karena mempermudah konsumen menyelesaikan transaksi tanpa antre lama.

Meski demikian, Plt Kepala Dinas Perkim NTB ini mengakui adanya kendala.

“Kadang saya harus menunggu atau mencari toko lain yang menerima QRIS, tapi secara umum pengalaman bertransaksi digital ini sangat membantu,” ujarnya, merujuk pada masalah sinyal di beberapa lokasi dan belum meratanya layanan QRIS.

Nelly menilai keuntungan penggunaan QRIS, seperti efisiensi waktu dan kemudahan, membuatnya lebih nyaman dalam melakukan berbagai pembayaran rutin.

“QRIS bukan hanya memudahkan transaksi, tetapi juga membantu mempercepat perputaran ekonomi secara mikro karena transaksi menjadi lebih cepat dan tercatat secara digital,” kata Nelly.

Ia berharap edukasi penggunaan QRIS dan perluasan akses di berbagai titik perdagangan sangat penting agar layanan ini bisa dinikmati lebih luas.

Pengalaman serupa datang dari Sekretaris Dinas ESDM NTB, Niken Arumdati, yang telah menggunakan QRIS selama dua tahun terakhir.

“Hampir di setiap kegiatan transaksi sehari-hari saya pakai QRIS,” ujarnya.

Niken paling sering menggunakan QRIS saat bertransaksi di coffee shop, toko, salon, serta transportasi umum maupun online, dengan nominal transaksi yang bervariasi, mulai dari sekitar Rp 20 ribu hingga mencapai jutaan rupiah.

Alasan utama Niken memilih QRIS adalah karena tidak perlu repot dengan urusan uang kembalian.

Niken Arumdati
Niken Arumdati

“Sehingga transaksi menjadi lebih praktis,” kata dia.

Niken menilai pembayaran non-tunai sangat membantu meningkatkan efisiensi waktu. Namun, ia juga mengakui tantangan yang menyertai kemudahan ini, yaitu kecenderungan untuk menjadi lebih konsumtif.

“Iya, memang lebih konsumtif, tapi kembali lagi, bagaimana kita sendiri yang lebih bijak dalam mengelola keuangan,” pungkasnya.

Pengalaman kedua pejabat ini menyoroti bahwa di satu sisi, QRIS membawa efisiensi dan kepraktisan, namun di sisi lain, infrastruktur sinyal dan tantangan mengelola kebiasaan belanja harus tetap diperhatikan. (yun/r3)

Editor : Kimda Farida
#internet #kendala #efisien #praktis #QRIS