Pasar di lantai satu Cakranegara masih sepi pagi itu. Namun tiga orang telah sibuk bekerja di bawah lampu remang-remang. Memainkan api, mencampurkan bahan-bahan kimia.
------
MASIH terlalu pagi. Gerobak-gerobak bergembok milik pedagang masih tersembunyi di bawah terpal.
Menyusuri selasar pasar Cakranegara sesekali nampak seberkas cahaya menerobos celah-celah pasar.
Seorang pria yang entah datang dari mana berjalan santai. Sisirannya klimis, kumisnya dipotong rapi, kaca mata dengan frame warna merah tua.
Kemeja yang dimasukan ke dalam celana. Dan celana cutbray. Sempurna sudah penampilannya ala-ala pemuda era 70-an. Walaupun dari sisi usia ia sudah cukup senja.
Lelaki itu datang dengan gaya. Tak lupa memamerkan giginya dari kejauhan.
“Berapa?” tanyanya, lebih terdengar berbisik. Kata itu diucapkan setelah menyampaikan keinginan memperbaiki cin-cinnya, sembari menghempaskan bokong di bangku yang menghitam.
Pria yang ditanya tak langsung menjawab. Ia manggut-manggut seperti sudah tahu apa yang harus dilakukan pada cin-cin perak dengan batu akik itu.
Sejurus kemudian, mereka terlibat perbincangan. Konsultasi gratis, hingga negosiasi harga.
“Murah, tapi menunggu agak lama. Yang penting hasilnya berkualitas,” ujar pria pemilik lapak patri dan sepuh emas itu.
Pria itu mulai bekerja. Pada Lombok Post ia memperkalkan diri dengan nama Boh. “Tulis itu saja,” ujarnya seraya mengulum senyum.
Suaranya datar. Lebih ke tenang. Walau kemudian dalam ceritanya lebih banyak menceritakan beratnya tantangan menjadi tukang partri sekaligus tukang sepuh emas sekian lamanya.
“Saya kelahiran 1963,” ujarnya.
Kakinya bergerak-gerak naik turun. Memompa angin untuk alat patrinya. Boh menyebut alat itu: kipas.
Sementara tangannya bergerak telaten. Mendidihkan sebuah cairan di atas mangkuk kecil. Mencelup-celupkan di atas larutan khusus.
“Hanya larutan potasium,” sebutnya.
Ada empat bejana yang disiapkan. Di dalamnya terdapat air dan juga ada yang berisi larutan potasium tadi.
Bergiliran cin-cin perak itu dicelupkan. Dan sesaat kemudian, cin-cin perak yang tadinya terlihat kusam dan penuh daki, berubah bersih cemerlang.
“Sudah (jadi),” katanya.
Prosesnya terlihat sederhana. Tapi sesungguhnya membutuhkan keahlian. Dari kerja itu,.Boh yang kini telah memiliki empat orang cucu bisa menyekolahkan anak-anaknya.
“Ya kadang ramai, kadang sepi. Tapi sekarang-sekarang ini lebih banyak sepinya,” ungkapnya.
Hanya Boh dan dua rekan yang lapaknnya berdampingan mulai bekerja sepagi itu. Tukang sepuh emas yang lain, mungkin belum mau datang membuka lapaknya. Saat ini permintaan sepuh emas sedang sepi-sepinya.
Boh sendiri bingung mengapa permintaan sepuh emas turun. Seharusnya semakin banyak karena penduduk semakin padat. Kepemilikian perhiasan emas, seharunya semakin banyak. Bukankah begitu?
“Apa mungkin ke tempat yang lain ya?” ujarnya tapi lebih terkesan bertanya.
Saat-saat ramai sepuh emas, pendapatan bisa berkali-kali lipat. Ia bisa membawa pulang ratusan ribu rupiah setiap harinya untuk anak istri di rumah.
“Kalau pas sepi seperti sekarang, ya kadang habis buat beli kopi. Dapatnya Rp 40-50 ribu, nanti beli kopi, belum bayar ini itu, ya habis,” gerutunya.
Namun inilah usaha. Ia sadar betul kadang roda di atas dan kadang di bawah. Hari ini mungkin bisa jadi sepi. Tapi besok, lusa, seminggu, atau sebulan lagi, ada kalanya ramai.
“Ya disyukuri saja, orang jual baju atau usaha apapapun kan begitu juga,” ujar pria yang telah bertahan 28 tahun menjadi tukang patri dan sepuh emas di pasar Cakra itu.
Alasan itu juga yang membuat sepertinya Boh dan teman-teman seprofesinya yang lain enggan mengganti meja kerjanya yang terlihat kuno itu. Bagaimana tidak, meja itu menghitam oleh debu yang menempel lama. Bertumpuk-tumpuk.
Meski begitu di atas meja itu, berserak logam-logam mulia seperti emas yang dikerjakan dengan penuh kehati-hatian.
“Yang penting (meja dan kursinya) masih kuat,” ujarnya sembari tertawa ringan. **
Editor : Marthadi