KOREA Selatan tentunya. Di Korea Utara tak ada K-pop. Negeri Kim Jong Un melarang K-Pop.
Penulis yang lahir di era tahun 80-an membayangkan ada di tengah anak-anak muda ini seperti di Mars. Di mana alien mengelilingi dengan sorak-sorai dan ritus tarian yang membuat kepala migrain.
Ini hanya perumpaan. Dengan maksud yang sama bisa juga dibalik. Penulis adalah alien dan anak-anak itu manusia bumi yang kegirangan mendapati alien yang naif.
"K-Pop Sqad Lombok ini dibentuk tahun 2012," tutur pendiri sekaligus ketua K-Pop Squad Lombok (KSL) Andini Dhea Monica atau akrab disapa Dea, Minggu (17/9).
Dara 26 tahun yang penuh ledakan. Ekspresif dan enerjik. Setidaknya, tergambar dari warna rambutnya yang pirang. Atau dari suaranya yang melengking -- lebih ke menjerit. Namun kalem dan lembut ketika diajak ngobrol.
KSL terus eksis hingga kini. Itu artinya 11 tahun, Dea menahkodai komunitas ini. Ia telah melampaui jabatan dua periode.
Namun posisinya tak tergantikan hingga kini. "Ada enam orang pendiri dan saya salah satunya," tuturnya.
Mandat jadi ketua itu diterima begitu saja. Pencapaian Dea, sukses menggelar puluhan event tanpa modal. Menghimpun,
2 ribuan pengikut di media sosial. "Dan, memperkaya cafe tempat kami buat event," celetuknya. Nadanya serius. Tapi terdengar lucu.
Definisi memperkaya tentu saja bukan memberi sumbangan. Itu cuma seloroh.
Kenyataanya, anak-anak pemuja K-Pop ini cerdas-cerdas dan tahu bisnis. Tahu bagaimana mengelola simbiosis mutualisme.
Pihak cafe menyediakan panggung, sound, dan banner. Maka, puluhan bahkan ratusan anggota KSL berduyun-duyun datang memesan makanan dan minuman di sana. Jadi KSL fun, cafe cuan.
"Itu jadi tiketnya. Cukup beli makan dan minuman di cafe dan kita bisa dance cover, bernyanyi, lomba, dan have fun," tuturnya.
Di KSL bergabung fandom atau fans berat berbagai boyband ataupun girlband. Sebut saja ada Ateez, BTS, Stray Kid, Seventeen, Tomorrow X Together, Enhypen, NCT Dream, Big Bang, dan banyak lagi lainnya.
"Kegiatan kami kalau event ada dance cover dan lagu, fashion, bahkan kalau lagi bulan puasa kita ada kegiatan ngabuburit bareng," tuturnya.
Anak-anak kaya aksi. Mereka dapat menghabiskan waktu bersama dengan saling memperlihatkan merchandise resmi milik grup K-Pop idolanya. album, photocard, photobook, light stick, poster, kalender, gantungan kunci, kasing HP dan phone holder, pakaian, stationery, toys and game, botol minuman, hingga payung.
Harga, merchandise yang dipamerkan juga beragam. Dari ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah per item.
"Ada yang Rp 50 ribu, Rp 250 ribu, Rp 700 ribu, bahkan ada yang sampai jutaan rupiah," tuturnya.
Meski begitu, NCL selalu sukses mengumpulkan para pecinta K-Pop se NTB. Menikmati kegembiraan sekalipun fandom dari boyband atau girlband berbeda.
"Ketika kami berkegiatan, selalu rame. Saya juga tidak tahu dari mana saja mereka datang, tetapi kalau NCL membuat event selalu sukses," tutur gadis lulusan SMA 7 Mataram ini.
Dea sadar di antara fandom, muncul persaingan. Bahkan, acap kali saling cibir hingga di luar batas kewajaran. Tetapi sekali lagi NCL selalu berhasil, menjadikan perbedaan sebagai perekat.
"Semua ingin jadi leader, semua mau tampil di depan, semua merasa idol merekalah yang paling oke, tapi di NCL kita bisa bersama," tuturnya senang.
Hanya saja, Dea harus mengungkapkan satu kekecewaannya. Ini tentang penyelenggara yang nol pemahaman apa itu perkumpulan penggemar K-Pop.
"Saya pernah lihat ada lomba, tapi jurinya ternyata manajer-manajer mereka yang nggak ngerti apa itu K-Pop," sesalnya sedih. (bersambung)
Editor : Rury Anjas Andita