SEORANG pria berkemeja putih. Sorot matanya, setenang langkahnya. Menghampiri, lalu menjulurkan tangan dengan penuh wibawa.
"Saya I Nengah Sudarita," sapanya pada Lombok Post, Selasa (19/9).
Seketika ruangan hening VIP room RRI bergema. Memantulkan suara percakapan kami berdua. Membuka-buka lagi, cerita dahulu kala. Ketika Radio Republik Indonesia atau RRI berada di masa jaya-jayanya.
"Ada juga yang menyebut saya Nengah Sudarita 'sudah baca berita'," celetuknya, berkelakar.
Di balik gesturnya yang kalem dan tenang, ternyata Nengah Sudarita menyukai humor-humor kecil yang mencairkan suasana. Jadilah bincang siang itu, sesekali pecah oleh tawa-tawa ringan kami berdua.
Nengah Sudarita, salah satu penyiar radio senior milik RRI. Suaranya berat, berwibawa, tegas, namun konstan dengan cepat membuat siapa saja deja vu ke era di bawah 80-an.
Era di mana penulis pernah merasakan bagaimana RRI menjadi satu-satunya saluran radio yang paling 'bermartabat' dari sisi konten kala itu. Isinya -- seingat penulis -- seputar siaran program pembangunan pemerintah, berita, lagu nasional, kalaupun ada ada hiburan palingan cuma musik keroncong.
Suara Nengah Sudarita mengalun tenang. Artikulasi kata perkata yang teratur. Sekilas berbincang dengannya seperti tengah mendengar radio panasonic dengan batu batre ABC berwana kuning. Batu baterai yang bagian pangkalnya telah ditumbuk berkali-kali.
"Saya daftar PNS pada tahun 1985," katanya memulai kisah.
Nengah Sudarita sebenarnya tak pernah bercita-cita menjadi penyiar radio. Ia hanya berpikir harus segera mendapatkan pekerjaan. Lalu mendaftarkan diri ke Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) sebagai pengangguran.
"Kita mendaftarkan diri sebagai pengangguran ke Depnaker," tuturnya.
Selanjutnya, Depnaker yang melakukan pemetaan. Kompetensi apa yang sesuai untuk setiap pengangguran di negeri ini. Begitu cara negara dulu, memperhatikan nasib rakyatnya.
"Ternyata setelah proses panjang tes, mulai administrasi hingga wawancara penyeleksi saat itu bilang saya cocoknya kerja jadi penyiar RRI," katanya.
Sebanyak 90 orang pendaftar. Tetapi yang diterima 9 orang sebagai PNS. 3 orang menjadi penyiar, 3 orang menjadi reporter, dan 3 orang di bagian tata usaha.
Nengah Sudarita, tertegun. Memikirkan apa yang dikatakan penyeleksi itu. Tetapi kemudian ayah dari empat orang anak namun tiga di antaranya meninggal dunia ini, akhirnya menerima tawaran kerja jadi penyair.
"Ingatan saya langsung terbawa pada saat kelas 5 SD," kenangnya.
Ia tidak mengira, suaranya yang aneh di telinga kebanyakan teman SD-nya, justru menjadi kelebihan dan membawanya ke karir penyiaran yang membanggakan.
"Saat kelas 5 SD itu, jakun saya tumbuh dan suara saya (yang khas anak-anak), berubah ngebass seperti orang dewasa. Saya sempat minder bahkan malu dengan suara saya sendiri. Teman-teman juga ngeledek," tuturnya.
Namun, sekalipun lamaran diterima dan dianggap pantas menjadi penyiar radio, bukan berarti Nengah Sudarita langsung boleh siaran. Kesuksesannya menjuarai lomba pidato saat masih anak-anak, bukan jaminan untuk memegang mic RRI yang sakral.
"Saya diterima di RRI Denpasar, sebelum akhirnya pindah ke RRI Mataram ini. Saat itu belum ada pro 1, pro 2, dan pro 3, masih satu kanal saja," jelasnya.
Nengah Sudarita harus menjalani training selama 3 bulan. Suaranya yang ngebass dilatih agar terdengar berwibawa dan tegas. "Supaya lebih berkarakter," ujar pria yang mengidolakan penyiar radio RRI era 70-an Sazli Rais ini.
Hasratnya yang ingin mencoba keagungan dan kedahsyatan mic RRI yang mampu menghipnotis rakyat Indonesia harus dipendam berbulan-bulan. Zaman di mana stasiun radio masih bisa dihitung jari, sebelum meledak jumlahnya di era tahun 90-an sampai tahun 2000-an.
"Setiap hari latihan vokal A-I-U-E-O, saja. Sampai bosan. Latihan berulang-ulang itu, supaya tidak ada kesalahan dalam siaran. Pokoknya kita ditekankan zero mistake, nol kesalahan," katanya.
Terjawab sudah alasan para pemirsa RRI di tahun 80-an ke bawah sangat jarang mendengar penyiar keliru atau salah mengucapkan kata atau kalimat. "Kalaupun ada kekeliruan maka kita mengoreksi dengan kalimat 'maksud kami', tapi itu tidak boleh sering-sering," jelasnya.
Jangan bandingkan dengan penyiar saat ini yang berulang kali salah bicara. Bahkan masih bisa ketawa-ketiwi.
Setelah 3 bulan, Nengah Sudarita pun boleh memegang dan menggunakan mic RRI yang sakral itu. Tetapi hanya boleh menjadi penyiar yang membawakan acara selanjutnya. Belum boleh membawakan berita.
Sampai akhirnya, waktu yang dinanti tiba. Nengah Sudarita telah menunggu sekitar setengah tahun lamanya. "Setelah enam bulan baru boleh bawa berita, itu bangganya luar biasa. Tapi kalau penyiar sekarang begitu diterima sudah bisa bawa acara dan berita," bandingnya. (bersambung)