SIARAN radio Bola. Kenangan ekslusif milik mereka yang lahir di tahun 90-an ke bawah. Memori yang manis nan indah.
"Itu namanya teather of mind," kata I Nengah Sudarita.
Lampu minyak menempel di tembok. Di meja tua, radio besar dengan tenaga dari baterai ABC warna kuning keemasan dinyalakan.
Sesaat kemudian, suara penyiar naik turun. Menceritakan -- tanpa henti -- semua hal yang terjadi di lapangan bola.
Penonton, nomor punggung, wasit, umpan pendek atau lambung, crossing, sliding tendangan bebas, tendangan pinalti, ekspresi pelatih yang marah, hingga bendera corner tak luput dikisahkan.
Timeline cerita ke mana bola bergerak. Walaupun sekali waktu dipermanis dengan laporan yang terjadi dari balik tribun penonton.
"Jadi semua kita reportasekan, apa yang kita lihat di lapangan," tuturnya.
Pendengar radio mendengar dengan seksama. Wajah berubah tegang, tetapi sesaat kemudian berubah ceria. Nafas tertahan, lalu memburu kencang.
"Jadi hanya melalui suara-suara, kita membuat pendengar radio seakan-akan berada di dalam lapangan bola," jelasnya.
Itu pengalaman yang sangat hebat. Tak mungkin terlupa oleh generasi 90-an ke bawah. Apalagi kalau bicara tentang sandiwara radio Saur Sepuh, Tutur Tinular, Babad Tanah Leluhur, Mahkota Mayangkara, dan sederet sandiwara populer lainnya.
"Suara Ferry Fadli sebagai Arya Kamandanu atau Brama Kumbara yang gagah dan berwibawa membuat imajinasi kita membayangkan sosok yang tampan, rupawan, bertubuh kekar, dan sakti mandraguna. Padahal kalau lihat langsung Ferry Fadli orangnya kecil dan kurus," ujarnya.
Pengalaman Nengah Sudarita lebih hebat lagi. Saat dipercaya menyiarkan pertandingan bulu tangkis.
"Semua gerakan dalam permainan bulu tangkis harus diketahui, smash, drop shot, neting, drive," tuturnya.
Kecepatan reportase juga harus diimbangi dengan laju bola. Berbeda dengan sepak bola, bulu tangkis punya speed gerakan bola yang lebih tinggi dan intens.
"Maka bicara juga harus cepat, menceritakan apa yang terjadi pada kedua pemain. Tetapi kalau sedang lambat, maka harus bisa improvisasi," terangnya.
Penonton pada dasarnya perlu laporan yang detail. Maklum radio hanya memunculkan suara penyiar. Sedangkan gambar muncul di dalam imajinasi pendengar.
"Yang penting adalah bagaimana membangun perasaan pendengar," jelasnya tentang ukuran keberhasilan dari reportase.
Jangan tanya soal bangga atau tidak. Jelas Nengah Sudarita merasakan puncak ketenaran dengan pencapaiannya kala itu sebagai reporter bola. Tanpa teks, tanpa hapalan. Mengalir seperti cerita yang nampak di lapangan.
Sedangkan juta telinga mendengar dengan setia setiap kata yang diucapkannya.
"Menjadi reporter bola atau oleh raga itu adalah pencapaian luar biasa sebagai penyiar RRI," ungkapnya.
Kepada Lombok Post, Nengah Sudarita mengungkapkan satu rahasia. Rahasia yang sangat penting. Kunci dari segala ketenaran penyiar radio di masa dulu.
Tapi ini dulu. Bukan sekarang. Sekarang sudah tidak ampuh lagi. Rahasia ini menjadi kunci membuat pendengar radio tak bisa berpaling dari penyiar favoritnya.
Rahasia itu adalah menyembunyikan identitas penyiar rapat-rapat. "Saat siaran kita menggunakan nama udara, seperti misalnya saya menggunakan nama udara Esdarita," bebernya.
Pada penyiar akan membangun kesepakatan. Nanti jika sewaktu-waktu ada penggemar yang datang ke studio, maka mereka harus kompak saling menyembunyikan identitas.
"Pokoknya, kalau penggemar datang lalu mencari nama udara salah satu penyiar, maka yang lain dengan kompak akan menyembunyikan identitas temannya. Entah dengan bilang penyiar yang dicari keluar, beli makan, atau pulang, padahal yang dicari ada di sana," ungkapnya sembari tersenyum.
Sebenarnya cara ini bukan bermaksud mengabaikan penggemar. Justru ini adalah cara terbaik untuk menjaga nikmatnya menjadi seorang penggemar.
Sekali lagi, bukan penyiar tak ingin bertemu dengan penggemarnya. Bukan pula tak menghargai orang yang mencintai suara mereka yang telah berjuang datang jauh-jauh.
"Tapi inilah cara menjaga teather of mind itu tetap ada di benak pendengar. Dengan terus menjaga rasa penasaran dan ingin tahu, ada di dalam dirinya. Sebab kalau mereka sudah tahu orangnya dan ternyata antara suara dan penampilannya jauh beda, maka selesai sudah teater of mind itu," jelasnya.
Ada banyak karakter penggemar yang dihadapi, hasil dari membangun teater of mind. Dari yang sekadar ingin tahu saja, sampai ada yang tergila-gila. Tak bisa nyenyak tidur hanya karena suara penyiar.
Ketika, penyiarnya tak siaran satu hari karena sakit atau berhalangan lainnya, pendengar seperti seorang kekasih yang kehilangan belahan jiwanya.
"Tetapi sekarang teather of mind sudah tidak ada lagi. Penyiar masa kini dengan bangganya memamerkan dirinya ke khalayak. Nama udara hanya sekedar penghias saat siaran saja," bandingnya. (bersambung)