Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

RRI Mataram Mengarungi Zaman: Antara Kenangan hingga Harapan (bagian 4)

Miq Ade • Selasa, 26 September 2023 | 07:35 WIB
Salah satu mobil siaran keliling RRI yang terparkir di depan kantor RRI.
Salah satu mobil siaran keliling RRI yang terparkir di depan kantor RRI.

 



NENGAH Sudarita menarik nafas. Ia telah menyaksikan perjalanan radio satu-satunya yang berhak menyandang nama negara itu: Republik Indonesia. 


Sejak masa jaya di mana RRI satu-satunya lembaga yang menyampaikan informasi di negeri ini. "Masa one way station," kenangnya dengan suara menekan. 


Tetapi kini, tantangan demikian sengit. Cenderung ke brutal. Pertarungan pun menjadi sangat berat. Tetapi RRI tetap berupaya eksis. 


"Sekarang ini konten is the king!" ujarnya. 


Orang sudah tidak peduli lagi dengan nama besar media. Tidak silau lagi dengan sejarah yang melahirkannya. "Kalau kontennya menarik, publik akan ke sana," ungkapnya. 


RRI tidak bisa lagi bertahan dengan nama besar. Kompetisi demikian sengit. Pilihannya: diam tergilas atau bangkit dan bersinar. 


Era digital ini mereset segala perjuangan, nama besar, dan kemewahan yang telah didapat semua media. "Itulah yang saya ajarkan ke anak-anak (karyawan baru), agak pacu kreativitas. Terus, produksi sebanyak-banyaknya konten yang berkualitas dan semenariknya," tekan pria lulusan S1 Ilmu Komunikasi ini.


Di tengah keinginan bangkit sebagai media penyalur informasi terbaik melalui radio, terbersit syukur RRI ingin menjadi referensi di NTB. Khususnya konten-konten religinya. 


"Syukurnya kita masih sangat kuat di siaran agama," ungkap pria tiga bersaudara ini. 


Khususnya saat menyiarkan konten agama Islam di waktu subuh dan magrib. "Termasuk juga saat Ramadan," imbuhnya. 


Bulan Ramadan. Bulan penuh berkah. Hanya bulan itu saja yang mampu mengembalikan kejayaan RRI seperti dulu lagi. 


"Saya sering terharu kalau saat bulan Ramadan," ungkapnya. 


Bagaimana tidak, RRI seperti bangkit dari tidur. Menguasai seluruh ruang. Masjid-masjid seantero NTB, spikernya memancarluaskan siaran RRI. Hingga ke pelosok-pelosok. 


"Dan saya sering bicara dengan masyarakat, mereka bilang belum lengkap rasanya berbuka puasa, kalau belum mendengar azan dari RRI," tuturnya. 


Ini bagian yang paling sulit diungkapkan Nengah Sudarita. Bagaimana rasa syukur sekaligus bangga memenuhi seluruh rongga dadanya. "Aduh, saya tidak bisa berkata-kata lagi kalau tentang ini, walaupun saya non-muslim," ungkapnya haru. 


Ia telah bergabung sejak RRI masih jadi jawara di negeri ini. Menjadi satu-satunya media penyampai informasi di seluruh pelosok negeri. 


Lalu seiring perkembangan zaman, RRI menyaksikan satu persatu 'anak teknologi' lahir. "Pertama dulu ada telepon," kenangnya. 


Namun dengan telepon, RRI berhasil menyatukan diri sebagai alat berinteraksi dengan pendengar. Berikutnya, hadir layanan Short Massage Service (SMS). "Kami pun berupaya mengiringi kehadiran SMS dengan menjadikan alat berinteraksi dengan pendengar kami," paparnya. 


Teknologi kembali melahirkan 'anaknya' yang lain berupa teknologi multi-platform. 'Anak' yang mampu memangkas jarak, ruang, dan waktu untuk berinteraksi. "Lalu menyingkirkan banyak media konvensional," ujarnya. 


Tetapi khusus saat bulan Ramadan, RRI berdiri di atas ganasnya dunia digital itu. Menjadi jawara di udara dan selalu di nanti-nanti mengabarkan -- paling tidak -- waktu berbuka dan imsak. 


Saat Ramadan, Nengah Sudarita dibuat deja vu. Melihat bagaimana konten RRI dipancarluaskan dan menjadi raja di udara NTB seperti masa dulu. "Tidak semua daerah RRI berjaya seperti ini, selain di NTB juga di Aceh," terangnya. 


Sebagai penghargaan atas itu semua, pihaknya terus berinovasi. Lebih spesifik pada konten religi. "Ya kita perbanyak konten religi," jelasnya. 


RRI ditegaskannya ingin terus eksis di semua masa dan zaman. "Oleh dosen saya bilang, RRI ini adalah anak kandung dari teknologi, oleh karenanya ke mana ibunya (baca: teknologi) berkembang, ke arah sana RRI berjalan," ujarnya.


Maka bila melihat studio RRI saat ini, dikembangkan sejumlah studio yang disesuaikan dengan perkembangan multi-platform. "Contohnya kami ada podcast. Kami bukan ingin meninggalkan radio, tetapi istilahnya ini adalah show window, atau jendela lain melihat RRI yang tetap bersiaran radio," paparnya. 


Sekalipun perkembangan teknologi sangat sengit. Berupaya menyingkirkan eksistensi media konvensional. Namun, ia punya keyakinan radio tak akan tergantikan. 


"Sekarang dikembangkan Artificial Intelligence atau AI, tapi kami tetap yakin radio dan mereka yang berada di belakangnya tidak akan tergantikan. Sebab AI tidak punya soul, sedangkan kami punya. Jadi radio never die," optimisnya. 


Radio RRI telah melewati perjalanan yang sangat panjang. Dan tak ada cita-cita menghentikan perjalanan itu sampai di sini. "Kami akan terus berjalan," tekannya. 


Bagaimanapun RRI telah berperan besar dalam sejarah bangsa. Nengah Sudarita juga yakin negara tidak akan pernah menghapus RRI. "RRI ini terima kasih sejarah, karenanya tidak pernah dihapus oleh pemerintah. RRI lah yang menyiarkan proklamasi dulu," ujarnya. (bersambung)








Editor : Redaksi Lombok Post
#digital #radio #Mataram #rri #Media