Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

RRI Mataram Mengarungi Zaman: Antara Kenangan hingga Harapan (bagian 5)

Miq Ade • Rabu, 27 September 2023 | 08:35 WIB
Yanto Prawironegoro
Yanto Prawironegoro

 


PRIA yang ramah. Senyumnya lebar menyapa. Di depannya sepiring pisang goreng menebar aroma harum seisi ruangan. 


"Gimana-gimana mas," sapanya ramah. Tangannya terjulur mempersilakan duduk di kursi kosong.


Nama pria itu Yanto Prawironegoro. Pria lulusan magister hukum itu adalah Kepala RRI Mataram. Siang itu, ia punya waktu luang berbagi cerita pada Lombok Post.


"Kita memang harus mengakui persaingan media saat ini sangat ketat," ujarnya. Raut wajahnya seketika berubah. Tenang dan bijaksana. 


"Ini zaman teknologi serba canggih," imbuhnya. 


Tergambar jelas beban tanggung jawab besar di pundaknya. RRI Mataram tidak boleh mati apalagi terlindas zaman. 


Sebagai nakhoda radio berstatus Lembaga Penyiaran Publik (LPP), tugasnya memastikan eksistensi RRI. Apa jadinya sebuah perusahaan plat merah yang beroperasi di bidang penyiaran tapi tak ada satupun publik yang mengetahuinya? 


Yanto tak ingin ironi itu menimpa RRI Mataram. Maka ia terus mencari ide dan gagasan agar RRI tetap eksis. Tak peduli sekeras apapun zaman mencoba menyingkirkan radio.


Yanto sadar sengitnya tantangan yang dihadapi RRI. "Perkembangan teknologi sangat luar biasa. Radio secara umum mengalami segmentasi pendengar yang turun," ungkapnya jujur. 


Teknologi digital membawa setiap orang menginginkan sesuatu yang lebih simpel dan mudah diakses. Semudah mereka menjentikkan jari di layar smartphone.


Saat ini tidak mungkin lagi berharap ada orang sukarela menenteng radio berbaterai ke mana-mana. Tidak mungkin pula membuat orang-orang berkumpul, mengelilingi radio yang tengah menyiarkan siaran bola. 


Zaman telah berubah dan semua itu tinggal kenangan. "Kita mempelajari pasar, maka kitalah yang harus mengikuti kemauan pasar. RRI tengah bertransformasi besar-besaran ke digital," ujarnya. 


Transformasi ini baru langkah awal. Di alam digital, telah menunggu jutaan media dan konten kreator siap bertarung dengan media penyiaran tertua ini. 


Menu online dan digital telah disiapkan, bukan berarti publik 'bleg' tumpah ke RRI. Yanto menyadari semua itu dengan sangat baik. 


"Bukan cuma siaran mengandalkan jaringan terestrial atau jaringan pemancar, kita bertransformasi mengikuti perkembangan zaman, kita ikuti permainan era internet ini, kita punya podcast, YouTube, Tiktok, intinya semua lini kita masuki. Tetapi tantangan tidak selesai sampai di sini," ungkapnya.


Transformasi ini berhasil membuat RRI eksis. Tetapi belum sempurna mengembalikan masa-masa jaya yang dulu. "Kami bisa eksis, ini yang harus kami syukuri dulu," ujarnya. 


Langkah berikutnya, tentu memproduksi konten-konten yang berkualitas. Kemudian memancarluaskannya melalui jaringan-jaringan terestrial dan internet. 


"Kami juga yakin masih ada ruang-ruang yang bisa dimasuki RRI seperti masyarakat yang tinggal di pesisir pantai yang belum dijangkau internet," ujarnya. 


Di balik keinginan meluaskan jangkauan, menembus batas-batas blank spot, Yanto meyakini akan datang masa di mana media mainstream kembali menjadi raja di negeri ini. Keyakinan itu tanda-tandanya terlihat dari publik yang mulai hati-hati menyerap informasi.


"Sebelum era digital kita menghadapi situasi sulit mendapatkan informasi, saat ini kita menghadapi era banjir informasi. Tetapi sebenarnya yang kita butuhkan itu bukan informasi yang sedikit atau banyak, melainkan informasi yang kredibel," tekannya. 


Yanto mengatakan, hanya media mainstream yang bisa memberikan informasi kredibel. Sebelum menyampaikan informasi telah melalui proses keredaksian sebelum disebarluaskan ke publik. 


"Jadi ini bukan banyak atau sedikit informasi, tetapi soal trust atau kepercayaan publik terhadap sebuah informasi," tegasnya. 


Mimpi Yanto ke depan, RRI harus mampu menjadi salah satu media verifikasi di tengah banjir informasi saat ini. "Cita-cita saya, orang kelak mengatakan belum lengkap rasanya menerima informasi sebelum mendengar RRI. Sama seperti azan magrib saat puasa yang belum lengkap sebelum RRI mengumandangkan," ungkapnya. 


Kepercayaan itu hanya akan menjadi milik media kredibel. Media yang ketat dan selektif terhadap informasi yang dikeluarkan. "Tidak hoax, tetapi selalu menyampaikan informasi valid. Ini memang butuh kerja keras dan kesabaran. Sehingga kepercayaan masyarakat bisa kita dapatkan," paparnya. 


Kerja-kerja redaksional adalah tradisi yang tak pernah ditinggalkan. Aturan kerja yang terus dijaga. "Ini yang akan menjadi kerja-kerja kami di RRI dan saya rasa juga teman-teman di Lombok Post sesama media mainstream. Di situ letak kesahihan kita sebagai media," tegasnya. 


Alasan ini pula yang membuat Yanto tak pernah gentar dengan munculnya Artifisial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Sekalipun teknologi canggih memungkinkan memproduksi informasi dengan cepat dan kilat. 


Namun AI tidak akan pernah bisa melakukan kerja-kerja kualitas yang melibatkan tanggung jawab. 


"AI tidak bisa menyeleksi apakah sebuah informasi itu berbahaya atau tidak bisa disebarluaskan," tekannya. (bersambung)


 

Editor : Redaksi Lombok Post
#digital #radio #Mataram #rri #lpp