”Semua itu terdata di aplikasi Pendekar Serasi (Penanganan Dini Emergency, Kuratif, Rehabilitasi, Stroke Terintegrasi),” kata Direktur RSUD Kota Mataram dr Hj Eka Nurhayati.
Saat ini, penanganan dilakukan secara intens. Proses kontrol-nya bisa dilakukan melalui aplikasi Pendekar Serasi. ”Yang terdaftar melalui aplikasi itu sudah mendapatkan perawatan,” kata dia.
Penyakit stroke tidak seluruhnya ditangani dengan rawat inap. Sebagian besar mereka harus menjalani rawat jalan. ”Untuk mempermudah itu kita membuat aplikasi pendekar serasi,” kata dia.
Aplikasi tersebut sudah disosialisasikan ke seluruh dokter dan rumah sakit di Kota Mataram. Tidak hanya itu, pihaknya sudah menyosialisasikan ke kader-kader PKK seluruh puskesmas.
”Jadi, jika ada pasien yang mengalami gejala stroke bisa langsung ditangani,” ujarnya.
Prosesnya, bisa mengakses pendaftaran melalui aplikasi tersebut. Jika ada masyarakat yang memiliki gejala stroke, nantinya bisa memencet tombol emergency pada aplikasi tersebut setelah mendaftar. ”Dengan begitu, proses penanganannya bisa lebih cepat,” ujarnya.
Penanganan yang masih menderita gejala bisa lebih cepat bakal mengurangi dampak resiko. Sebab, penyakit stroke dapat menyebabkan penderitanya cacat bahkan kematian. "Jika penanganannya lebih cepat, pasien bisa terhindar dari cacat atau kematian,” ungkapnya.
Aplikasi tersebut terintegrasi juga dengan PSC 119. Petugas akan langsung melakukan penjemputan. ”Dengan begitu, tim penanganan stroke dari IGD, radiologi, dan dokter sudah langsung disiapkan. Sehingga, penanganannya lebih cepat,” kata dia.
Menurutnya, penanganan stroke harus lebih cepat. Jangan sampai lebih dari 4,5 jam. ”Jika lebih, konsekuensinya bisa mengakibatkan cacat bahkan bisa menyebabkan kematian,” bebernya.
Dia meminta kepada masyarakat jika memiliki keluarga memiliki gejala penyakit stroke bisa langsung mengunduh aplikasi Pendekar Serasi. Tujuannya, untuk membantu proses penanganan. ”Aplikasi ini bisa diakses semua orang,” kata dia.
Dokter Eka menjelaskan, aplikasi tersebut sudah dibentuk sejak 2018 lalu. Namun, saat itu kurang sosialisasi, sehingga yang terdata hanya empat orang.
”Tetapi setelah kami masifkan proses sosialisasi, pasien semakin meningkat. Sekarang sudah ada 226 orang yang tercatat dalam aplikasi,” kata dia.
Penyebab penyakit stroke sebagian besar dikarenakan penyakit jantung. Sehingga, masyarakat perlu juga mengecek jantungnya secara berkala.
”Kalau orang yang penyakit jantung rentan terkena stroke. Kalau ada gejala-gejala harus cepat datang ke dokter,” imbaunya. (arl/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post