Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Masjid Jalan Cahaya: Terinspirasi Musala yang Mampu Santuni 1 Juta Yatim

Miq Ade • Rabu, 11 Oktober 2023 | 11:00 WIB
Peserta talkshow gerakan Masjid Jalan Cahaya kompak menyalakan lampu smartphonenya.
Peserta talkshow gerakan Masjid Jalan Cahaya kompak menyalakan lampu smartphonenya.
 
 
LombokPost--INI cerita beberapa tahun lalu. Sebelum Pandemi Covid-19 menyerang. Dikisahkan ulang oleh Khusnul khatimah. 
 
Saat itu ia dan beberapa sahabatnya tengah berkumpul. "Kami masing-masing membawa uang yang disisihkan dari pendapatan kami," tuturnya. 
 
Itu bukan uang arisan. Bukan pula untuk makan-makan atau rekreasi. Mereka bersepakat menggunakannya membeli sesuatu yang bermanfaat bagi anak yatim. 
 
"Jadi sekali waktu, kami sering ketemuan dengan teman-teman, kemudian biar lebih seru kita pilih ke tempat anak yatim, sambil bawa jajan untuk diberikan pada mereka," kisahnya. 
 
Kegiatan sosial itu rutin dilakukan Khusnul dan teman-temannya. Mendatangi kantong-kantong anak yatim dan berbagi sebisanya. 
 
Mereka bahagia melakukan semua itu. "Ada kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, begitu juga yang dirasakan teman-teman lainnya," ujarnya. 
 
Tetapi Pandemi Covid-19 datang. Berapa di antara teman Khusnul harus fokus memulihkan ekonomi akibat dampak Pandemi. "Kami juga memutuskan membatasi aktivitas karena khawatir terpapar (virus)," kisahnya. 
 
Selama Pandemi, kegiatan beralih ke dunia digital. "Yang banyak kan kegiatan online," ujarnya. 
 
Sampai suatu ketika, suaminya yang biasa disapa kak Wawan dari 'Kerajaan Dongeng' tertarik mengikuti pelatihan Masjid Berdaya secara daring. "Kegiatan itu selama 6 bulan dengan 20 kali pertemuan, suami saya berinisiatif ikut. Katanya 'siapa tahu dapat ilmu bermanfaat untuk memakmurkan masjid'," ujarnya. 
 
Selama pelatihan, ada satu hal yang berkesan di pikiran suaminya. "Jadi dalam pelatihan itu, ada dicontohkan sebuah masjid tapi bentuknya lebih mirip Musalla karena sangat sederhana. Yang mengejutkan, walaupun sederhana masjid itu setiap bulan mampu mencukupi pangan untuk sekitar 1 juta anak yatim," tuturnya. 
 
Contoh itu membuat ia dan suaminya kebingungan bagaimana cara kerjanya. "Kita kayak konslet otak mikir, itu bagaimana caranya," ungkapnya.  
 
Pelatihan itu memberikan rumus cara kerjanya. Bagaimana mengupayakan agar fisik bangunan masjid tidak membatasi luasnya manfaat yang diberikan.  
 
"Sejak itu kami tergerak, mulai rutin melakukan kegiatan sosial. Namanya saja baru selesai ikut pelatihan, jadi kami sangat termotivasi ingin mempraktikkannya," kisahnya. 
 
Kala itu aksi sosial Khusnul, suaminya, dan teman-temanya dengan membawa brand Kerajaan Dongeng. Setiap ada bantuan yang disampaikan ke masyarakat selalu mengatakan datangnya dari Kerajaan Dongeng. 
 
"Tapi banyak yang bingung. Mereka tidak tahu apa itu kerajaan dongeng," ujarnya.
 
Khusnul dan suaminya percaya 'perbuatan yang baik selalu melibatkan campur tangan Tuhan'. Keyakinan itu tak pernah menyurutkan Khusnul, suaminya, dan teman-tekannya untuk terus berbuat kebaikan. 
 
"Walaupun kami antar beras ke pondok banyak yang nggak nyambung kerajaan dongeng itu apa, tapi kami terus saja," terangnya. 
 
Menamai gerakan menjadi 'Masjid Jalan Cahaya' inspirasinya justru datang belakangan. Setelah aksi sosial sudah banyak menyasar pondok pesantren dan anak yatim. 
 
"Setiap kekurangan dalam event atau kegiatan sosial, kami anggap sebagai biaya untuk belajar membuat event dan kegiatan sosial yang lebih baik," ujarnya. 
 
Sampai tercetuslah ide mengganti nama gerakan sosial tidak lagi menggunakan brand kerajaan dongeng tetapi Masjid Jalan Cahaya.  "Nama masjid terinspirasi dari nama pelatihan yang diikuti suami saya yakni masjid berdaya itu," terangnya. 
 
Sedangkan 'jalan cahaya' dari ucapan yang sering dilontarkan suaminya ketika memberi pelatihan. "Suami saya trainer, sering bilang go for light-go for light. Dari situ tiba-tiba muncul Masjid Jalan Cahaya, walaupun kami belum punya masjid," terangnya seraya tersenyum. 
 
Nama Masjid Jalan Cahaya sama sekali tidak pernah terpikirkan di awal. Semua mengalir natural, bersamaan dengan padatnya kegiatan sosial, keilmuan, dan event. 
 
Gerakan masjid tanpa masjid. Menggambarkan bagaimana gerakan Masjid Jalan Cahaya terus berikhtiar menebar kebaikan. 
 
"Semoga apa yang kami lakukan ini berkontribusi membawa lebih banyak orang untuk kembali ke masjid, membaca Alquran, dan kembali pada Allah," harapnya. 
 
Khusnul mengatakan, misi gerakan ini tak mengharuskan setiap orang bergabung dalam gerakan. "Minimal setiap orang dapat memakmurkan masjid di lingkungannya dan menyantuni anak yatim, semoga kami jadi influencer kebaikan," ujarnya. 
 
Ia mencontohkan bagaimana seorang sahabat di media sosial yang berada di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau terinsipirasi dan mulai membuat gerakan yang sama. "Teman itu bilang ke saya akan membangun sebuah masjid di tanah kosong miliknya. Dan akan memakmurkannya dengan kegiatan seperti di Masjid Jalan Cahaya, tentu saja itu kabar yang sangat membahagiakan bagi kami," ungkapnya. 
 
Khusnul mengatakan gerakan ini baru ada di Lombok. Berdiri tahun 2021 tetapi lupa kapan pastinya dinamai. Gerakan ini tersambung dalam SIDAQ (Surgakan Indonesia dengan Alquran). 
 
"SIDAQ ini diinisiasi oleh KH Adi Pratama Larisindo yang juga guru kami," ujarnya. 
 
Keinginan besar membumikan peran masjid juga tidak terlepas dari motivasi yang diberikan sang guru. "Guru kami bilang 'jangan pernah menunggu sempurna untuk berbuat baik, tapi berbuatlah nanti Tuhan yang menyempurnakan'," ujarnya. (*)
 
Editor : Kimda Farida
#Musalla #masjid #Kerajaan dongeng #yatim #Pandemi Covid-19 #Masjid Jalan Cahaya