LombokPost-Di tahun 2024, Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram mengalokasikan anggaran Rp 5 miliar untuk menekan jumlah pengangguran di ibu kota. Anggaran tersebut untuk menyiapkan sejumlah, namun secara umumnya diarahkan untuk peningkatan life skil warga untuk memasuki dunia kerja.
Sekda Kota Mataram Lalu Alwan Basri berharap anggaran ini berkontribusi nyata menekan angka pengangguran. "Anggarannya kita persiapkan untuk tahun 2024," kata Alwan, Rabu (18/10).
Sebagai gambaran, jumlah pengangguran di ibu kota berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2022 sebanyak 15.420 orang. Ada penambahan sebanyak 1.900 pengangguran dari jumlah pengangguran di tahun 2021.
Penambahan diakibatkan oleh Pandemi Covid-19. Kala itu, banyak perusahaan yang merumahkan karyawannya, bahkan ada yang sampai gulung tikar.
Situasi itu membuat warga kota yang tadinya terdata sebagai pekerja, akhirnya masuk dalam kantong pengangguran. Oleh karenanya, penyiapan anggaran Rp 5 miliar diharapkan kembali menekankan jumlah pengangguran ibu kota yang naik di tahun 2022 ini.
Alwan mengatakan, anggaran itu akan diformulasikan dalam bentuk sejumlah program. "Penurunan angka pengangguran akan dilaksanakan melalui intervensi beberapa kegiatan," jelasnya.
Antara lain, pendidikan dan pelatihan keterampilan bagi pencari kerja berdasarkan kluster kompetensi dan pelaksanaan konsultasi produktivitas pada perusahaan kecil. Berikutnya penguatan hubungan industrial. "Dalam rangka pengupahan dan pencegahan perselisihan hubungan industrial," ujarnya.
Terapat sejumlah pelatihan yang disiapkan bagi para pencari kerja. Disesuaikan dengan bidang yang diminati. Seperti misalnya pelatihan menjadi barista, barber shop, dan lain sebagainya.
Peserta pelatihan tidak hanya dibekali teori. Tetapi praktik lapangan untuk menguji tingkat pemahaman para pencari kerja terhdap materi yang disampaikan. Di samping itu pemberian bantuan peralatan sesuai dengan jenis pelatihan yang diikutinya.
Anggaran untuk menekan pengangguran tersebut disebar ke sejumlah OPD. Meliputi dinas tenaga kerja; dinas perindustrian, koperasi dan UMKM; serta dinas sosial.
"Ini akan menjadi kerja bersama sejumlah OPD teknis, dengan harapan anggaran yang kita siapkan bisa secara optimal mengurangi jumlah pengangguran ibu kota," tegasnya.
Sementara itu, salah seorang warga bernama Muhammad Lahmudin asal Dasan Agung, Kota Mataram memilih membuka warung di kawasan PKL sisi barat jalan Islamic Center. Sebelum membuka usaha itu ia menjadi tour guide.
"Karena covid, wisatawan luar negeri tidak ada yang bisa masuk sedangkan perusahaan tidak bisa lagi menggaji karyawan," katanya menceritakan alasan tidak lagi bekerja sebagai tour guide.
Perusahaan tempatnya bekerja dulu melayani jasa tour wisata untuk wisatawan asal Korea. Namun pada saat Pandemi Covid-19 wisatawan luar negeri khususnya dari Korea tidak ada lagi yang masuk ke Indonesia.
"Karena sudah lama juga tidak pernah dipraktikan (bahasa asing) jadi tumpul, makanya lebih nyaman berjualan warung saja," ungkapnya sembari tersenyum, saat ditanya apakah masih bisa bahasa Korea.
Pendapatan dengan berjualan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Alhamdulillah bisa tetap terpenuhi kebutuhan sehari-hari, walaupun tidak banyak tapi berkah," ujarnya. (zad)