Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ikan Nila Melimpah di Pengempel Indah, Dewan Mataram : Pakan Ikan Diperoleh dengan Mudah

Miq Ade • Senin, 23 Oktober 2023 | 12:02 WIB

Ikan nila yang terjaring di kolam Mina Jaya, Pengempel Indah, Sandubaya, Kota Mataram.
Ikan nila yang terjaring di kolam Mina Jaya, Pengempel Indah, Sandubaya, Kota Mataram.
  

LombokPost-Budidaya ikan Mina Jaya, Pengempel Indah, Sandubaya, Kota Mataram membuktikan ekonomi sirkular dapat mendatangkan keuntungan berlipat. Secara istilah ekonomi sirkular memiliki arti pertumbuhan ekonomi dengan mempertahankan nilai produk, bahan, dan sumber selama mungkin serta meminimalisir kerusakan sosial dan lingkungan.

Pada praktik ekonomi sirkular di budidaya ikan Mina Jaya, pembudidaya sukses memanfaatkan sampah untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan. “Dari sampah itu kami membudidaya magot, kemudian magot-magot itu yang kami jadikan sebagai pakan ikan,” kata pemilik kolam ikan Mina Jaya H Supoyo.

Ia punya beberapa kolam ikan. Setiap semester atau enam bulan sekali, Supoyo bisa panen 4-5 kwintal ikan nila.

“Kalau persoalan pakan ikan sudah bisa kami atasi dengan magot, karena biaya produksi magot tidak terlalu besar,” ujarnya.

Tetapi tantangan yang dihadapi tidak mudah. Supoyo mengatakan, saat panen para pembudidaya harus berjibaku dengan harga pasar yang tidak stabil.

“Kita berharap ada intervensi pemerintah untuk membantu agar harga ikan lebih stabil,” harapnya. 

Ia menunjukkan rak besar tempat membudidaya magot. Rak-rak itu dipenuhi ulat magot dan sampah sebagai bahan makanannya.

Supoyo adalah pembudidaya ikan nila pertama di Pengempel Indah. Sebelum akhirnya, warga lain ikut dan kini menjamur sekitar 23 kolam ikan di Pengempel Indah. 

“Orang mungkin belum banyak yang tahu, kami di sini punya kolam ikan dan sangat siap melayani pembelian dalam bentuk ecer atau jumlah besar,” ujarnya.

Kualitas ikan dengan menggunakan pakan magot juga lebih baik. Baik dari sisi berat ataupun kecepatan tumbuh kembang ikan.

“Saat tahun baru atau hari besar banyak yang datang untuk membeli ikan ke sini,” ujarnya.

Begitu pula dari sisi harga, Supoyo menjamin harganya sangat kompetitif di banding tempat lain. Sejauh pengalaman melayani pembeli, mereka selalu kembali dengan menyampaikan cerita kepuasannya.

Ketua Komisi 2 Bidang Perekonomian DPRD Kota Mataram Herman mengatakan ekonomi sirkular yang tumbuh di Pengempel Indah harus didukung pemerintah. “Bukankah ini yang diharapkan pemerintah, bagaimana mengatasi sampah ibu kota dan kita melihat di sini pembudidaya bahkan sering kesulitan mendapatkan sampah untuk makanan magot-magotnya,” katanya.

Sampah termakan magot, selanjutnya magot dijadikan makanan ikan nila. Penjualan ikan nila mendatangkan keuntungan ekonomi bagi pembudidaya. “Ini luar biasa sekali,” pujinya.

Herman berkeyakinan, Pengempel Indah ke depan akan tumbuh menjadi kawasan sentra ikan air tawar baru. “Saat ini mungkin kawasan Sayang-sayang atau Cakranegara masih yang tertinggi (untuk transaksi ikan air tawar), tapi kita akan mendorong agar kawasan Sandubaya ini juga tumbuh, sehingga menjadi lebih baik lagi,” harapnya.

Konsep ekonomi sirkular yang sedang dipraktikkan pembudidaya ikan di Pengempel Indah sangat layak untuk dijadikan pusat wisata edukasi. “Kalau OPD teknis berkolaborasi untuk mengintervensi pengembangan ekonomi sirkular di sini, maka di tempat ini akan menjadi tempat yang terbaik untuk wisata edukasi,” ulasnya.

Bukan hayalan berlebihan untuk menjadikan Pengempel Indah sebagai pusat ekonomi sirkular. Tidak hanya karena alasan budidaya ikan sudah berjalan baik, tetapi juga strategis karena kawasan itu menjadi yang pertama menerima aliran air dari daerah subur Narmada, Lombok Barat. “Di samping itu Pengempel Indah adalah sisi paling timur Kota Mataram dan menjadi wajah di muka bagi orang yang ingin datang ke Kota Mataram,” ujarnya.

Pemerintah akan didorong agar melahirkan UMKM hilirisasi dari budaya ikan itu. Seperti misalnya, abon ikan, krupuk ikan, rumah makan dengan menu ikan bakar, dan lain sebagainya.

“Keberadaan rest area yang akan dibangun pemerintah nanti, saya kira harus diisi dengan UMKM hilirisasi budaya ikan ini,” pungkasnya. (zad)

Editor : Redaksi Lombok Post
#UMKM #sirkular #budidaya #sampah #Sandubaya #magot #ikan #air tawar #pemerintah #Ekonomi #Mataram #hilirisasi