LombokPost--Jalanan ibu kota semakin riuh dan padat. Di jam-jam tertentu kemacetan dengan mudah terjadi dengan intensitas yang semakin tinggi.
Berbagai jenis kendaraan mengular panjang dan setiap tahun deretan semakin panjang. “Memang belum seperti Jakarta atau Denpasar, tapi kalau kita tidak segera cari solusi kita pasti akan ke arah sana,” ujar Ketua Komisi 3 Bidang Infrastruktur Kota Mataram I Gede Wiska, Rabu (29/11).
Kemacetan dengan mudah bisa ditebak penyebabnya. Ada kontribusi ledakan penduduk, hingga perumahan yang semakin padat.
Berikutnya, Kota Mataram sebagai kawasan metropolitan telah memancing banyak orang berdatangan. Datang dengan berbagai urusan, dari jasa hingga perdagangan.
“Belum lagi, sekarang orang dengan mudah membeli kendaraan, roda dua, tiga, dan empat,” ujarnya.
Ragam ide mengurai kemacetan telah dicoba. Tapi belum ada yang konsisten mengurai masalah. Ide demi ide tenggelam seiring ketiadaan anggaran melanjutkan program.
“Memang kita butuh solusi yang lebih permanen,” ujar politisi PDI Perjuangan ini.
Ide yang tak lagi terdengar yakni Bus Rapid Transit (BRT). Bus-bus besar berwarna biru itu tidak pernah mengaspal mengangkut anak sekolah seperti ide awal.
Konsep mengolaborasikan BRT dengan angkutan kota (angkot) sebagai feeder atau pengumpan juga tidak berjalan. Oleh karena itu, Wiska meminta pemkot menyiapkan skema penanganan kemacetan lebih permanen.
“Harus ada terobosan, saya kira kita tidak bisa terus menyalahkan persoalan hanya karena kita tidak mampu mencari solusi efektif,” paparnya.
Bila perlu berlakukan aturan yang lebih ketat dan tegas. Mengatur pemicu kepadatan jalan seperti aktivitas perkantoran dan anak sekolah wajib menggunakan angkutan masal.
Terpisah, Kepala Bidang Pengendalian dan Operasional, Dinas Perhubungan Kota Mataram Arif Rahman, mengatakan penyebab kemacetan ibu kota karena banyak hal. Mulai dari belum rapinya tata parkir, rendahnya kesadaran masyarakat menggunakan angkutan massal, egoisnya para pengendara, kota sebagai pusat aktivitas jasa dan perdagangan, ledakan penduduk dan pembangunan, dan lain sebagainya.
“Jadi ini masalah yang kompleks,” ujarnya.
Akibatnya, beberapa titik jalan mengalami kemacetan parah. “Seperti di simpang tiga Dakota, simpang empat Ummat, dan hampir semua simpang jalan utama terjadi peningkatan volume kendaraan,” paparnya.
Hanya saja, menurut Arif, kemacetan masih di jam-jam tertentu. Tidak seperti di kota besar seperti Jakarta yang baru terurai saat malam hari saja.
“Kemacetan juga akibat banyak pihak yang menggelar event-event tetapi tidak berkoordinasi dengan kami,” sesalnya.
Belum lagi kendaraan terparkir menumpuk di bahu dan separo badan jalan. “Sementara masyarakat kita tidak terlalu suka kendaraan umum,” ungkapnya.
Kendaraan massal seperti bemo dan sejenisnya sudah lama ditinggalkan. “Sejak ekonomi masyarakat sudah mapan dan mampu membeli kendaraan sendiri,” katanya.
Namun demikian, pihaknya terus berupaya menertibkan pengguna jalan raya. “Kolaborasi kami dengan kepolisian sangat bagus untuk membantu mengurai kemacetan di jam-jam tertentu,” pungkasnya. (zad)
Editor : Kimda Farida