Mereka akan melobi pemerintah pusat untuk mencari anggarannya.
Relokasi pasar diharapkan tidak hanya menjadikan pasar tradisional ditata dengan konsep yang lebih rapi tetapi juga berbasis wisata.
“Kita ingin memadukan antara pasar tradisional dengan lokasi wisata,” kata Sekda Kota Mataram Lalu Alwan Basri.
Gagasan mengawinkan antara pasar tradisional dengan lokasi wisata ini ide maju dalam relokasi dan penataan pasar.
Di Indonesia jumlah pasar tradisional yang juga menjadi lokasi wisata belum banyak.
Aspek higienis dan karakteristik yang kuat adalah modal utama membangun pasar ini. Seperti Pasar Seni Sukawati, Bali; Pasar Klewer, Solo; Pasar Bringharjo, Jogjakarta; Pasar Apung, Banjarmasin; dan sejumlah pasar lainnya.
Pasar-pasar itu memiliki karakteristik keunikan dan keunggulan masing-masing.
Pemkot Mataram telah melobi langsung ke pemerintah pusat dengan harapan mendapat intervensi anggaran pembangunan.
“Kami telah mendatangi Kementerian Perdagangan dan Bappenas,” ucapnya.
Alasan relokasi pasar Kebon Roek juga diungkapkan karena sudah tidak representatif lagi.
Areal pasar dianggap tidak mampu lagi menampung aktivitas pedagang dan pembeli.
Di jam-jam tertentu kemacetan terjadi di jalan raya samping pasar.
“Jumlah pedagang yang terus bertambah, semakin hari semakin banyak,” jelasnya.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram Uun Pujianto mengatakan, usulan anggaran pada pemerintah pusat untuk relokasi dan membangun pasar baru mencapai Rp 150 miliar.
Anggaran tersebut telah memperhitungkan aspek penataan pasar berbasis pariwisata.
“Kami tengah berupaya memastikan usulan ini dapat disetujui,” ucapnya.
Usulan terhadap relokasi pasar Kebon Roek ini sebenarnya telah disampaikan sejak tahun lalu. Saat itu anggaran relokasi di kisaran angka Rp 125 miliar.
Perubahan usulan anggaran tahun ini dikarenakan adanya revisi pada kenaikan harga barang dan jasa.
Uun Pujianto berharap usulan ini segera mendapat jawaban yang positif.
“Semoga usulan dapat terakomodir,” harapnya.
Uun mengatakan, keseriusan pemerintah merelokasi Pasar Kebon Roek dengan telah menyiapkan lahan seluas 3 hektare (ha). Lokasi lahan seperti disebutkan di atas berada di Kebon Talo.
Lokasi lahan tersebut tak jauh dari lahan yang juga direncanakan untuk pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kebon Talo.
Lokasi yang bersebelahan diharapkan memudahkan pengintegrasian keduanya sehingga aspek lingkungan tetap terjaga dengan baik.
“Sehingga pengolahan sampah pasar lebih efektif dan efisien,” paparnya.
Uun menjelaskan alasan pasar tersebut ditata sebagai pasar wisata karena diuntungkan oleh keberadaan lokasi di jalur wisata Mataram-Senggigi.
“Letak yang strategis ini yang menjadi alasan kita ingin menjadikannya sebagai lokasi wisata,” paparnya. (zad/r3)
Editor : Marthadi