Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah Wulan, Teka-teki Penyebab Gangguan Penglihatan hingga Cita-cita Bahagiakan Orang Tua

Miq Ade • Rabu, 3 April 2024 | 09:00 WIB
IBADAH: Pelajar di Yayasan Tunanetra Almahsyar, SLB A YPTN Mataram, tengah melakukan tadarus menggunakan Alquran Braille.
IBADAH: Pelajar di Yayasan Tunanetra Almahsyar, SLB A YPTN Mataram, tengah melakukan tadarus menggunakan Alquran Braille.

Keterbatasan fisik tak menghalangi mereka membuat cita-cita. Sambil tetap mengharapkan tuntunan dari Sang Maha Pencipta.  

 -------

HUJAN deras perlahan mereda. Saat Lombok Post memasuki gerbang masuk Yayasan Tunanetra Almahsyar, SLB A YPTN Mataram suasana lengang menyapa.

Di halaman depan sisi selatan truk warna merah terparkir. Di bak truk tertulis “Pelita Harapan”. Mengingatkan pada orkes musik legendaris yang sangat populer era 70-80 an. Bahkan kepopulerannya masih terasa hingga awal tahun 90-an.

Di halaman areal asrama, seorang bocah masih asyik bermain genangan air sisa hujan. Sementara itu, kedatangan Lombok Post menarik perhatian anak perempuan berjilbab putih. Namanya Farida.

“Pak kepala sekolah sudah pulang,” katanya.

Ia duduk di berugaq. Tangannya memegang erat botol sampo. Gadis perempuan itu, menanyakan keperluan Lombok Post berkunjung.

Hiruk pikuk tak terdengar sebagaimana lazimnya asrama yang diisi banyak orang. Kecuali bising kendaraan dari arah jalan raya.

Sejumlah pria dan wanita berjalan tegap menyusuri guding block berwarna kuning. Tanpa kata-kata. Hanya ketika berpapasan baru terdengar teguran singkat.

“Kalau yang bisa ngaji dengan huruf braille ada. Banyak. Salah satunya teman saya, Wulan,” kata Farida sambil terus memainkan tutup botol sampo.

Di tengah berbincang santai, kepala Farida menoleh ke samping. Tangannya menunjuk seseorang.

“Itu Wulan,” ucapnya.

Unik sekali. Farida mengaku alami gangguan penglihatan tapi ia hafal betul seseorang yang melintas tak jauh dari kami itu Wulan.

“Wulan, sini!” serunya. 

Wanita yang tengah melintas tak jauh dari kami berhenti. Lalu menyahut nyaring.

“Saya mau mandi ini,” balasnya. 

“Sini sebentar,” timpal Farida, nadanya menekan.

Sri Wulan Oktaviani nama lengkapnya. Gadis 18 tahun itu akhirnya melangkah mendekat ke arah kami.

Gadis tuna netra berjilbab abu itu berucap tak bisa berlama-lama karena waktu Ashar sudah tiba. “Mau mandi, salat, setelah itu ngaji,” ujarnya, lalu perlahan duduk di berugaq.

Wulan saat ini duduk di kelas V SLB. Matanya mengalami gangguan saat ia baru duduk di kelas II SD.

“Sebelumnya dari TK sampai di kelas II masih bisa melihat normal,” katanya.

Ia tidak tahu persis apa penyebab matanya tidak bisa melihat normal.  “Tiba-tiba saja seperti ini, kaget,” tuturnya.

Namun Wulan mengatakan, dulu terlalu sering melihat matahari. Ia tidak menjelaskan apakah yang dimaksud melihat matahari langsung dengan mata telanjang, serta untuk apa melakukan hal berbahaya itu.

“Mata saya jadi sakit,” ujarnya, pelan. 

Sejak itu orang tuanya membawanya ke tempat ini. Mereka datang mengunjungi ketika bekalnya telah menipis. “Seminggu sekali datang ke sini (ayah dan ibu),” terangnya. 

Gadis asal Dasan Lekong, Lombok Tengah itu tidak tahu apakah penglihatannya bisa pulih seperti sedia kala atau tidak. “Andai saja saya bisa melihat lagi,” lirihnya.

Namun cita-cita Wulan tetap menyala. “Saya ingin jadi guru,” jawabnya mantap.

Wulan telah melewati beberapa kali Ramadan di tempat tersebut. Jauh dari orang tua dan sanak keluarga.

Di setiap Ramadan -- termasuk saat ini -- ia memperbanyak ibadah. Berdoa agar kehidupan yang tengah dijalaninya adalah jalan menuju kesuksesan.

Sebagaimana remaja lainnya, Wulan ingin membuat orang tuanya bangga. “Iya (semoga bisa),” ucapnya pendek.

Wulan mengatakan, sepuluh hari menjelang akhir Ramadan adalah waktu favoritnya. Ia memperbanyak ibadah salat, ngaji atau tadarus, dan belajar.

Seperti umat muslim lainnya, ia merindukan bertemu dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan: Lailatul Qadr. Malam turunnya hikmah yang mendalam sebagai pegangan hidup meniti kehidupan, mengejar mimpi jadi anak yang dibanggakan.

“(Ngaji dan belajar) pakai huruf braille, alhamdulillah bisa,” pungkasnya. (*)

 

Editor : Hidayatul Wathoni
#ramadan #matahari #salat #tuna netra #Mataram #Ngaji #SLB #Ibadah