LombokPost--Disparitas muncul antara anak-anak yang tinggal di perkampungan dengan perumahan. Disparitas atau kesenjangan ini, khususnya untuk tempat bermain mereka.
Wakil Ketua DPRD Kota Mataram Nyayu Ernawati, mengatakan persoalan ini harus menjadi fokus selanjunya bagi pemerintah. Agar tumbuh kembang anak-anak yang ada di seluruh wilayah perkotaan merata.
“Itulah yang saya sampaikan sejak dulu, pembangunan jangan hanya sekadar mengejar proyek, tetapi perhatikan juga dampaknya bagi anak-anak,” katanya pada Lombok Post, Jumat (19/4).
Ia mencontohkan seperti fasilitas bermain di ruang terbuka hijau yang dibangun pemerintah. Fasilitas itu tidak lagi menarik karena kondisinya banyak yang rusak.
“Coba lihat fasilitas bermain anak yang di (RTH( Udayana atau pantai Ampenan, kondisinya rusak karena tidak terurus,” ucapnya.
Catatan berikutnya, berbagai fasilitas yang dibuat itu terlalu sederhana. Tidak bisa menampung kreativitas dan daya imajinasi anak.
“Jangan cuma, tamplete ayunan, jungkat-jungkit. Anak-anak cepat bosan. Coba pikirkan fasilitas yang out of the box, tapi aman dan mengakomodir kreativitas dan daya imajinasi anak,” dorongnya.
Tidak mengherankan, banyak anak-anak yang tinggal di perkampungan akhirnya mencari tempat bermain lain. “Yang menurut merka seru, padahal itu mungkin berbahaya bagi keselamatannya,” ucapnya.
Kebutuhan tempat bermain ini, dipersulit lagi dengan menyempitnya lahan kosong. Seharusnya gencarnya pembangunan, diimbangi dengan hak-hak anak yang terjamin.
“Pemerintah harus mengecek perumahan atau pengembang, apakah telah menyediakan fasilitas umum bermain atau tidak. Jangan sampai hal ini diabaikan,” tekannya.
Erna menekankan anak-anak dunianya adalah bermain. Hal ini mengharuskan pemerintah wajib bertanggung jawab dengan menyediakan fasilitas bermain yang layak.
“Tidak hanya bagi anak-anak normal, fasilitas bagi anak berkebutuhan khusus juga wajib disediakan,” tekannya.
Sementara itu, Kepala Bappeda Kota Mataram M Ramayoga mengatakan, disparitas di segala bidang tengah berupaya dientaskan pemerintah. Termasuk pemerataan ketersediaan fasilitas bermain bagi anak.
“Agar anak-anak perkotaan, bisa tumbuh kembang dan mendapatkan perhatian yang sama dari pemerintah,” katanya.
Namun, ia enggan mendikotomi fasilitas antara anak-anak yang tinggal di kawasan perumahan dengan perkampungan. Ia lebih memilih diksi ‘lingkungan’ karena menurutnya sebagai kawasan perkotaan, tidak dikenal istilah kampung di kawasan perkotaan.
“Mungkin tidak tepat kita sebut anak-anak kampung, karena (nomenklatur) yang kita kenal di sini adalah lingkungan. Terdapat 325 lingkungan di Kota Mataram, jadi semua adalah anak-anak yang harus kita perhatikan,” ucap pria ramah ini.
Sebagai langkah meminimalisir kesenjangan pertumbuhan anak, pemerintah menggagas fasilitas pendidikan berbasis inklusi. Fasilitas ini rencananya dibangun merata di semua kecamatan.
“Sudah kita resmikan di kecamatan Selaparang, nantinya akan menyusul di lima kecamatan lainnya,” ucapnya.
Selain itu saat ini tengah disusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) 2025-2029. Yoga memastikan, isu yang menyangkut kesenjangan anak, baik itu pendidikan, ekonomi, kesehatan, menjadi prioritas yang masuk di dalamnya.
“Target pembangunan sesuai dengan indikatornya,” paparnya.
Yoga kembali menekankan, tidak ada disparitas antara anak yang tumbuh di lingkungan dengan kawasan perumahan. Mereka semua dapat mengakses fasilitas bermain yang disiapkan pemerintah.
“Dan akan kita usahakan perbanyak fasilitasnya, agar pemerataan semakin luas,” ucapnya.
Skat antara warga yang tinggal di perumahan dengan lingkungan dibuka. Tujuannya agar semua anak-anak kota dapat tubuh bersama-sama.
“Misalnya perumahan di Jempong sudah menyatu dengan lingkungan yang sudah ada di sana. Begitu juga di Dasan Agung, Karang Bedil, hampir pasti kesenjangan dalam mengakses fasilitas yang disediakan pemerintah tidak ada,” ucapnya.
Dari aspek pemerataan fasilitas, masih belum sesuai harapan. Namun Yoga menekankan, komitmen pemerintah memperluas fasilitas untuk mendukung tumbuh kembang anak-anak perkotaan.
“Belum ada survei spesifik mengenai kesenjangan anak-anak dalam bermain. Kita fokus selama ini pada kesenjangan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (zad)
Editor : Hidayatul Wathoni