Menara masjid dengan mudah terlihat jika memasuki kawasan Sekarbela. Kemegahannya terlihat, sekalipun pembangunnya belum tuntas.
---
RINTIK hujan di waktu Asar. Menurunkan suhu panas seharian.
Beberapa pria berjubah muncul dari gang sempit. Melangkah cepat, seiring iqamat bergema dari pengeras suara masjid.
Pria-pria berjubah menyapa ramah. Wajah segar menyelipakan senyum. Mengajak bersama-sama salat Asar berjamaah.
Seorang jamaah tergopoh. Nyaris bertubrukan dengan koran ini.
“Maaf, silakan,” ucapnya. Tersenyum.
Di dalam masjid udara semakin sejuk. Hembusan angin menerpa badan dari penyegar udara yang terpasang di sudut-sudut ruangan masjid.
“Allahhu Akbar!”
Takbiratul ihram menggema. Suasana berubah hening.
Jamaah menghadapkan hati dan pikiran pada Sang Pencipta. Larut dalam ibadah yang nikmat hingga salam penutup salat.
Seorang warga menghampiri. Menyapa dan mengajak berbincang. “Tinggi menaranya sekitar 120 meter,” tutur pria yang bernama Maksud.
Maksud tinggal tak jauh dari Masjid Al Mustafa. Setiap hari ia menyaksikan, masjid itu tak pernah sepi dari salat berjamaah.
Masjid itu terletak di tengah pemukiman warga. Saat waktu salat tiba, warga dengan kesadaran masing-masing, mengurangi suara-suara yang dapat mengakibatkan kebisingan.
“Tetap ramai (walau banyak masjid di kawasan itu). Masjid ini masuk (lingkungan) Pesinggahan, kecamatan Mataram. Yang itu (menunjuk kubah masjid) masuk ke kecamatan Sekarbela,” terangnya.
Meski ada tiga masjid yang letaknya berdekatan, namun tetap ramai oleh jamaah yang memakmurkannya. Seperti sore kemarin, sekitar 40-an jamaah salat berjamaah di masjid Al Mustafa.
Saat ini pembangunan sedang terhenti. “Masih cari tukang,” terangnya.
Bagian tersulit dari pembangunan masjid adalah penuntasan pembangunan menaranya. Maksud mengatakan, masjid itu dirancang punya dua menara yang sama tingginya.
Hanya saja, baru satu menara yang dibangun hingga mencapai 120 meter. Sedangkan menara satunya lagi, baru terbangun dasar menara.
Sempat ada kekhawatiran dengan menara yang terlalu tinggi. Tapi gempa 2018 silam, menunjukkan betapa kokohnya rangka dasar menara.
“Saat gempa, tidak terjadi apa-apa,” terangnya.
Yang rontok oleh gempa saat itu hanya beberapa ornamen dinding. Selebihnya masjid, mampu melalui guncangan hebat gempa.
Menara masjid dirancang enam tingkat. Harapannya, puncak menara dapat dijadikan lokasi pemantauan hilal menjelang bulan Ramadan.
Namun, saat ini belum tersedia tangga untuk menaikinya. “(Anggaran pembangunan masjid) dari sumbangan warga,” terangnya.
Di bagian dalam masjid ornamen dinding dipenuhi pahatan dan ukiran kayu. Suasananya yang nyaman, membuat jamaah betah beribadah. Berlama-lama. (*)
Editor : Kimda Farida