Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kiprah Nyayu Ernawati, Sosok Kartini dari Ampenan

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 25 April 2024 | 19:30 WIB

SOSOK INSPRIATIF: Nyayu Ernawati memperlihatkan foto tokoh yang menginspirasinya seperti, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Ketua DPD PDI Perjuangan NTB H Rachmat Hidayat dan keluarga.
SOSOK INSPRIATIF: Nyayu Ernawati memperlihatkan foto tokoh yang menginspirasinya seperti, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Ketua DPD PDI Perjuangan NTB H Rachmat Hidayat dan keluarga.

Sepenggal kisah perjalan hidup dan perjuangan Nyayu Ernawati. Dipandang sebelah mata, berjuang demi harkat dan martabat wanita, hingga kini menduduki jabatan wakil ketua di DPRD kota.

-----

RUANGAN yang sejuk. Tercium aroma pengharum menyegarkan suasana.

Perempuan bersemangat itu baru saja selesai menjamu sejawatnya dari pulau seberang: Sumbawa. Wajahnya masih mengguratkan senyum seperti biasa.

Tak tersirat wajah lelah. Sekalipun hari sudah siang, tamu silih berganti, berkonsultasi, atau sekedar bersua kata. Melepas rindu.

“Tunggu sebentar ya, mbak salat (Zuhur) dulu,” ucapnya pada Lombok Post.

Susana kembali hening. Di meja terhampar makanan khas bulan Syawal. Ada beberapa kotak nasi. Sekali lagi menegaskan, Nyayu Ernawati telah menjamu tamu-tamunya. Sebaik-baiknya.

Siang itu, Erna, begitu koran ini akrab menyapnya meluangkan waktu berbincang. Edisi khusus hari Kartini yang jatuh pada 21 April kemarin, memilihnya sebagai tokoh inspiratif.

“Mau apa, kopi? Kopi ya,” ucapnya menawari, tapi terdengar tak memberi pilihan. Gelak tawa pecah mengawali perbincangan.

Erna, meletakkan gawai di atas meja. Ia menyeka sisa air wudlu yang masih membasahi dahinya.

Memperbaiki tempat duduk. Ia sudah siap. Ditanya-tanya.

Koran ini mengawali pertanyaan dengan masa kecilnya. Menanyakan satu pertanyaan menggelitik: sejak kapan Erna mulai berani bersuara lantang?

“Dulu saya anak yang disayangi dan dimanja,” tuturnya memulai kisah.

Dulu yang dimaksud Erna adalah ketika kedua orang tuanya masih lengkap. Mending ayahnya H Ki Agus Muhammad Yusuf dan ibudanya yang seorang mualaf bernama asli Anak Agung Ayu Manik Ermaningsih.

Tetapi saat usianya 12 tahun, kepiluan itu menghampiri keluarga kecilnya. Ayahnya wafat.

Ayahnya meninggalkan ia yang masih duduk di kelas 5 SD dan lima kakaknya. Yang tertua duduk di kelas 3 SMA.

“Sejak saat itu perlakuan orang di sekitar mulai berubah,” lirihnya.

Suaranya berubah serak. Matanya berkaca-kaca. Erna enggan menyebut siapa ‘oang sekitar’ dimaksud.

Orang sekitar itu, ketika mendiang ayahnya masih hidup memperlakukannya dengan baik. Memanjakannya.

“Setelah ayah wafat mereka mulai berubah. Saat itu saya berpikir ‘oh jadi begini rasanya jadi anak yatim’,” lirihnya. Kali ini Erna tak bisa membedung kesedihannya. Air matanya tumpah.

Ia sedih orang-orang yang begitu disayangi itu berubah. Mengapa saat ia butuh sebanyak-banyaknya teman untuk menegarkan hatinya, justru menjauhinya.

Apalagi di enam bersaudara, ia sendiri perempuan. Paling bungsu pula.

Ia masih membutuhkan kasih sayang orang-orang sekitar. Tapi mengapa mereka berubah?

“Entahlah,” lirihnya.

Sejak saat itu, Erna mengatakan alam bawah sadarnya seperti mendorong untuk berani berteriak. Berucap apa yang menurutnya tidak adil dan diprotes nuraninya.

Ia memprotes apa yang menurutnya tidak adil dan tidak masuk akal. DNA bicara lantang itu, ia warisi dari mendiang ayahnya.

“Beliau seorang tokoh Golkar,” ungkapnya.

Ayahnya bernama Ki Agus Muhammad Yusuf. Sezaman dengan tokoh-tokoh hebat Golkar di eranya, seperti Mantan Ketua DPRD NTB Lalu Mesir Suryadi dan Mantan Wali Kota Mataram H Muhammad Ruslan yang juga ayah dari Wali Kota Mataram saat ini H Mohan Roliskana.

Hati kecilnya yang peka dengan mudah merasakan perubahan sikap sekitarnya. Erna, memprotes seharusnya anak yatim tidak diperlakukan demikian.

Kisah hidup, Erna berlanjut dengan bagaimana ia menyaksikan perjuangan hebat ibunya yang sendirian mengurusi ke enam anak-anaknya. Menyekolahkan dengan biaya yang tidak murah.

“Ibu saya adalah sosok luar biasa yang melakukan apa saja demi masa depan kami, anak-anaknya,” lirihnya.

Ibunya pontang-panting. Mencari rezeki untuk biaya sekolah ia dan kakak-kakaknya. Sendirian.

Kerasnya perjuangan sang ibu, walau hanya perempuan biasa, membuat Erna kecil tak banyak menuntut.

“Baju seragam yang saya gunakan adalah baju bekas kakak-kakak saya, kami tidak mungkin menuntut seragam baru semua, karena pasti ibu akan keluarkan biaya banyak untuk kami berenam, belum lagi biaya-biaya yang lain,” ucapnya.

Namun seragam sisa itu yang mengantarkan Erna kecil sampai lulus sekolah. Karena itulah ia menjadi anggota dewan yang paling lantang menyuarakan larangan bagi sekolah di ibu kota mewajibkan anak-anak membeli baju seragam.

“Seragam tidak ada kaitannya dengan otak. Buktinya saya, walau memakai seragam bekas kakak-kakak saya yang laki-laki semua, saya bisa lulus,” tegasnya.

Jalan hidup Erna setelah lulus sekolah seperti anak gadis pada umumnya. Ia bekerja di kontraktor perusahan bonafit Newmont (sekarng: PT Amman Mineral Nusa Tenggara).

“Sampai suatu ketika, saya melihat perjuangan ibu Megawati Soekarnoputri melalui media, bagaimana beliau diperlakukan tidak adil oleh rezim orde baru. Memang kalau perempuan jadi pemimpin di negeri ini, salahnya apa?” wajah Erna berubah. Memerah.

Tahun itu, sekitar 1996. Peristiwa Kudatuli menimpa Megawati Sukarnoputri, membuat jiwa aktivis Erna membara.

Belum lagi, perasaannya sebagai sesama perempuan. Erna mengaku ingin berbuat sesuatu -- yang walau kecil -- tetapi berarti bagi putri sang proklamator.

“Saya mencari-cari cara, bagaimana bisa berbuat. Walaupun mungkin tidak banyak berarti. Sampai akhirnya memutuskan masuk dan bergabung dengan PDI,” kisahnya.

Erna memegang satu prinsip yang akan membuatnya menyala bila melihat ketidakadilan. “Saya meyakini, ‘Ketika kita tidak berani menyuarakan kebenaran, maka di situ kita menjadi orang yang salah’,”  ucapnya.

Erna yang awalnya tak pernah berpikir masuk dalam dunia politik, nyaman dengan gaji di sebuah perusahaan ternama, tiba-tiba merasa sangat terusik. Ia memilih melepaskan itu semua dan memasuki rimba politik.

“Saya masuk, kemudian partai memerintahkan saya nyaleg. Pada usia saya yang masih muda saat itu sekitar 25 tahun, saya terpilih menjadi anggota dewan,” ucapnya.

Di usia yang masih hijau itu, Erna bertemu dengan tokoh-tokoh hebat yang sezaman dengan ayahnya. “Ada almarhum pak H Muhammad Ruslan, pak Ahyar Abduh, pak Didi Sumardi, dan banyak tokoh hebat lainnya,” ucapnya.

Erna masih ingat bagaimana hangatnya pelukan Muhammad Ruslan padanya. Menyambutnya datang sebagai salah satu wakil rakyat sekaligus putrinya.

“Beliau (Muhammad Ruslan, Red) bilang, ‘oh ini, anak saya’ sambil memeluk saya,” tuturnya mengulangi ucapannya. 

Sambutan itu begitu berarti dan berasa di hati Erna. Setelah lama merasa kehilangan sosok ayah dan orang-orang terdekat, mereka yang berpengaruh di eranya justru menyambutnya dengan tangan terbuka.

“Saat saya terpilih jadi anggota dewan, itu tahun 1999. Karena saya termuda dan perempuan, terpilih jadi pimpinan DPRD termuda, bersama pak Lahim Watta sebagai pimpinan DPRD tertua,” ucapnya.

Tugas utama pimpinan saat itu menyiapkan pemilihan pimpinan DPRD Kota Mataram definitif. “Saya memimpin sekitar tiga bulan, bersama pak Lahim Watta,” ucapnya.

Ia ingat seorang wartawan kala itu bertanya, apa yang bisa dilakukannya sebagai anggota dewan paling muda. “Saat itu almarhum pak Kopong bertanya, apa yang akan saya lakukan di dewan, ya saya jawab ‘saya akan menyuarakan apa yang rakyat ingin suarakan’,” kenangnya.

Perjalan karir politik Erna di legilatif sempat terhenti. Ia pernah gagal terpilih di pemilu 2014.

Namun itu tak mengentikan kelantangan Erna melawan ketidakadilan. Kembali menjadi rakyat biasa, membuatnya tetep menyala menyuarakan ketidakadilan.

Di antara banyak kasus yang membelit anak dan perempuan, salah satu kasus fenomenal yang ditanganinya adalah kasus Baiq Nuril. Seorang perempuan yang dipidanakan kepala sekolah tempatnya bekerja karena merekam percakapan mesumnya.

“Saya bersama teman-teman aktivis perempuan yang hebat lainnya berusaha semampunya mendapatkan keadilan bagi Baiq Nuril,” ucapnya.

Kaus itu berujung manis dengan terbitnya amnesti dari Presiden. Sejak itu, semakin banyak orang datang meminta bantuannya.

“Termasuk saya menerima telepon dari sebuah kementerian untuk membatu menyelesaikan kasus dokter Romi yang status CPNS-nya di Sumatra Barat dibatalkan hanya karena dia seorang difabel,” ungkapnya.

Erna mengatakan, keberhasilannya tidak lepas dari keputusannya memasuki dunia politik. Di dunia itu ia bertemu dengan orang-orang hebat yang peduli pada nilai kemanusiaan.

“Ada Teh Rieke (Rike Diyah Pitaloka, Red) dan bimbingan Ketua DPD partai saya pak H Rachmat Hidayat,” ungkapnya.

Dunia politik telah meluaskan relasi tanpa batas. Hingga bisa berbuat di luar daerah yang bukan dapilnya.

“Jadi jangan keliru menilai politik. Politik itu instrumen kita berbuat baik, lihat bagaimana Teh Rieke membantu kita yang di NTB, bahkan kasus dokter Romi di Sumatra Barat,” ucapnya.

Pada pemilu 2019, takdir bicara lain. Erna yang konsisten menyuarakan kebenaran -- dengan atau tanpa jadi anggota dewan -- dipercaya kembali jadi anggota dewan. Bahkan di pemilu 2024 ini kembali terpilih lagi sebagai wakil rakyat.

“Terima kasih kepada yang mempercayakan kembali saya untuk menjalankan amanat ini,” ucapnya.

Erna memastikan, fungsi rumahnya tak pernah berubah. Rumah berarsitektur Belanda itu masih menjadi rumah aspirasi tempat rakyat mengadu. “Dan rumah bagi anak yatim untuk belajar dan mengaji,” ucapnya.

Saat ini, terdapat 54 anak yatim terayomi di rumahnya itu. Erna mengatakan bahwa, ia merasa anak-anak itu sepertinya. “Saya juga anak yatim, jadi saya tahu seperti apa yang mereka rasakan,” ucapnya dalam.

Rumah itu juga markas tempat berkumpul remaja yang memiliki kepedulian sosial tinggi. “Mereka turun, saat ada seorang nenek sakit di kampung kami tidak mampu pergi ke rumah sakit, kami yang bawa dengan mobil odong-odong saya,” ucapnya. Tersenyum.

Masih seger diingatkannya bagaimana ia sampai lupa mengenakan sandal karena panik pada keselamatan sang nenek. “Saya baru sadar setelah sampai di rumah sakit,” ucapnya terkekeh.

Kelantangan Erna dalam menyuarakan hak rakyat, tergambar pula saat ia pernah bersitegang dengan oknum anggota dewan yang ingin melemparinya dengan kursi. “Saat itu saya diabaikan dan tidak diberi hak bicara hanya karena saya dianggap masih muda dan perempuan, ya saya gebrak meja, saya bilang, ‘posisi kita sama-sama mewakiki rakyat’,” lantangnya.

Erna yang diancam, justru menantang balik. “Ayo kalau berani, saya juga berhak menyuarakan aspirasi dapil saya!” lantangnya mengulangi perkataanya saat itu.

Ia mengatakan tidak pernah takut pada siapapun. “Kecuali pada Allah dan ibu saya,” tegasnya.

Perjalanan Erna dalam politik didukung dan dibackup penuh oleh saudara-saudaranya. “Kakak-kakak saya semua pengusaha hanya saya yang berpolitik,” tuturnya.

Begitupun saat menggelar aksi ia menyebut ada saudara tertuanya Ki Agus Zulkarnain yang membentengi. “Beliau pernah jadi anggota dewan tapi akhirnya mengudurkan diri, karena merasa bukan dunianya,” ucapnya.

Kelantangan Erna juga tercermin saat mengadapi banyak kepala sekolah tingkat SMA yang kecewa karena ia menolak anak miskin dikenakan biaya sekolah setengah biaya. “Saat itu saya minta digratiskan full, banyak kepala sekolah yang tidak paham maksud saya. Saya jelaskan pada mereka bahwa ada anggaran Rp 1,6 miliar dari APBD yang akan digunakan untuk membebaskan biayanya,” ucapnya.

Lainnya lagi, ketika ia ngotot mengarahkan anggaran JPS Pandemi Covid-19 untuk UMKM lokal. Erna tidak setuju JPS itu digunakan memperkaya perusahaan-perusahaan bonafit dan mapan.

“Saat itu saya katakan, ‘kita beli produk kuping gajah atau kuping meong karya UMKM kita agar mereka sejahtera’, saat itu almarhum pak Ahyar sampai ketawa mendengar saya bilang kuping meong. Alhamdulillah akhirnya anggaran digunakan untuk membeli produk UMKM kita,” kisahnya.

Kini, usia Erna telah menginjak kepala lima. Karir politik telah membawanya ke puncak tertinggi dengan terpilih menjadi wakil ketua DPRD Kota Mataram definitif.

Saat ditanya apakah ia tertarik pada kursi kepala daerah dengan mantap Erna menyebut segalanya menjadi keputusan partai. “Kita serahkan pada partai. Apapun keputusannya di manapun kami ditempatkan, partailah yang lebih tahu di mana kami bisa bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (zad)

Editor : Kimda Farida
#Kota Mataram #Dewan #Nyayu Ernawati #politik #kartini #baiq nuril #DPRD #inspiratif #rakyat #Ampenan