LombokPost--Jalan Sehat Berkunjung ke Lingkungan (Jas Kuning) Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram kali ini berlokasi di Jempong Timur. Turut serta dalam aksi tersebut Camat Sekarbela, Lurah Jempong Baru, Kepala Puskesmas Karang Pule, Kepala Lingkungan, tim dokter, dan puluhan karyawan.
Kepala Dikes Kota Mataram dr Emirald Isfihan memimpin langsung rombongan, berkeliling pukul 07.00 Wita. Lokasi Jempong Timur dipilih karena menjadi salah satu kantong kasus balita stunting.
“Penduduknya sekitar 700 KK,” ucap Kepala Dikes dr Emirald Isfihan, Jumat (3/5).
Permasalahan yang ditemui antara lain, saluran drainase di sekitar pemukiman warga berwarna hitam pekat dan tidak mengalir. Saluran dipenuhi sampah dan sedimentasi yang lama tak pernah dikeruk.
“Kami akan berkoordinasi dengan Dinas LH supaya ada bak sampah di sini, kemudian meminta warga dipimpin pak Kaling (Kepala Lingkungan) untuk gotong-royong membersihkan saluran,” ucapnya.
Tim kemudian, bergerak menyusuri gang pemukiman. Melihat saluran besar yang membelah pemukiman.
“Ada banyak sampah yang ikut hanyut terbawa arus,” imbuhnya.
Dokter Emir kemudian berdialog dengan warga. Memberikan edukasi pentingnya bersama-sama menjaga lingkungan.
Warga tersebut mendengar dengan saksama. “Nanti di sini bisa dipasangkan jaring, supaya sampah tidak terseret dan menumpuk di hilir,” kata dokter Emir.
Tim kembali berjalan ke titik selanjutnya. Menemui seorang ibu dan balita yang tengah berjemur di bawah matahari pagi.
“Kalau dia (balitanya) sehat, Alhamdulillah. Cuma tumben lihat orang banyak,” ucap ibu balita itu menjelaskan alasan anaknya menangis.
Di sini, dokter Emir meminta Kepala Puskesmas (Kepus) Karang Pule mengatensi kebersihan lingkungan. Juga memerintahkan kader rutin mengontrol perkembangan balita yang ada di sana.
Baca Juga: Inginkan Pengelolaan Maksimal, Pasar Seni Sayang-sayang Diserahkan ke Dispar
“Nanti ini saya harapkan menjadi salah satu inovasi ibu kepus dalam penanganan persoalan kesehatan warga,” timpal dokter Emir.
Tim kembali bergerak. Menemui seorang balita yang mengalami stunting. Balita itu bernama Muhammad Alfan Ilmi.
Dari penuturan ibunya, Hayatun Nufus, gejala stunting yang dialami anaknya diketahui dari hasil pemeriksaan dokter. “Dokter bilang ada gejala stunting,” tuturnya.
Sejak itu, ia rutin membawa anaknya ke pusat layanan kesehatan. “Dua minggu sekali saya bawa ke puskesmas,” ucapnya.
Dokter Emir lalu menyerahkan bantuan makanan berprotein tinggi. Berupa telur dan susu untuk diberikan secara rutin pada balita tersebut. Tidak lupa setelahnya tim dokter memeriksa kesehatan terkini sang balita.
Tim Jas Kuning kembali bergerak menyusuri gang. Menemukan seorang balita bernama Iyad Nanda Basri yang diasuh neneknya.
Balita itu juga mengalami gejala stunting. “Ibunya bernama Sumarni dan ayahnya Khairul Basri,” tutur sang nenek.
Kedua orang tuanya mencari nafkah ke luar daerah. Tetapi jauh dari pengawasan orang tua membuat sang anak mengalami gejala stunting.
Dokter Emir kembali menyerahkan paket susu dan telur pada nenek tersebut. “Makanannya dikasihkan ke cucunya ya, jangan malah dihabiskan neneknya,” kata dokter Emir berkelakar, disambut senyum sang nenek.
Usai berkeliling, tim Jas Kuning mengumpulkan puluhan ibu-ibu bersama balitanya yang memiliki gejala stunting. Mereka kemudian diberikan nasihat untuk memperhatikan lingkungan tumbuh kembang balitanya.
“Perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS juga mempengaruhi tumbuh kembang balita,” ucap dokter Emir.
Ia mengingatkan tentang bahaya stunting yang dapat menghambat tumbuh kembang anak secara optimal. “Masa emas balita adalah di usia tiga tahun,” ucapnya.
Oleh karenanya ibu-ibu diminta rutin ke posyandu. Selain itu memperhatikan bagaimana anaknya bermain di lingkungan agar tidak terpapar virus.
“Penting memperhatikan etika meludah dan batuk agar virus tidak menyebar ke mana-mana, itu bagian dari PHBS,” tekannya.
Baca Juga: Ketua TP PKK Mataram Mbak Kikin Bawa Telur dan Susu untuk Lansia di Kampung Sembalun
Pengusaha Melibatkan Diri Tangani Stunting
Hal luar biasa terjadi dalam aksi Jas Kuning kali ini. Pengusaha yang tergabung dalam paguyuban Jawa-Madura atau Jawara mengikrarkan diri terlibat menangani stunting.
Ketua Paguyuban Jawara Andy Hadianto mengatakan, para pengusaha mengarahkan CSR untuk membuat dapur bersama. “Kami akan membuat dapur keroyok stunting,” ucapnya.
Di tahap awal, balita yang mengalami stunting akan mendapatkan makanan sehat berprotein tinggi selama tiga bulan. “Kami menargetkan 50 balita di lingkungan Jempong Timur mendapatkan program ini,” ucapnya.
Menu makanan selama tiga bulan ini diharapkan berdampak pula terhadap perilaku atau kebiasaan orang tua asuh merawat putra-putrinya. “Kami ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan,” ucapnya.
Sementara itu, dokter Emir memyambut baik kontribusi dari paguyuban Jawara. Hal ini merupakan langkah maju dan inovatif dari program Jas Kuning sejak diluncurkan.
“Jadi persoalan stunting ini harus kita keroyok,” tekannya.
Support yang diberikan pengusaha sangat berarti bagi efektivitas menangani persoalan kesehatan di tengah masyarakat. “Nanti dapur umum itu akan dismapingi dokter ahli gizi,” ucapnya.
Sedangkan kader menyiapkan menu makanan sehatnya. Program ini akan secara efektif dimulai pada Minggu ini.
Dalam program dapur bersama ini, telah mengonfirmasi kesediaan terlibat antara lain Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Perseagi), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Darma Wanita. “Dan yang pasti PPK,” ucapnya.
Dalam praktiknya, balita akan diberikan makanan tambahan antara lain kombinasi menu telur, susu, ikan, dan lainnya. “Lalu akan kita ukur seberapa cepat program dapur bersama ini dapat menuntaskan gejala stunting,” paparnya.
Pendekatan yang dilakukan melalui pengawasan model orang tua asuh. “Di mana lima orang anak diawasi satu orang kader,” ucapnya.
Jika program kolaborasi bersama pengusaha ini menunjukkan indikator positif, maka dokter Emir akan membuka ruang lebih luas bagi stakeholder. “Kita akan libatkan pengusaha, institusi, dan organisasi lainnya, berdonasi melawan stunting. Dan kami sudah punya daftar yang akan berdonasi berikutnya,” bebernya.
Program dapur bersama ini dinamai Dikes Jawara. “Dikes Jawara ini singkatan dari Dapur Intensif Keroyok Stunting bersama Paguyuban Jawa-Madura,” ucapnya.
Plt Camat Sekarbela Cahya Samudra mengatakan program Jas Kuning salah satu yang ditunggu warganya. “Ditambah keterlibatan dunia usaha dalam membantu penanganan kasus, ini kontribusi yang nyata. Terima kasih,” ucapnya.
Ia berharap program ini dapat berjalan panjang dan berkesinambungan. “Bagaimanapun semua butuh proses, jangan pernah lelah melakukan kebaikan,” harapnya.
Kepala Lungkungan Jempong Timur H Zaini berterima kasih atas kunjungan Jas Kuning. Solusi terhadap beberapa persoalan kesehatan lingkungan menemukan solusinya.
“Seperti harapan kami ada TPS yang akan diupayakan. Juga, ada pembagian telur dan susu kepada puluhan balita. Dan ada juga program dapur bersama, semuanya solusi nyata atas persoalan kami di lingkungan,” ucapnya. (zad)
Editor : Akbar Sirinawa