LombokPost-Tren pembangunan fisik di ibu kota saat ini mengarah ke bangunan bertingkat.
Hal ini disebabkan keterbatasan lahan perkotaan yang tidak memungkinkan pembangunan dilakukan ke samping.
Tren ini harus dibarengi mitigasi kebencanaan terutama dari ancaman bencana kebakaran.
Pemerintah Kota Mataram mesti menyediakan fasiltas memadai mencegah kebencanaan.
“Saat ini dari sisi fasilitas kami sudah punya kendaraan sky lift,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Pemadaman Kebakaran Multazam, Rabu (15/5).
Namun persoalannya, fasilitas itu tidak ditopang SDM memadai.
“Dalam tiga peleton yang ada di Dinas Damkarmat, hanya satu regu yang memiliki kemampuan pengoperasian alat dan rescue menggunakan alat ini,” ungkapnya.
Sebagai gambaran, satu peleton terdiri atas tiga regu.
Artinya di tiga peleton, Damkarmat memiliki total sembilan regu.
“Yang jadi persoalan, tidak mungkin satu regu itu saja kita minta piket setiap malam. Bagaimana kalau saat tidak piket, terjadi peristiwa kebakaran yang harus mengoperasikan sky lift?” ucapnya.
Oleh karena itu, pihaknya berupaya membagi pengetahuan agar regu yang lain dapat mengoperasikan sky lift.
“Besok pagi (hari ini, Red) kita mau uji ketangkasan regu dalam penguasaan pengoperasian sky lift untuk penanganan kebakaran di gedung bertingkat,” paparnya.
Proses transfer knowledge atau berbagi pengetahuan ini diharapkan mendapat support anggaran.
Memenuhi kepentingan mitigasi pembangunan fisik yang berkembang di perkotaan.
Sementara itu, armada pemadam kebakaran yang dimiliki Damkarmat saat ini berjumlah 10 unit.
Namun tiga di antaranya armada tua yang tidak bisa lagi dioperasikan lagi.
“Hanya sebagai sarana edukasi bagi anak-anak, kendaraan itu sepertinya peninggalan sejak zaman Belanda,” ucapnya.
Mul beraharap, ada anggaran khusus untuk membangun museum Damkarmat.
Di mana fasilitas yang memiliki nilai kesejarahan terkait penanganan kebakaran dapat di simpan dengan baik dan aman.
“Peminat kunjungan armada tua ini, tidak hanya dari anak-anak TK ataupun SD. Banyak juga yang datang bule-blue dan kami lihat ini sebagai potensi wisata edukasi,” paparnya.
Di samping itu, pembaharuan teknologi penanganan kebakaran diperlukan.
Kota saat ini sudah sedemikan maju dengan kompleksitas pembangunan.
“Kita butuh alat berteknologi modern untuk bisa memberikan layanan rescue yang sesuai dengan harapan masyarakat,” pungkasnya. (zad/r3)
Editor : Kimda Farida