Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Perjuangan Kelompok P2L Perigi Manfaatkan Lahan Kosong, Berikan Hasil Panen Secara Gratis untuk Atasi Stunting

Galih Mega Putra S • Sabtu, 25 Mei 2024 | 12:55 WIB
KERJA KERAS: Sejumlah anggota kelompok P2L Perigi menanam sayur-sayuran di Lingkungan Perigi, Dasan Agung, Kota Mataram, kemarin (24/5). (HARLI/LOMBOK POST)
KERJA KERAS: Sejumlah anggota kelompok P2L Perigi menanam sayur-sayuran di Lingkungan Perigi, Dasan Agung, Kota Mataram, kemarin (24/5). (HARLI/LOMBOK POST)

LombokPost--Kelompok Pekarangan Pangan Lestari (P2L) Perigi, Dasan Agung, Kota Mataram berhasil mengubah lahan kosong menjadi kebun.

Hasil panennya tidak dinikmati sendiri.

Dibagikan kepada ibu hamil dan anak penderita stunting secara gratis.

Gotong Royong menjadi kunci sukses kelompok P2L Perigi memanfaatkan lahan kosong.

Lahan kosong milik wakaf masjid seluas 4 are disulap menjadi kebun mini.

Anggotanya sebanyak 20 orang bahu membahu menciptakan kebun yang asri.

Menanam sejumlah sayur-sayuran.

Seperti, terong, cabe, tomat, sayur, bayam, kelor, kunyit, lengkuas, dan sebagainya.

”Kita sudah berjalan melakukan ini sejak lima bulan lalu,” kata Sekretaris P2L Perigi Dasan Agung Manti Kuswati.

Berkat dukungan dari Pemkot Mataram dan lurah Dasan Agung, serta kepala lingkungan bernama Maksud, program P2L Perigi berjalan optimal.

Baru berjalan tiga bulan mereka sudah merasakan panen.

“Bahkan program pembibitan itu sudah ada sebagian yang dijual. Kita bisa dapat Rp 1 juta,” kata dia.

Kalau berbicara hasil panen, kelompok P2L tidak menjual.

Mereka mengutamakan membagikan ke masyarakat.

”Yang kita utamakan adalah ibu hamil dan menyusui. Kita berikan secara gratis,” jelasnya.

Program yang dijalankan P2L Perigi saat ini adalah menekan angka stunting.

Jika ada hasil panen, semua akan dibagikan ke penderita stunting.

”Tujuan kami adalah ingin membuat para ibu hamil dan menyusui sehat. Salah satu caranya adalah mengkonsumsi sayur-sayuran,” terangnya.

Sistem program yang dijalankan cukup efektif melawan stunting.

Sebelumnya, tercatat ada sebanyak 10 orang yang menderita stunting.

”Sekarang tinggal dua orang penderita stunting,” kata dia.

Kuswati menjelaskan, yang diperlukan dalam penanganan stunting adalah pencegahannya.

Mekanismenya, bagaimana cara para ibu hamil dan menyusui bisa mendapatkan konsumsi gizi yang cukup.

”Selain mengkonsumsi daging dan telur. Yang diperlukan itu juga mengkonsumsi sayuran,” jelasnya.

Atas dasar itulah, kelompok P2L Perigi membentuk komunitas tersebut.

Memberikan layanan yang optimal terhadap para ibu hamil.

”Saya ini juga kader. Jadi, sering mendapatkan penyuluhan mengenai penanganan stunting. Itulah yang saya terapkan pada kelompok ini,” kata dia.

Antisipasi stunting harus dilakukan mulai dari saat hendak pasangan suami istri hendak menikah.

Harus dipastikan apakah calon pasangan suami istri itu dalam keadaan sehat atau tidak.

“Makanya dari situ kita data. Kebetulan kami diberikan aplikasi dari BKKBN untuk mendata itu. Sehingga, warga yang hendak menikah harus dipastikan dalam keadaan sehat dulu,” kata Kuswati.

Surat keterangan sehat bisa didapatkan dari puskesmas setempat atau dokter. Jika sudah dinyatakan sehat baru boleh dinikahkan.

”Sampai seperti itu kami lakukan di wilayah lingkungan kita,” terangnya.

Jangan sampai, pasangan suami istri yang tidak dalam keadaan sehat menyebabkan stunting semakin bertambah.

”Malah bisa menambah angka stunting di lingkungan kami,” ujarnya.  

Selanjutnya, yang menjadi sasaran pencegahan adalah ibu hamil.

Pencatatan data dari kader di puskesmas dapat dipetakan langkah yang dilakukan.

”Kalau ada ibu hamil, kami langsung meminta mereka untuk menjaga makanan dan kesehatannya,” kata dia.

Termasuk diberikan sayur-sayuran hasil panen yang sudah dikerjakan kelompok P2L.

”Kalau bantuan susu dan daging diberikan dari pihak lain,” terangnya.

Setelah melahirkan, kelompok P2L ini juga mendata kondisi bayinya. Melihat kondisi bayi dalam keadaan sehat atau tidak.

”Semua bayi dan yang masuk kelompok batita kita data. Untuk melakukan pencegahan stunting,” jelasnya.

Tetap melihat perkembangannya melalui program posyandu yang dikerjasamakan dengan puskesmas.

Yaitu, berat dan tinggi badan.

”Kita lihat perkembangan bayi, apakah tinggi dan berat badannya terus meningkat,” kata dia.

Jika ada bayi atau batita yang perkembangan tubuhnya terhambat langsung menjadi atensi.

”Kami langsung bergerak bersama. Memberikan nutrisi bagi anak agar tumbuh kembangnya menjadi normal,” pungkasnya. (arl/r3)

Editor : Kimda Farida
#P2L #Mataram #Dasan Agung