LombokPost-Sesuai arahan Kemenkes RI melalui Surat Edaran Nomor: HK.02.02/B/716/2024 tentang Pelaksanaan Intervensi Serentak Pencegahan Stunting di seluruh Indonesia, Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram, melaksanakan kegiatan Kick Off Pelaksanaan Intervensi Serentak Pencegahan Stunting.
Kegiatan dipusatkan di lingkungan Tegal, Kelurahan Selagalas, Kota Mataram.
Kick off dirangkai dengan penimbangan berat badan dan pengukuran panjang tubuh balita.
Selain itu, ibu-ibu dan balita diberikan sumber makanan bergizi dan berprotein tinggi.
Ketua TP PKK Kota Mataram Kinnastri Mohan Rolsikana dalam sambutan yang dibacakan Wakil Ketua 2 Lale Rasminingsih Nyonya Lalu Alwan Basri menyampaikan rasa syukur atas pencapaian penanganan stunting dari tahun ke tahun menunjukkan progresifitas luar biasa.
“Kasus stunting di Kota Mataram terus mengalami penurunan dari 14,76 persen, turun menjadi 11,98 persen, dan saat ini menjadi 8,61 persen,” katanya, (3/6).
Persoalan stunting masih menjadi tranding topik di semua kalangan.
TP PKK berkomitmen mendukung upaya kolaboratif menekan kasus yang berkenaan dengan asupan gizi tersebut.
“Capaian dalam menekan kasus stunting saat ini jangan sampai membuat kita berpuas diri,” tekannya.
Yang paling penting adalah aksi nyata penanganan stunting.
Serta tepat sasaran mengenai ibu dan balita yang alami stunting.
“Penanganan stunting merupakan kerja kolaboratif. Membutuhkan dukungan semua pihak, mulai dari OPD di tingkat kota, kecamatan, kelurahan, sampai lingkungan,” ucapnya.
Sepuluh hal yang menjadi fokus dalam intervensi stunting sesuai arahan Kemenkes RI harus dijadikan pedoman penanganan.
Sehingga hasilnya lebih terarah dan dapat meningkatkan akselerasi penanganan kasus di tengah masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram dr H Emirald Isfihan, mengatakan sepuluh langkah penanganan stunting seperti arahan kemenkes pada dasarnya telah dilaksanakan di kota.
“Kalau kita di Kota Mataram sebenarnya ke sepuluh poin itu Insya Allah semua sudah terlaksana,” ucapnnya.
Keterlibatan pemkot dalam kick off ini sebagai bentuk komitmen kebersamaan untuk mengatasi kasus ini secara nasional.
“Bahwa kita tidak bisa berdiri sendiri. Apa yang kita capai di kota dan daerah lain, akan terakumulasi menjadi capaian nasional dalam rangka mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045,” paparnya.
Kick off ini berlangsung secara serentak di semua daerah se Indonesia.
Sebagai komitmen bersama dalam melakukan penanganan stunting.
“Semoga di tahun ini kita di kota kembali bisa menekan kasus stunting ke angka lima persen,” harapnya.
Dokter Emir memaparkan, sepuluh hal yang perlu dilakukan dalam intervensi serentak pencegahan stunting.
Antara lain, memastikan pendataan seluruh Calon Pengantin (Carin), Ibu Hamil, dan Balita yang ada di wilayah kerjanya untuk menjadi sasaran; Memastikan seluruh Catin mendapatkan pendampingan serta memastikan kehadiran Ibu Hamil serta Balita datang ke Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).
Memastikan ketersediaan alat antropometri terstandar di seluruh Posyandu; Memastikan seluruh kader Posyandu memiliki keterampilan dalam pengukuran antropometri terstandar serta penyuluhan untuk Ibu Hamil dan Balita.
Memastikan intervensi pada Ibu Hamil dan Balita yang bermasalah gizi; Memastikan seluruh Ibu Hamil dan Balita diberikan edukasi di Posyandu; Memastikan pencatatan hasil penimbangan dan pengukuran serta intervensi ke dalam sistem informasi e-PPGBM di hari yang sama.
Memastikan dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan Intervensi serentak; dan memastikan ketersediaan pembiayaan pelaksanaan Intervensi serentak termasuk rujukan kasus ke fasilitas layanan kesehatan.
“Semua sudah kita lakukan termasuk kepemilikan alat antropometri yang telah tersedia sejak setahun yang lalu, begitu juga layanan pembiayaan kesehatan, kita di Kota Mataram telah menerapkan UHC, semua pembiayaan layanan kesehatan terkover oleh BPJS,” ucapnya.
Pihaknya memiliki anggaran untuk pembelian makanan tambahan.
“Bukan hanya bagi anak stunting tapi juga yang pra stunting,” ucapnya.
Termasuk juga ibu hamil yang mengalami gangguan kekurangan gizi. Pihaknya berharap dengan menyelesaikan persoalan hulu stunting dapat mencegah lahirnya kembali balita Stunting.
Pihaknya juga mengintensifkan pelayanan posyandu dan puskesmas.
Saat ini upaya yang dilakukan adalah menggandeng donatur untuk meningkatkan suplai makanan sehat dan bergizi bagi balita.
“Program kolaborasi ini kami namakan Dikes Jawara, kami melibatkan paguyuban Jawa-Madura sebagai pilot project,” paparnya.
Bersama kader dan paguyuban akan membangun sebuah dapur bersama menyiapkan makanan bergizi.
“Kita manfaatkan makanan lokal, melibatkan kader-kader untuk menjadi pemantau pemberian gizi terhadap bayi stunting ini,” ulasnya.
Pihaknya berencana memvalidasi data jumlah bayi stunting di ibu kota.
Caranya dengan mengumpulkan semua bayi di satu tempat kemudian dilakukan pengukuran dan penimbangan sekaligus intervensi gizi.
Hal ini untuk mencegah data fiktif tentang kondisi bayi stunting di ibu kota.
Sehingga diperoleh gambaran riil mana balita yang perlu ditangani segera dan mana yang sudah sehat dan tidak lagi dalam data kasus.
“Saya ingin melihat secara riil sehingga bisa mengambil langkah tepat dalam penanganan,” pungkasnya. (zad/r3/ADV)
Editor : Marthadi