LombokPost-Menjadi penyanyi kafe membutuhkan skil membaca mood pengunjung.
Satrio Prima mengungkapkan beberapa triknya.
Nama Satrio Prima tak asing di panggung musik cafe.
Karir ini telah ia mulai sekitar tujuh tahun lalu.
“Saya sudah mulai bermusik dari cafe ke cafe sejak tujuh tahun lalu,” tuturnya pada Lombok Post, (4/6).
Di samping hapal banyak lagu dan menguasai berbagai genre musik, public speakingnya enak didengar.
Maklum saja, ia jebolan salah satu radio swasta di Kota Mataram.
Passionlah yang membuat, Satrio Prima akhirnya melepaskan dunia penyiar radio dan total menjadi seorang vokalis.
“Saya juga resign dari sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bisnis ponsel,” kisahnya.
Dunia musik menurutnya sangat menyenangkan.
Musik tidak hanya membuat penyanyi bahagia tetapi penonton ikut gembira.
“Dan satu lagi, seorang penyanyi usianya selalu lebih muda dari usia sebenarnya, karena menyanyikan lagu yang relate dengan zamannya. Sekalipun usia sudah tua,” kelakarnya.
Satrio Prima, mengungkapkan ihwal di darahnya mengalir DNA seorang seniman.
Kakeknya adalah seorang pelukis keraton.
“Beliau seorang pelukis seni rupa, juga pemahat,” ucapnya.
Setali tiga uang, ayahnya seorang fotografer.
Seniman di bidang art foto.
Sayangnya, dengan kakek, Satrio Prima tak sempat bertemu.
Sedangkan Ayah, ia hanya sempat merasakan kehangatan perlidungannya hingga SMP.
“Sebelum akhirnya wafat,” katanya.
Meski begitu, keduanya seperti selalu bersamanya.
“Jiwa seni dari keduanya mengalir di dalam diri saya,” ujarnya.
Satrio Prima bertutur musik sebagai dunia yang menyenangkan dan penuh tantangan.
Dunia ini pula yang sampai saat ini menjadi tempatnya mencari nafkah.
“Alhamdulillah, order job seminggu selalu penuh. Hari ini saja (kemarin, Red) sengaja meliburkan diri untuk quality time bersama keluarga, kalau tidak begitu. Nggak libur-libur,” ucapnya tertawa ringan.
Ia menyebut beberapa cafe dan hotel tempatnya manggung.
“Coffee Shop, Resto, Aruna, Angkringan, Cafe-cafe. Keliling-keliling di Kota Mataram,” paparnya.
Stereotip dunia musik yang identik dengan obat-obatan terlarang diklarifikasinya.
Menurutnya, pengguna obat-obatan terlarang bisa muncul di profesi lain.
“Begitu juga di musik, ada juga pemusik yang menghindari obat-obatan terlarang. Saya termasuk yang menghindari itu,” tegasnya.
Dunia musik terbagi dalam banyak klasifikasi.
Kerentanan muncul saat pemusik masuk di lingkaran dunia malam diskotik.
“Tapi ada kok teman-teman yang dekat dengan dunia malam, tapi tidak menggunakan itu (obat-obatan),” ucapnya.
Menjadi penyanyi Cafe, memiliki tantangan tersendiri.
Salah satunya selera musik pengunjung yang beragam.
Berbeda halnya dengan konser yang sudah pasti pengunjungnya adalah penyuka aliran band atau solois yang tampil.
“Pengunjung cafe, ada yang suka musik pop, rock, dangdut, jazz, koplo, dan segala macam,” ujarnya.
Di sinilah kejelian vokalis band Infeels ini dalam menfangkat mood pengunjung.
“Trik yang biasa saya lakukan biasanya dengan mulai memainkan lagu dengan beat slow, lalu di setiap pergantian lagu, meningkatkan tempo musiknya,” ucapnya.
Selain itu, penyanyi cafe harus pandai membaca situasi pengunjung cafe. Ia mengatakan, tidak semua pengunjung datang mencari hiburan.
“Ada yang datang ke cafe buat ngedate bareng pasangan, ketemuan, sampai meeting,” ucapnya.
Biasnya mereka yang datang mencari hiburan, memilih duduk dekat dengan panggung musik.
Sedangkan yang meeting memilih duduk di tempat yang lebih jauh dari keramaian.
“Membaca tujuan pengunjung juga sangat penting agar mereka menemukan suasana yang diperlukannya di cafe. Kalau pengunjungnya kebanyakan mau meeting, ya musiknya kita pilih yang slow. Tidak terlalu ngerock,” terangnya.
Trik lain membaca mood adalah dengan meminta pengunjung merequest lagu hingga mengajaknya menyanyi bersama.
Berbagai cara ini sukses membuat kehadiran Satrio Prima dan bandnya menjadi penampil favorit di berbagai panggung musik.
Dunia musik bagi Satrio Prima telah memberikan banyak hal.
“Kita ketemu banyak orang dan opportunity baru,” ucapnya.
Hal yang tidak pernah didapatnya ketika masih menjadi karyawan swasta.
Sebelum menutup cerita, Satrio Prima berpesan pada pemusik muda untuk tidak menyerah menggeluti dunia seni ini.
“Saat ini jumlah penyanyi atau pemusik lokal jauh berkurang dibanding generasi saya,” ungkapnya.
Situasi ini membuatnya resah dan khawatir dunia musik kehilangan penerusnya.
Padahal jika digeluti dengan serius dan telaten, dunia ini memberikan peluang pekerjaan menjanjikan.
“Bagi kami tidak ada yang lebih menakutkan dari hilangnya pemusik di panggung musik,” pungkasnya. (zad/r3)
Editor : Kimda Farida