LombokPost-Dwi mengungkapkan salah satu mimpi besarnya adalah membuat film musikal.
Ketertarikannya, pada konsep film ini lebih pada tantangan baru yang akan ditemuinya.
“Ya, pengen sekali buat film musikal, apalagi sekarang kita sudah punya peralatan yang lebih proper,” kata Dwi.
Film musikal menurutnya akan menjadi film yang menantang.
Kesempatan menuangkan ide dan kreativitas juga lebih banyak melalui alur cerita, musik, serta koreografi tarian yang ada di dalamnya.
Salah satu cerita rakyat yang menurutnya asyik untuk digarap dalam konsep film musikal yakni Legenda Putri Mandalika.
“Cerita rakyat ini sangat mengakar di budaya Lombok. Kami melihat ini akan menjadi karya hebat, karena didukung branding yang kuat,” ucapnya.
Kata ‘Mandalika’ saat ini tidak hanya menjadi milik warga Lombok tetapi dunia.
Namun ada ruang hampa di balik promosi nama Mandalika yang masif dilakukan di nasional ataupun internasional.
“Orang mengenal nama Sirkuit Mandalika atau tradisi Bau Nyale yang populer sampai ke berbagai daerah bahkan dunia. Tapi apa dan bagaimana Mandalika, publik dunia sangat haus dengan audio dan visualnya dalam bentuk film,” ucapnya.
Tapi lazimnya kebanyakan rumah produksi, tantangan utama dalam penggarapan film yang dikemas dengan kolosal adalah budget.
“Kita menunggu respons para pihak yang berkepentingan dalam branding Mandalika, tetapi juga mendukung kemajuan sineas daerah,” ucapnya.
Film Legenda Putri Mandalika kata Dwi, ingin ia jadikan sebagai epos yang sarat dengan nilai luhur kepahlawanan sang putri bangsawan.
“Bagaimana sang putri yang lebih mementingkan perdamaian negeri dibanding ego pribadi, adalah nilai luhur yang sesungguhnya tertanam dengan baik dalam diri suku Sasak,” ucapnya.
Dwi menekankan, film ini harus digarap dengan serius. Serta dukungan budget yang mapan.
“Kami berpikir penontonnya tidak hanya warga Sasak dan orang Indonesia. Tetapi dunia. Tentu kualitas pembuatan film, mulai dari alur cerita hingga kualitas gambar haruslah setara Hollywood. Mungkin ini mimpi yang terlalu besar, tapi kami tidak ingin dibatasi oleh ketakutan dalam berkarya,” paparnya.
Sekalipun masih berusia 32 tahun, sebagai sutradara muda Dwi telah berpengalaman dalam membuat banyak film.
Selain pernah menggarap film pendek dan panjang, Dwi pernah terlibat di pembuatan film series.
“Judul film seriesnya Senja Hari Ini Indah. Yang main Rizki Febian dan Mahalini,” tutur pria jebolan Trans TV ini.
Dwi juga rutin mengasah bakatnya membantu teman-temannya yang tergabung dalam organisasi sineas di NTB.
“Proyek film yang dikerjakan teman-teman beragam. Kita saling membantu sebagai bentuk saling support,” ucapnya.
Dwi bersyukur, tingginya minat kolaborasi berbagai lembaga dari pemerintah hingga swasta, dalam melibatkan sineas muda lokal.
Hal ini telah membuka harapan bagi sineas untuk terus melahirkan berbagai karya perfilman di NTB.
“Dukungan juga muncul, dari beberapa bioskop untuk penayangan hasil karya film. Selain itu support untuk kegiatan festival. Belum lama ini teman-teman berkumpul untuk sharing ilmu di festival Minikino di Bali,” pungkasnya. (zad/r3)
Editor : Kimda Farida