LombokPost-Satu-satunya ganjalan paket H Mohan Roliskana-TGH Mujiburrahman berlanjut jilid 2 menyisakan kendaraan politik.
Golkar berdasarkan hasil Pileg 2024 meraih tujuh kursi.
Sedangkan syarat mengusung pasangan calon (paslon) di Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Mataram 2024 adalah delapan kursi.
Dari sisi survei pribadi, Mohan Roliskana dan TGH Mujiburrahman menempati dua figur teratas dengan tingkat elektabilitas tertinggi.
Hal ini berdasarkan pemaparan hasil survei LSI Denny JA.
LSI Denny JA memotret, keinginan kuat warga kota kembali dipimpin Mohan Roliskana.
“Jawaban responden sebanyak 70,0 persen warga kota menginginkan pak Mohan kembali menjabat wali kota,” kata Direktur LSI Denny JA Aji Al Farabi di Mataram, Rabu (12/6).
Peluang Mohan meningkatkan elektabitas sebenarnya sangat terbuka.
Hal ini terpetakan dari tingkat kepuasan publik atas kinerja kepemimpinannya mencapai 82,3 persen.
Sedangkan kepuasan publik pada model kepemimpinan TGH Mujib lebih rendah dari Mohan.
Mujib mencatatkan tingkat kepuasan publik di angka 75,7 persen.
“Kota Mataram bisa dibilang cukup konklusif (sudah bisa disimpulkan, Red) ya. Kota Mataram terlihat istilah kita hanya matahari tunggal di Kota Mataram karena Pak Mohan begitu powerful hasil surveinya baik dari sisi tingkat kepuasan publik maupun dari sisi tingkat elektabilitasnya,” paparnya.
Meminjam istilah para gamers, Mohan overpowerd atau OP.
Istilah ini menggambarkan sosoknya secara politik terlalu kuat bagi lawan-lawan yang akan mencoba menandingi di Pilwakot Mataram 2024.
Kekuatan politik Mohan semakin mengkristal, manakala lawannya semakin sedikit. “Ketika nama (calon lawan) diperkecil, itu angkanya sudah sangat tinggi ya,” papar Aji.
Dalam pertanyaan terbuka -- tanpa pilihan nama -- sebanyak 43,6 persen publik kota menyebut nama Mohan.
Potensi rival kepemimpinan justru muncul dari sang wakil yakni TGH Mujib di mana model pertanyaan yang sama, 13 persen publik menyebut nama tuan guru asal Sekarbela ini.
Pertanyaan terbuka itu juga memunculkan nama di luar pasangan petahana, yakni Hj Selly Andayani dengan 8,9 persen, H Muzihir dengan 4,3 persen, dan Abd Rachman 3,9 persen.
Selanjutnya, skema pertanyaan tertutup dengan 10 figur, Mohan kembali menunjukkan ke OP-annya dengan mendapat dukungan 50,2 persen responden memilihnya.
Di belakang membuntuti -- meski terpaut jauh -- TGH Mujib dengan 15,5 persen, H Muzihir 7,7 persen, dan Abd Rachman 5,6 persen.
Simulasi Figur Tanpa TGH Mujib
Di skema lima figur tanpa menyertakan, TGH Mujib, suara sang wakil nampaknya terdistribusi ke Mohan.
Mohan mencatatkan elektabilitas mencapai 61,8 persen.
Aji mengatakan, secara konsisten, TGH Mujib mengiringi di belakang elektabitas Mohan.
Bahkan dalam simulasi LSI Denny JA, TGH Mujib berpeluang melawan Mohan dengan elektabilitas yang dikantonginya sementara ini.
“Satu satunya calon yang bisa mendekati melawan beliau hanyalah wakil wali kota, walaupun itu masih jauh (dari sisi elektabilitas),” paparnya.
Dengan tingkat kepuasan dan elektabilitas ini, Mohan dinilai dapat menang, baik tetap berpasangan dengan TGH Mujib maupun dengan figur lain.
Hal ini didasari analisis jarak antara Mohan dengan figur-figur di bawahnya cukup jauh.
“ (Angka elektabilitas ini) sangat ideal untuk seorang petahana,” pungkasnya.
Sekretaris DPD Partai Golkar NTB H Firadz Pariska menjelaskan, secara kepartaian pihaknya sangat puas dengan hasil survei dua figur Golkar di Mataram.
Survei ini menjadi bekal yang penting sebagai pedoman memasuki Pilkada mendatang.
“Tentu kami sangat bersyukur dengan capaian ini, namun ini bukan akhir,” tekannya.
Data ini sangat penting untuk berbenah. Memperbaiki wilayah mana yang masih kurang.
Terkait dengan siapa Mohan berpasangan, Firadz menjelaskan secara normatif seluruh keputusan pencalonan ada di tangan DPP.
Hasil survei ini menjadi bagian dari proses seleksi menentukan pasangan.
Firadz, menekankan Golkar di Mataram membutuhkan koalisi partai untuk mengusung paslon.
“Semua masih berproses, keputusan ada di DPP. Hanya saja kami di daerah telah mempersiapkan beberapa skenario agar bisa mengusung pasangan di Pilwali mendatang,” pungkasnya.
Sebagai gambaran, survei ini berlangsung dari 27 Mei-1 Juni 2024 dengan 440 responden. Margin of error 4,8 persen. (zad/r3)
Editor : Kimda Farida