Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Perjuangan Noor Khairudin, Nekat Jual Aset untuk Mengembangkan Olahraga Basket di Mataram

Galih Mega Putra S • Sabtu, 22 Juni 2024 | 12:55 WIB
TUNJUKKAN PRESTASI: Pelatih basket Noor Khairuddin berpose setelah menerima medali penghargaan setelah meraih juara pada turnamen basket di GOR Bhakti Mulia, Mataram, beberapa waktu lalu.
TUNJUKKAN PRESTASI: Pelatih basket Noor Khairuddin berpose setelah menerima medali penghargaan setelah meraih juara pada turnamen basket di GOR Bhakti Mulia, Mataram, beberapa waktu lalu.

LombokPost-Mayung Basketball merupakan akademi basket pertama di Kota Mataram.

Pencetusnya, Noor Khairudin.

Pelatih basket ini membuat akademi untuk membina atlet basket potensial di daerah ini. 

Olahraga basket sudah melekat di hati Noor Khairudin.

Mulai mengenal basket sejak baru duduk di bangku kelas V Sekolah Dasar (SD).

”Awalnya saya hanya melihat orang main basket di SDN 2 Cakranegara. Kalau tidak salah itu tahun 1996,” kenang pria yang akrab disapa Aron.

Pertama kali diajak teman. Bernama Rahmat.

“Sekarang teman saya itu berada di Perancis,” ujarnya.

Dia datang ke lapangan hanya disuruh memungut bola.

Ketika mereka beristirahat baru belajar sendiri, memasukkan bola ke dalam ring.

”Saya nge-shoot (tembak bola ke ring) belajar sendiri. Tidak ada yang mengajarkan,” kata dia.

Saat beranjak SMP, Aron mulai bergabung klub.

Meski badan tidak terlalu tinggi, tetapi Aron sudah memiliki bakat alam bermain basket.

”Belajar dribel dan passing sendiri,” ujarnya.

Itu pun hanya dapat belajar di lapangan.

Tidak seperti saat ini, orang bisa dengan mudah mendapatkan bola basket.

”Kalau dulu, kalau ingin belajar harus ke lapangan. Kita mana punya bola basket,” kata dia.

Hampir setiap hari, Aron datang ke lapangan selepas pulang sekolah. Hanya untuk tetap bisa belajar bermain basket.

”Dari situ, saya terus tekun belajar otodidak,” tuturnya.

Ketekunannya terus belajar bermain basket, membuat Aron dilirik klub basket ternama di Mataram kala itu. Yakni, tim Hero Basket Ball.

”Saya mulai main tim di Hero dan latihan di lapangan Bakti Mulia,” kata dia.

Pada tahun 2002, Aron memperkuat tim basket Kota Mataram di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB.

”Dulu dapat medali emas,” kenangnya.

Penampilannya yang apik, membuat Aron dipanggil mengikuti seleksi Pra-PON. Aron pun terpilih memperkuat tim basket NTB.

”Saya main Pra-PON di Jogjakarta tahun 2003,” kata dia.

Pesaingnya yang kuat, membuat tim basket NTB tidak meraih tiket Pekan Olahraga Nasional (PON). 

Selepas itu, Aron mengadu nasib ke Surabaya. ”Saya memperkuat tim Surabaya pada ajang Street Ball di Istora Senayan tahun 2012,” ujarnya.

Aron pun meraih juara 2 nasional. Saat di final kalah melawan tim dari Jakarta.

”Setelah kejuaraan itu saya tidak lagi bermain basket. Saya nyatakan pensiun,” kata pria berusia 45 tahun itu.

Dia pun kembali ke Mataram. Tekadnya, ingin mengembangkan olahraga basket.

”Saya melatih ke sejumlah sekolah-sekolah. Itu bagian dari memasyarakatkan olaharaga basket,” kata dia.

Tetapi, untuk menuju pembinaan prestasi kala itu, tidak bisa berkembang. Karena, kurangnya kompetisi. Yang diandalkan hanya event Development Basket Ball League (DBL).

“Dengan adanya event itu, banyak siswa-siswi di sejumlah sekolah mulai membentuk tim. Saya pun berbagi dengan teman-teman yang hobi dengan basket untuk melatih mereka,” jelas pria kelahiran 26 Mei 1982 itu.

Setelah memiliki banyak pemain, Aron membentuk tim. Bernama Mayung Basket Ball.

”Kami menyewa lapangan di Bhakti Mulia,” bebernya.

Karena menyewa, pembinaan tidak bisa dilakukan maksimal. Dikarenakan, mendapatkan waktu yang terbatas.

”Jadi belum kita masuk sesi latihan yang lain, sudah habis waktunya,” keluhnya.

Dari situ, Aron berinisiatif membentuk sekolah basket. Masih menamakan Mayung Basketball.

”Namanya Mayung Basketball Academy,” jelasnya.

Untuk membuat sekolah basket itu, Aron memberanikan diri menyewa lapangan.

Yang disewa adalah lapangan futsal eks Istora di Dayan Peken, Ampenan, Mataram.

”Saya rombak lapangan futsal itu untuk dijadikan lapangan basket,” kata dia.

Untuk merombak lapangan itu, Aron harus merogoh kantong pribadinya. Bahkan menjual kendaraannya.

”Dua mobil, satu sepeda motor saya jual untuk modal merombak lapangan basket. Kalau uang pribadi tidak bisa dihitung,” bebernya.

Pernah saat itu, dia tidak memiliki kendaraan karena habis terjual. Aron malah meminjam sepeda motor ke mertuanya.

“Syukur mertua dan orang tua mendukung upaya saya mengembangkan sekolah basket ini,” kata dia.

Saat ini sekolah basket tersebut mulai berkembang. Semakin banyak peminatnya.

”Mulai dari anak-anak hingga dewasa,” kata dia.

Mereka berlatih sepulang sekolah. Tujuan dibuatnya agar peminat olahraga basket dapat menyalurkan hobinya.

”Selain untuk mewujudkan anak yang sehat, yang paling penting adalah kita ajarkan mengenai attitude,” ungkapnya.

Jadi, sekolah basket ini juga menjadi rumah kedua bagi anak-anak. Supaya bisa menyalurkan kegiatan positif.

”Pembinaan olahraga pada usia dini sangat penting. Ketika nanti mereka berkembang, mereka sendiri yang akan memilih, apakah nanti bertujuan untuk menjadi pebasket profesional atau tidak,” pungkasnya. (*/r3)

Editor : Kimda Farida
#DBL #Basket