Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengenal Lempot Umbaq, Tradisi Adiluhung Suku Sasak-Lombok, Ngaji Dalem Jati Diri Manusia

Lalu Mohammad Zaenudin • Senin, 24 Juni 2024 | 16:35 WIB
TRADISI LUHUR: Seorang anak menjalani prosesi pembersihan jiwa, sebelum prosesi pembuatan Lempot Ubaq dimulai, kemarin (23/6). (ZAD/LOMBOK POST)
TRADISI LUHUR: Seorang anak menjalani prosesi pembersihan jiwa, sebelum prosesi pembuatan Lempot Ubaq dimulai, kemarin (23/6). (ZAD/LOMBOK POST)

LombokPost-Secara harfiah, benda ini memiliki arti selendang gendong.

Sedangkan dari makna, Lempot Umbaq sarat ilmu jiwa. 

Anak yang sulit dinasihati.

Bengal dan tak peduli nilai-nilai kebaikan.

Berbuat semaunya.

Urakan, lepas kendali.

Tak ada nilai dan wibawa dalam hidupnya. Campah begitu orang Sasak menyebutnya.

Adakah orang tua yang menginginkan anaknya kelak ketika dewasa seperti itu?

“Tidak ada orang tua yang mau anaknya, tak punya nilai dan wibawa,” ucap pelaku Budaya Lalu Muksin, pada Lombok Post, Minggu (23/6).

Setiap orang tua, mencita-citakan anaknya berguna bagi keluarga. Bahkan untuk cita-cita lebih besar lagi: agama dan bangsanya.

Orang tua ingin anaknya menjadi penerang seperti matahari yang bersinar. Menyinari garis keturunannya.

“Orang tua mendambakan anaknya menjadi kebanggaan. Buaq Ate Kembang Mate atau pelipur lara yang menaikkan derajat keluarga. Bahkan seorang pencuri ingin anaknya tumbuh menjadi pria terhormat dan berwibawa. Dan tak mau anaknya sepertinya (pencuri),” imbuhnya, seraya mengunyah sirih.

Ini adalah fitrah manusia. Fitrah yang cenderung pada kebaikan.

Manusia cenderung pada sesuatu yang abadi dan bernilai kebajikan.

Menghindari hal yang membawa kerusakan dan keburukan.

“Sifat merusak itu muncul dari dorongan nafsu. Fitrah dirinya yang akan mengingatkannya (merusak) tak sesuai jati dirinya (baca: fitrahnya) sebagai manusia. Bisikan fitrah itu datang dengan lembut, jernih. Lalu menghadirkan rasa penyesalan setelah merusak,” paparnya.

Ngaji Dalem ini mengawali prosesi pembuatan Lempot Umbaq yang disaksikan Lombok Post. Di sebuah desa, di pulau Lombok yang indah ini.

Seorang anak berusia tiga tahun, sebelum dibuatkan Lempot Umbaq menjalani sebagai prosesi pembersihan jiwa. Niniq Apuk, wanita berusia 70 tahun yang dituakan memimpin prosesi warisan leluhur ini.

Setelah komat-kamit, memohon doa keselamatan pada Tuhan Sang Maha Pencipta, tangannya yang berselimut kulit keriput, mengambil daun pandan yang diikat seutas batang pari.

Ye jari smen-men (ini jadi penyejuk jiwa),” ucapnya, menyelipkan senyum.

Entah apa bunyi kalimat doanya. Bibirnya terus saja komat-kamit dengan tatapan teduh pada sang bocah.

Sementara, bocah tiga tahun yang duduk di hadapannya diam termenung. Menikmati sensasi dingin air yang ditepukkan sebanyak tiga kali di atas kepala dengan daun pandan tadi.

Uah tatiq (sudah anakku),” ucapnya mengakhiri prosesi, dengan mencolek kedua pipi dan dahi bocah itu menggunakan daun sirih yang telah dihaluskan. 

Sebelum beralih ke acara zikir dan doa, nenek yang dituakan itu membuka tangan mengadap langit. Lalu berdoa dengan suara yang lembut. Bergetar.

“Semoga Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, memuluskan perjalanan hidupmu, dalam menggapai cita-citamu, dan menjadi anak yang berguna bagi agama dan bangsamu,” doanya.

Beberapa perempuan tua yang hadir mengaminkan. Tak lupa kedua orang tuanya turut menunduk takzim. Mengamini.

Pra-acara pembuatan Lempot Umbaq belum selesai. Kini giliran para pria dewasa yang duduk melingkar memulai zikir dan doa.

Munajat para kaum adam itu pun sama di hadapan sang pencipta. Mendoakan anak tiga tahun tadi, agar tumbuh menjadi anak berwibawa, berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia. Serta menjadi kebanggaan bagi orang tuanya.

“Amin,” ucap pria-pria yang duduk melingkar dengan tangan yang juga menghadap langit. (Bersambung/r3)

Editor : Kimda Farida
#Sasak #Adat