LombokPost-Idealnya lempot umbaq dibuat tak lama setelah bayi tersebut lahir.
Tetapi di beberapa tempat, selendang gendong ini dibuat juga bagi orang yang telah dewasa.
Sebagaimana arti secara harfiah, lempot umbaq atau selendang gendong dibuat untuk menggendong bayi yang baru lahir.
Tujuannya tentu untuk menggendong sang bayi sejak lahir sampai bisa berjalan.
Tetapi di beberapa tempat di pulau Lombok ini, lempot umbaq dibuatkan pula bagi orang yang telah berumur dewasa.
“Untuk mereka yang ketika kecil tidak pernah dibuatkan lempot umbaq,” kata pelaku budaya Lalu Muksin, pada Lombok Post.
Pembuatan Lempot Umbaq ini diyakni sebagai obat penyejuk jiwa. “Smen-men. Bubus temer (penyejuk, obat, Red),” terangnya.
Bagaimana bisa, selembar kain bisa jadi obat?
Muksin mengatakan, memang ada ruang keyakinan yang lebar di situ.
Sementara, orang-orang yang melakukan tradisi pembuatan lempot umbaq, kebanyakan tidak menuntut keilmiahannya untuk menjalani tradisi ini.
“Mereka yakin. Sudah. Ruang perdebatan tidak dibuka,” ucapnya.
Terlepas dari ilmiah-tidaknya lempot umbaq sebagai obat jiwa, Muksin mengajukan satu hipotesis menarik.
Hipotesis ini terkait asal usul pembuatan Lempot Umbaq.
Menurutnya, boleh jadi, tradisi ini muncul saat budaya baca tulis masih menjadi milik sedikit orang saja di pulau Lombok.
“Bukti sedikit yang bisa baca tulis dapat kita lihat dari jumlah orang yang bisa menulis dan membaca huruf jejawan atau aksara Sasak hingga saat ini tidak banyak,” ucapnya.
Terbatasnya masyarakat Sasak yang bisa baca tulis membuat para orang tua yang ingin mewarisi ilmu diri atau jati diri atau ilmu jiwa, menggunakan simbol-simbol atau gambar.
“Misalnya simbol atau motif garis lurus,” paparnya.
Di motif atau simbol tenun suku Sasak, ternyata mengandung nilai-nilai luhur.
Motif-motif itu serupa ayat-ayat atau pesan agar manusia berbuat jujur, lurus, ikhlas, rendah hati, hingga ajaran bertauhid pada Sang Maha Pencipta.
“Keterbatasan kemampuan dalam membuat pesan tertulis (menggunakan aksara Sasak) membuat para orang tua dulu mewarisi pesan luhur pada anak cucunya melalui simbol-simbol,” ujarnya.
Maka dalam makna yang sama, simbol atau motif ini juga muncul di selendang gendong atau lempot umbaq.
Muksin melihat, garis-garis lurus dan kombinasi warna di lempot umbaq mengandung pesan luhur agar manusia mengedepankan sifat sesuai fitrahnya.
“Garis (motif) lurus (di Lempot Umbaq) bisa bermakna agar bayi itu, kelak ketika dewasa berlaku lurus, jujur, adil, hingga amanah. Saya jadi ingat kisah Khalifah Umar yang membuat garis lurus di atas tulang hingga membuat seorang Gubernur di Mesir kala itu gemetaran karena paham makna simbol itu,” ucapnya membandingkan.
Begitu pula kombinasi warna, motif garis timbul dan tenggelam, dan lainnya semuanya diyakini memiliki makna yang luhur.
Sehingga dapat menjadi ‘nasihat’ bagi manusia.
“Jika nasihat dalam Lempot Umbaq itu dijalankan, manusia akan hidup selamat,” ucapnya.
Dalam konteks obat, Lempot Umbaq bisa jadi obat untuk jiwa manusia.
Selayaknya buku-buku sarat nasihat kehidupan, bisa menjadi obat juga bagi manusia.
“Orang yang menjalani hidup dengan jujur, ikhlas, tawakal, sabar, lurus, Insya Allah jiwanya semakin sehat. Jiwanya kuat. Tidak mudah stres apalagi gila dengan hiruk pikuk dunia yang penuh tipu daya ini,” ucapnya arif.
Tradisi pembuatan Lempot Umbaq lebih pada upaya menasihati diri.
Jangan mudah terlena oleh kesenangan duniawi yang bersifat sesaat.
“Jangan terlena oleh rasa senang sesaat oleh kebohongan yang dibuat, tipu daya yang dibuat, kerusakan yang dibuat. Kesenangan-kesenangan itu semu. Sesaat saja. Setelah kesenangan itu menunggu kerusakan bagi jiwa,” paparnya.
Oleh karena itu, sebenarnya pembuatan Lempot Umbaq sarat makna. Mulai dari prosesi menepukkan air di kepala menggunakan daun pandan.
“Otak adalah letak dari jiwa. Maka membersihkan jiwa harus dimulai dari membersihkan otak dari pikiran jahat atau nista,”
Begitu pula ketika persiapan ngane (benang untuk menenun Lempot Umbaq). Diawali dengan zikir dan doa, setalah itu menikmati bersama-sama berbagai panganan tradisional, ayam panggang, dan lainnya.
“Ada pesan untuk berbagi rezeki atau kebahagiaan sesama umat manusia. Agar tidak egois dan mau menang sendiri,” ulasnya.
Dengan arti seluas ini, tidak mengherankan Lempot Umbaq dibuatkan juga bagi mereka yang telah berusia dewasa.
“Sejatinya obat jiwa tidak hanya diperlukan bagi yang masih bayi, tetapi yang dewasa juga membutuhkan obat jiwa,” ujarnya. (bersambung/r3)
Editor : Kimda Farida