Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pemicu Banjir, 12 Ton Sampah Penyumbat Saluran Diangkat PUPR Mataram

Lalu Mohammad Zaenudin • Sabtu, 6 Juli 2024 | 15:45 WIB
MENUMPUK: Sampah yang menyumbat saluran Drainase berhasil diangkat oleh tim kebersihan dari PUPR Kota Mataram, kemarin (5/7). (ZAD/LOMBOK POST)
MENUMPUK: Sampah yang menyumbat saluran Drainase berhasil diangkat oleh tim kebersihan dari PUPR Kota Mataram, kemarin (5/7). (ZAD/LOMBOK POST)

LombokPost-Dewan menantang pemerintah kota (pemkot) berani mengambil tindakan tegas pada pelaku buang sampah sembarangan.

Tantangan ini tidak lepas dari peristiwa  banjir pada Rabu, 3 Juli 2024 kemarin yang merendam tiga kecamatan di Kota Mataram.

Banjir itu diklaim disebabkan oleh sedimentasi dan sampah yang menyumbat saluran dan sungai.

Maka, jika sampah disebut biang persoalan, pemerintah diminta berani mengambil langkah tegas.

“Kami menantang pemerintah untuk menegakkan Perda yang mengatur tentang sampah. Di sana kan ada sanksi bagi oknum yang buang sampah ke sungai, kalau berani ayo tindak!” tantang Ketua Komisi 3 Bidang Infrastruktur DPRD Kota Mataram I Gede Wiska, Jumat (5/7).

Wiska menilai, pemerintah terlalu lembek menangani persoalam sampah ibu kota.

Padahal sudah ada regulasi atau perda yang mengatur sampah berikut sanksi tegas bagi yang melanggar.

Ketidaktegasan pemerintah, memicu kesadaran warga menjaga lingkungan rendah.

Terutama bagi yang berada di bantaran atau pinggir saluran dan sungai.

“Kalau pemerintah berani tegas, kami (dewan) siap mendukung,” tantangnya.

Lebih jauh politisi PDI Perjuangan itu mengatakan, banjir yang merendam Kecamatan Mataram, Sekarbela, dan Sandubaya tidak bisa dilimpahkan sebagai kesalahan daerah luar saja.

Menurutnya, karena banjir terjadi di Kota Mataram maka harus dilihat sebagai kondisi sungai dan saluran bermasalah.

“Ya apapun itu, mau dikatakan disebabkan sampah kiriman (yang menyumbat saluran), tetap saja ada persoalan sampah di sini yang belum selesai,” tegasnya.

Wiska juga meminta pada pemerintah, tidak abai terhadap kondisi warga yang terdampak banjir.

“Kami minta agar bantuan logistik dan kesehatan yang diperlukan segera diberikan ke yang membutuhkan,” tekannya.

Pihaknya mengatensi serius banjir tersebut. Dalam waktu dekat dewan akan memanggil dinas teknis untuk memperjelas persoalan pemicu banjir dan apa saja langkah penanganan yang sudah dilakukan.

“Dalam rapat kerja pekan depan, hal ini yang akan menjadi pembahasan kami,” ucapnya.

Hujan yang terjadi pada Rabu (3/7) dari siang sampai malam membuat tiga kecamatan direndam banjir.

Dari laporan BMKG hujan tidak hanya terjadi di Kota Mataram, tetapi merata di seluruh wilayah pulau Lombok.

Hujan dengan intensitas tinggi itu memicu debit air sungai naik. Laporan sementara pemicu banjir di kota yang paling signifikan adalah naiknya air sungai Brenyok.

Wiska mencatat, sedimentasi pemicu banjir tidak hanya terjadi di sepanjang sungai Brenyok.

Tetapi juga kawasan sungai Unus yang membelah ibu kota mengalami kelebihan kapasitas debit air selama hujan. 

Ia mengamati, sungai besar yang membelah ibu kota ada yang telah puluhan tahun belum dinormalisasi.

Sedimentasi sedemikian parah tidak hanya membuat sungai alami pendangkalan tetapi juga penyempitan.

“Kami juga melihat ada persoalan pada pengaturan pintu air,” ucapnya.

Di samping itu perlu secara konsisten dan inovatif mengajak masyarakat menjaga lingkungan.

“Supaya jangan membuang sampah sembarangan lagi. Ini memang PR besar yang belum terselesaikan,” pungkasnya.

Kepala Dinas PUPR Kota Mataram Lale Widiahning mengatakan sejauh ini telah mengangkat sampah dari saluran pemicu banjir.

“Jumlahnya sekitar 12 ton,” ucapnya.

Jumlah sampah yang sangat besar itu disebutkan tidak hanya endapan sampah sebelumnya.

“Tetapi ada juga sampah kiriman (terbawa air sungai),” ucapnya.

Saat ini kondisi sampah sudah terangkat semua. “Semoga tidak ada lagi sampah kiriman,” harapnya. (zad/r3)

Editor : Kimda Farida
#sampah #Mataram #pemkot