LombokPost-Keselamatan para pengguna jalan di Kota Mataram terancam.
Potensi pohon tumbang masih sangat besar. Terutama ketika angin kencang disertai hujan melanda daerah ini.
Sebab, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram belum memiliki alat pengecekan kekuatan pohon.
”Kita masih manual mengecek. Menggunakan kira-kira,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram H Nizar Denny Cahyadi.
Sebelumnya, Pemkot Mataram berencana akan mendatangkan alat pengecekan kondisi pohon, Tree Tomography. Alat tersebut digunakan untuk mengecek kondisi batang pohon, masih baik, busuk, atau berongga.
Namun, sampai sekarang alat tersebut belum terealisasi. “Kita belum anggarkan untuk pembelian alat itu (Tree Temograph),” ujarnya.
Begitu juga pada pembahasan RAPBD 2025, pengadaan alat tersebut tidak masuk dalam program. Sebab kemampuan daerah belum memungkinkan.
”Makanya cara kita untuk sementara melakukan perantingan pohon,” bebernya.
Per hari ditargetkan dua sampai tiga pohon. Cara itu sudah dilakukan sejak awal tahun ini.
”Ada tim di lapangan yang menyurvei kondisi pohon. Apakah perlu perantingan atau tidak,” kata dia.
Bagi yang sudah dianggap keropos, otomatis diatensi untuk dilakukan perantingan.
“Begitu sebaliknya,” bebernya.
Denny mengatakan, untuk mengecek kondisi pohon, pihaknya akan berkoordinasi dengan Universitas Mataram (Unram).
Ada beberapa mahasiswa yang memiliki penelitian terhadap kekuatan pohon. ”Nanti kita koordinasikan bersama,” ujarnya.
Sampai saat ini, tercatat ada tujuh pohon tumbang hingga Selasa (12/11). Satu orang tertimpa tetapi hanya mengalami luka-luka.
”Tidak ada korban jiwa. Mudah-mudahan saja sampai akhir masa prediksi (bencana) hidrometeorologi ini tidak ada korban jiwa,” harapnya.
Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram Irwan Rahadi mengatakan, tidak hanya pohon tumbang saja yang menjadi atensi.
Banjir dan banjir rob juga perlu diantisipasi. Terutama di wilayah Sekarbela dan Ampenan yang masuk zona merah banjir.
”Yang masuk radius tiga kilometer dari bibir pantai wilayah Kota Mataram menjadi kawasan yang masuk dalam kategori rawan,” kata Irwan.
Untuk mengantisipasi itu, tim Satgas di tingkat kecamatan dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait tetap siaga. Mereka bergerak sesuai dengan tupoksinya.
”Misalnya, PUPR mengangkat sampah dan sedimentasi sungai,” jelasnya.
Untuk sementara ini, Pemkot Mataram belum meningkatkan status siaga menjadi tanggap darurat. Sebab, kondisinya masih bisa teratasi.
”Semua masih dalam kondisi aman,” ujarnya.
Tetapi, hal-hal yang memungkinkan bisa terjadi perlu diwaspadai.
Terlebih lagi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah memprediksi siklus hujan di wilayah NTB bakal merata hingga akhir bulan November.
”Artinya di kawasan Lombok Barat dan Kota Mataram itu siklus hujannya akan lebih tinggi. Jika itu terjadi tentu akan meningkatkan debit air sungai,” bebernya.
Untuk mengantisipasi itu, setiap hari akan di update perkiraan cuaca. Informasi itu dikelola di WhatsApp grup Satgas Siaga Bencana.
”Begitu juga dengan laporan dari masyarakat jika terjadi bencana. Supaya tim lebih sigap menangani bencana. Kita bergerak terintegrasi,” ujarnya. (arl/r3)
Editor : Marthadi