Nur Aisyah merupakan satu dari sekian pelukis di Kota Mataram. Khusus beraliran Surealis atau menggambarkan alam bawah sadar, mimpi, dan khayalan. Perempuan itu bisa terjun ke dunia lukis berkat hobi. Sejak kecil sudah senang menggambar dan membuat komik.
Suharli, Mataram
Tangannya lihai memegang kuas kecil. Kuas yang sudah tercampur cat berwarna mencoret papan yang ada di depannya.
Tak sembarangan mencoret. Kuas berwarna itu dicoretnya pada titik tertentu. Hingga menghasilkan karya yang luar biasa. “Tidak hanya di kanvas saja saya menulis. Di papan juga bisa dijadikan sebagai media melukis,” kata seorang pelukis Nur Aisyah.
Perempuan kelahiran 27 Januari 2001 itu serius terjun ke dunia lukis beberapa bulan lalu. Sebelumnya, hanya melukis dan menggambar hanya disalurkan sebagai hobi.
”Kalau saya ini sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sudah senang menggambar,” ungkapnya.
Hobinya itu didukung orang tuanya. Hingga ia ikut les menggambar dan mewarnai. ”Begitu cara orang tuaku mendukung. Saya les hanya tiga bulan saat itu,” kenangnya.
Menggambar dan mewarnai selalu dijalaninya. Hingga, perempuan kelahiran Tulungagung, Jawa Timur itu saat masih Sekolah Menengah Pertama (SMP) mencoba memadukan gambar dengan tulisan. ”Saya coba membuat komik,” ujarnya.
Komik itu terinspirasi dari berbagai imajinasinya. Seluruhnya ia tuangkan ke dalam gambar dan tulisan. ”Tetapi, waktu saya pertama membuat komik hanya untuk konsumsi pribadi,” bebernya.
Baca Juga: Respons Aduan Warga, Bangunan Sempadan Pantai Gili Trawangan akan Ditertibkan
Belum terlalu percaya diri untuk dikonsumsi publik. Sebab menurutnya, komik yang dibuatnya belum memenuhi pasar. “Paling yang baca adalah orang tua dan teman terdekat saja,” kata dia.
Saat memasuki masa kuliah, perempuan yang akrab disapa Ais itu tetap menggambar. Media gambarnya berbagai macam. Entah buku, kanvas, tembok, maupun papan.
”Tidak pernah putus kalau menggambar,” kata perempuan alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Universitas Mataram itu.
Hingga setelah menikah pun Ais tetap menggambar. Berkat dukungan suaminya, Dedi Ahmad Hermansyah dia melebarkan saya melukis.
Hingga karyanya bisa mejeng pada beberapa pameran lukisan. Seperti pameran lukisan Microfest di Mataram. ”Pernah juga lukisan saya tampil di pameran lukisan di Bogor, Jawa Barat (Jabar),” kata dia.
Karya lukisnya memang belum setenar pelukis lain di NTB atau di Indonesia. Tetapi, Ais tetap memiliki mimpi. ”Harapan saya bisa tampil di pameran Galeri Nasional. Itu mimpi semua pelukis,” harapnya.
Semua butuh proses. Terlebih lagi, dirinya bukanlah lulusan atau akademisi seni. Sehingga, yang diperlukan adalah kerja keras. ”Ya yang penting imajinasi dalam pikiran itu bisa dilepaskan dalam kanvas, pasti ada saja yang tertarik nantinya,” ucapnya.
Ais mengatakan, menyelesaikan satu lukisan tergantung dari konsep dan feel menggambar. Sehingga, ia juga harus memikirkan tempat. ”Makanya kalau melukis saya kadang di rumah, Labuapi, Lombok Barat,” ujarnya.
Terkadang juga di sekretariat komunitas sang suami. Kebetulan sang suami mendukung dan membentuk komunitas teman baca. ”Kalau saya menggambar sendiri sepertinya akan membosankan. Fell-nya tidak bisa didapatkan,” ungkapnya. (SUHARLI/bersambung/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post