Tak mudah menternak ayam betet. Butuh ketelatenan dan disiplin.
Apalagi saat musim hujan sekarang ini. Ayam betet rentan sakit. Peternak harus ekstra waspada. Seperti merawat bayi.
------------------
Suara ayam berkokok dari dalam kandang. Saling bersahutan. Itu adalah ayam betet. Milik peternak I Wayan Pancayana.
”Kalau yang ini mas sudah berusia lebih dari setahun. Sudah siap untuk dijual,” kata peternak yang akrab disapa Panca.
Panca sudah empat tahun beternak ayam. Awalnya hanya coba-coba.
”Karena saya dengar omzet yang beternak ayam betet ini cukup besar,” kata dia.
Awalnya mencoba, ternyata beternak tidak semudah yang dibayangkan. Ternyata butuh telaten.
”Kandang harus bersih. Kalau tidak rentan terserang penyakit,” kata dia.
Jika sudah terserang, berakibat ayam mati. Kondisi itu membuatnya merugi.
”Awal mencoba rugi Rp 3 juta-an,” bebernya.
Belajar dari pengalaman, Panca tetap berupaya mengembangkan ayam Betet.
Dikarenakan ada rasa penasaran.
”Saya malah menambah modal lagi Rp 10 juta,” kata dia.
Dia membeli ayam Betet yang masih berusia dua bulan. Per ekor harganya Rp 300 ribu.
”Hanya dapat sekitar 34 ekor,” bebernya.
Itu semuanya disimpan di dalam kandang. Kandangnya pun perlu ada sirkulasi udara dan cahaya yang bagus.
”Kalau agak gelap tempatnya ayam bisa stres,” jelasnya.
Makan tidak boleh telat. Diberikan tiga kali sehari.
”Khusus butirannya. Tidak sembarangan,” kata pria berusia 31 tahun itu.
Apalagi saat musim hujan seperti ini, perlu penghangat. Agar imun ayam Betet tersebut tetap terjaga.
”Kita merawat ayam ini seperti merawat bayi. Rentan sekali sakit. Apalagi yang baru berusia sebulan atau dua bulan,” ungkapnya.
Ketika sakit, harus dibelikan obat khusus. Itu disuntikkan ke ayam.
”Kita suntik supaya imunnya lebih baik lagi,” tuturnya.
Tetapi, jika beternaknya berhasil bisa mendapatkan keuntungan yang besar.
Jika sudah berusia setahun bisa dibayar tiga kali lipat dari harga dibeli sebelumnya.
“Kalau ayam yang sudah dianggap dewasa dan siap dijual harganya bisa mencapai Rp 1,2 juta per ekor,” kata dia.
Dari modal awal Rp 10 juta, kini Panca bisa merasakan jerih payahnya beternak. Per bulan itu bisa mendapatkan uang Rp 6 juta hingga Rp 7 juta per bulannya.
“Tergantung juga dari berapa jumlah ayamnya yang laku,” kata dia.
Panca tidak saja menjualnya di wilayah Pulau Lombok. Melainkan juga sering mengirim ayam ke Bali.
”Bisa sampai dijual ke Bali karena ada teman yang berminat membayar. Dia lihat dari foto yang saya upload di media sosial,” ungkapnya.
Pecinta ayam Betet sudah memiliki komunitas. Jadi, terkadang antar pecinta ayam Betet saling jual beli.
”Tetapi, saya tidak gabung di komunitas itu. Saya hanya jual sendiri,” kata dia.
Menurutnya, menjual secara langsung ke pembeli bisa mendapatkan keuntungan lebih besar.
Sebab, mereka yang paham terhadap ayam Betet tidak akan pernah menawar.
“Jadi, sudah ada biasanya langganan yang membeli ayam,” tandasnya. (Suharli/r3)
Editor : Kimda Farida