Tak banyak orang mengetahui cerita Calon Arang. Acara itu bisa membuat banyak penontonnya kesurupan. I Gede Sudiarta, budayawan asal Lombok memberanikan diri menjadi Calon Arang. Ingin Membuktikan Keberadaan Dewi Durga di Pura Dalam.
-------------------------------------
I Gede Sudiarta menggunakan pakaian tari yang cukup padat. Nama pakaiannya Matah Gede.
Pakaian itu menjadi khas penari Calon Arang atau Walu Nate (Seorang Raja yang Janda) pada kerajaan Dirah yang dikenal dengan ilmu hitam. Itu digunakan untuk menari saat pentas menjadi Calon Arang.
Dia mentas di Pura Dalam, Cemara, Mataram. Gede menari diiringi dengan bahas sakral. "Itu menggunakan bahasa Kawi atau bahasa Jawa Kuno," kata Gede.
Ketika dia menari, ratusan penonton antusias. Ketika berjalan ke atas panggung penonton mulai dirasuki. "Para penonton itu dimasuki oleh para pengawal dari Dewi Durga di Pura Dalam," kata Gede.
Mereka yang dirasuki mendapatkan kebal. Tak bisa dibakar, tidak bisa ditusuk. "Tidak bisa luka kalau sudah kerasukan," bebernya.
Dia menceritakan historis Calon Arang. Awalnya berdiri pada kerajaan Kediri dipimpin Prabu Airlangga. Calon Arang adalah istri dari seorang pendeta yang bernama Empu Tantular.
"Empu ini memiliki saudara bernama Empu Baradah. Menjadi Brahmana di kerajaan Kediri," bebernya.
Baca Juga: Hujan Lebat, SMKN 1 Sakra Lotim Kebanjiran
Setelah Empu Tantular tidak ada, maka si Calon Arang mempelajari ilmu hitam yang didapatkan dari Dewi Durga. Yang membuat huru-hara pada kerajaan Kediri. "Menyebarkan wabah penyakit di kerajaan Kediri," bebernya.
Dengan mendapatkan anugrah dari Dewi Durga yang membuat dia sakit. Hanya saja anugerah itu disalahgunakan. "Dari itu kita ambil hikmah kalau dewa Durga itu ada di Pura Dalam," jelasnya.
Tarian tersebut sangat sakral. Tidak bisa diselenggarakan di sembarang tempat. "Tetapi menjadi kearifan budaya lokal. Yang harus dihidupkan," kata dia.
Budaya itu menjadi nilai jual bagi wisatawan. Tidak hanya wisatawan lokal. "Melainkan juga mancanegara," ujarnya.
Memerankan Calon Arang tidaklah sembarangan. Mesti harus melakukan penyucian diri atau Pawintenan. "Kalau tidak melakukan penyucian diri maka tidak bisa menerangkan Calon Arang," tandasnya. (SUHARLI/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post