Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cara Usman Jayadi Ajarkan Anaknya Fahima Alfirya Meraih Juara Cipta Puisi Tingkat Nasional

nur cahaya • Minggu, 22 Desember 2024 | 08:32 WIB

 

CARA MENDIDIK ANAK: Usman Jayadi melihat Fahima Alfirya membaca buku di rumahnya, BTN Rembiga, Mataram, Jumat (20/12).
CARA MENDIDIK ANAK: Usman Jayadi melihat Fahima Alfirya membaca buku di rumahnya, BTN Rembiga, Mataram, Jumat (20/12).
 

Fahima Alfirya meraih juara Cipta Puisi tingkat nasional.

Prestasi yang diraih Fahima tidak terlepas dari peran orang tua, Usman Jayadi.

Metodenya, memperkuat literasi pada Fahima. Juga memberikan teladan yang baik.

-----------------------

Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak menjadi kunci suksesnya keluarga.

Hingga menjadikan sang anak bisa meraih prestasi. Baik dalam bidang akademik maupun nonakademik.

Contohnya saja, Usman Jayadi. Orang tua dari Fahima Alfirya sang juara Cipta Puisi tingkat nasional.

Berkat memberikan komunikasi yang seimbang antara orang tua dan anak menjadi bukti, kini Fahima bisa meraih prestasi tersebut.

”Mendidik tidak perlu dengan keras. Itu salah. Yang terpenting adalah memberikan motivasi pada anak,” kata Usman.

Fahima mampu meraih juara Cipta Puisi tingkat nasional yang diselenggarakan Dharma Wanita Persatuan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

Lomba tersebut diikuti 89 peserta dari seluruh Indonesia.

Tulisan puisinya berjudul Dari Lautan untuk Jantung yang Berdetak menjadi nomor wahid.

Puisi itu cukup mendalam dan menyentuh. Menjadikannya keluar sebagai juara.

Bakat Fahima pertama kali dilihat ayahnya, Usman. Sebagai orang tua dia terus mengajarkan.

“Pertama saya lihat bakatnya melihat dari cara berkomunikasinya. Intonasi dan tutur pilihan bahasanya cukup baik,” kata dia.

Lalu, Usman mengasah kemampuannya. Menanamkan membaca kepada Fahima.

Selain itu, banyak menulis mengenai cerita yang dijalankan setiap harinya.

”Dari cara menulisnya saya lihat cukup bagus. Pintar memilih kata yang pas,” kata pria yang juga menjadi guru di SDN 22 Mataram itu.

Lama kelamaan, membaca dan menulis sudah menjadi kebutuhan Fahima.

Meskipun, Usman tidak mewajibkannya untuk membaca dan menulis. “Kalau saya wajibkan salah. Tetapi, dengan inisiatif sendirinya Fahima bisa berkembang,” kata dia.

Setelah bisa menulis, Fahima diajarkan menulis pantun. Sebab, jika menulis puisi itu juga harus sepadan huruf vokal akhir antar kalimat. ”Dari situ Fahima terus mengembangkan bakatnya,” bebernya.

Dengan sendirinya, Fahima belajar menciptakan puisi.

Kebetulan, ibunya yang juga bertugas di kantor perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Mataram memberitahukan ada lomba Cipta Puisi.

”Dari situ, Fahima mulai menulis karyanya,” bebernya.

Dengan bimbingan Usman, Fahima semakin bersemangat menulis puisi.

Dengan gaya tulisan yang cukup menyentuh yang berkaitan dengan kelautan dan perikanan menjadikan tulisannya menjadi pemenang.

”Saya tidak menyangka Fahima bisa meraih juara. Saya hanya memberikan motivasi saja ke Fahima,” ungkapnya.

Menurut Usman, mengajarkan anak tidak cukup dengan kata-kata. Harus juga memberikan teladan yang baik.

”Artinya, apa yang kita kerjakan yang baik pasti akan diikuti sang anak,” ungkapnya.

Misalnya, ketika ingin membaca buku cerita, dibacakan saja di depannya. Dengan sendirinya, anak itu akan mengikuti tingkah laku orang tuanya.

”Cara itu yang selalu tanamkan ke Fahima,” ujarnya.

Sehingga menjadi kebiasannya mengisi keilmuannya. Sebab, lewat membaca anak bisa membuka jendela dunia.

”Membaca itu memberikan karakter yang kuat kepada anak,” kata dia. (Suharli/r3)

Editor : Kimda Farida
#peran #juara #literasi #nasional #jendela dunia #orang tua #prestasi #puisi #cipta