Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ketika Pelajar Mataram Bersama Lawan Hoaks Lewat Pertunjukan Wayang Botol, Era Digital Mengharuskan Setiap Orang Terliterasi

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 26 Desember 2024 | 20:14 WIB

 

SEMANGAT: Belasan dalang yang memainkan wayang Botol.
SEMANGAT: Belasan dalang yang memainkan wayang Botol.
 

Pelajar SMP-SMA Darul Hikmah, Mataram punya cara menarik memerangi misinformasi dan disinformasi. Melalui pertunjukan Wayang Botol, mereka mengemas pesan anti hoaks dengan cara menarik dan mudah dicerna khalayak.

Mataram

PERTUNJUKAN wayang Botol bertajuk Jangan Salahkan Baktak itu tersaji di lapangan sekolah, Senin pagi, 16 November 2024. Penonton mencapai seratusan orang.

Selain para pelajar setempat, hadir pula kepala sekolah dan pelajar dari beberapa sekolah undangan. Selain itu ada orang tua dan wali murid, serta Fasilitator Sekolah Penggerak Kota Mataram.

Lakon Jangan Salahkan Baktak bercerita tentang perselisihan yang terjadi antara dua negeri yang saling bertetangga. Rupanya pertikaian itu terjadi lantaran kedua kubu menerima informasi hoaks yang tersebar melalui media sosial.

“Peperangan tak terelakkan,” tutur Dalang Azrul yang memainkan wayang Botol.

Beruntunglah Raden Umar Maye, tokoh bijak dalam wayang Sasak hadir menengahi. “Dia mengingatkan kedua kubu untuk menahan diri sambil mencermati berita yang mereka konsumsi,” imbuhnya.

Pesan dari lakon ini memang pentingnya untuk tabayun atau kroschek informasi yang beredar. “Jangan asal percaya begitu saja apalagi ada kesan adu domba,” ucapnya.

Dalam lakon cerita itu, diketahui siapa penyebar informasi palsu itu.

“Baktak,” ucapnya.

Masih dari lakon cerita itu, kedua kubu yang bertikai bersepakat untuk mencari dan menghakimi Baktak. “Tapi Umar Maye buru-buru mencegahnya,” terangnya.

Sekadar gambaran, Banyak merupakan tokoh yang lekat diasosiasikan sebagai provokator. Namun kali ini lakon cerita menggambarkan bagaimana Umar Maye sebagai sosok yang arif, menjelaskan bahwa setiap diri kenyataanya punya karakter Baktak.

Setiap orang bisa dengan mudah menjadi Baktak. Ketika mereka ikut senang membawa kabar-kabar hoaks yang mengadu domba.

“Pesan dari lakon ini bagaimana membentengi diri dengan kesadaran dan pengetahuan tentang cara menangkal hoaks. Jangan mudah percaya, jangan mudah terperdaya,” ucapnya.

Penting setiap orang untuk memeriksa setiap informasi yang diperolehnya. Jika ternyata berisi hoaks maka tidak boleh disebarluaskan.

Pertunjukan wayang itu dimainkan oleh belasan dalang dan sekahe (pemain gamelan, Red) merupakan hasil kerja sama Sekolah Pedalangan Wayang Sasak, SMA Darul Hikmah, dan Program Studi Sendratasik UNU NTB. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Sosial Media 4Peace, yang didukung UNESCO, Wikimedia, Wiki Foundation, dan Uni Eropa.

Ketua Yayasan Pedalangan Wayang Sasak Abdul Latief Apriaman menyatakan bahwa kegiatan pertunjukan wayang botol ini adalah bagian dari gerakan literasi Sibaturta (Simak, baca, tulis, tutur, dan tayang). “Sebuah gerakan literasi melatih kemampuan menyimak, membaca, menulis dan bertutur, serta kemampuan menayangkan konten-konten baik di media sosial,” terangnya.

Menurutnya, era digital mengharuskan setiap orang, termasuk kalangan pelajar untuk terliterasi. “Para pelajar adalah aktor potensial gerakan Bersama Melawan hoaks,” tegasnya.

Sekolah Pedalangan Wayang Sasak dan Prodi Sendratasik UNU NTB, saat ini telah membangun kesepahaman untuk bersama menjalankan kegiatan literasi digital Sibaturta di  kalangan pelajar. “Saat ini Sibaturta sudah disosialisasikan ke 36 Sekolah di Kota Mataram, alhamdulillah sebagian sudah menerima dan menjalankannya, menggunakan media wayang Botol,” ucap Wahyu Kurnia, Kaprodi Sendratasik UNU NTB.

Kepala SMA Darul Hikmah Mataram, Ahmad Zaini mengatakan pertunjukan wayang Botol sejalan dengan program Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). “Dengan kegiatan ini anak-anak kami belajar bijak dalam bermedia sosial, belajar tentang budaya, serta belajar menangani sampah plastik,” katanya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post
#Pelajar #botol #murid #Hoaks #negeri #media sosial #wayang #pertikaian #Mataram #informasi