LombokPost-Satu lagi kemewahan tercipta di ujung barat Kota Mataram. Sebuah lokasi wisata yang menghadirkan tata konsep artistik. Perpaduan khazanah kota tua, pelabuhan, panggung serta lapak yang didesain futuristik.
Disebut futuristik karena meski menggunakan desain budaya lumbung, namun tetap elegan dan modern. Hal ini ditegaskan oleh keberadaan mini amfiteater atau gelanggang terbuka untuk pertunjukan karya seni lintas peradaban.
Wali Kota Mataram Dr H Mohan Roliskana mengunjungi eks pelabuhan Ampenan pasca dinyatakan tuntas pengerjaan pada 31 Desember 2024 kemarin. Orang nomor satu di Kota Mataram ini mencermati setiap detail bangunan bernilai Rp 4,5 miliar itu.
“Kami ingin eks pelabuhan Ampenan ini tidak hanya menjadi lokasi wisata, tapi juga ikon baru Kota Mataram,” ucap Mohan.
Pernyataan Mohan secara eksplisit menyiratkan keinginannya eks pelabuhan sebagai salah satu mahakarya yang dibanggakan. Ia pun tak ingin buru-buru meresmikan bangunan tersebut, sebelum segala sesuatunya sempurna dipersiapkan.
Pembenahan itu meliputi area untuk arena pembelajaran, olah raga, dan lapak. “Artinya penataan tidak sampai di sini saja, tapi bagaimana agar pengelolaan ke depan terencana dengan baik,” imbuhnya.
Singkatnya sebelum diresmikan semua harus telah tertata dengan baik. Tak harus buru-buru diperkenalkan pada publik.
Sebagai contoh untuk lapak-lapak yang masih berkeliaran. Satu persatu pedagang yang telah didata dan telah dikurasi akan ditempatkan pada lapak yang tersedia.
Namun sebelumnya mereka akan diminta memegang teguh komitmennya. Salah satunya, tidak hanya berusaha di sana tetapi juga memelihara kawasan eks pelabuhan terawat dari sisi kebersihan dan keamanan.
“Jadi cukup, tidak boleh ada kesan kumuh lagi,” tekannya.
Eks pelabuhan Ampenan menjadi spot wisata unggulan berikutnya di Kota Mataram yang melibatkan warga yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Langkah ini mengikuti jejak kesuksesan pengelolaan oleh Pokdarwis di Taman Wisata Loang Baloq.
“Kami berharap eks pelabuhan Ampenan menjadi destinasi wisata dengan daya tarik sekuat dan sepopuler taman wisata Loang Baloq,” tekannya.
Menurut Mohan, kuncinya adalah kedisiplinan merawat dan menjaga keamanan dan kebersihan. Tempat ini dipertegas warnanya sebagai lokasi yang nyaman, ramah, dan aman untuk belajar, olah raga, dan juga rekreasi.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram Cahya Samudra mengatakan, pembenahan lokasi sebelum diresmikan akan dipersiapkan pokdarwis. “Mereka yang akan mempersiapkan lokasi sampai nantinya ready untuk di-launching,” katanya.
Ia menegaskan, seperti arahan yang disampaikan wali kota padanya, waktu peresmian tidak akan dibuat terburu-buru. Segala sesuatunya akan dipersiapkan sampai saatnya tiba eks pelabuhan diresmikan secara kolosal dan diumumkan kepada khalayak ramai.
“Kami akan sosialisasikan kembali mengenai hak dan kewajiban para pedagang dan tidak boleh ada lagi lapak-lapak yang berkeliaran,” paparnya.
Situasi saat ini, eks pelabuhan Ampenan dikatakan telah mengalami peningkatan kunjungan. Sekalipun belum diluncurkan namun vibes-nya sebagai lokasi wisata yang mewah telah mengundang wisatawan berbondong-bondong mengunjunginya.
“Pendapatan pedagang yang ada di sana meningkat berkali lipat saat momen pergantian tahun kemarin,” jelasnya.
Cahya yakin setelah penataan dan peresmian wisatawan yang datang bakal lebih meledak lagi. “Jadi selama satu-dua bulan seperti arahan pak Wali kita akan melakukan penataan lokasi dan wisatawan. Selama masa penataan kita akan dibantu rekan-rekan dari Satpol PP,” paparnya.
Wajah baru eks pelabuhan Ampenan telah hadir dengan tampilan mengesankan. Sebuah lokasi wisata berupa ‘panggung besar’ menyaksikan pertunjukan alam matahari terbenam (baca: sunset).
Identitas baru ini ditekankan berulang oleh Cahya sebagai brand atau warna yang dapat mendekatkan eks pelabuhan dengan para wisatawan. “Ini akan menjadi tempat yang istimewa untuk menyaksikan sunset,” tekannya.
Eks pelabuhan dikemas untuk menghadirkan nilai keanggunan dan kemewahan dalam berwisata. Nilai yang sangat identik dan membuatnya berbeda dengan spot wisata lain, seperti Loang Baloq yang identik dengan wisata religi.
Hanya dengan bergeser sedikit ke arah timur wisatawan seperti masuk dalam ‘lorong waktu’ ke masa lampau. Dan berdiri dalam suasana bangunan era Hindia Belanda (baca: Kota Tua Ampenan).
Sebuah sajian wisata yang mengagumkan ini yang akan menjadi ciri khas baru eks pelabuhan. Cahya menekankan, pemeliharaannya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, pokdarwis, dan pedagang.
“Kami meminta pengunjung juga menjaga kebersihan. Nanti kami akan perbanyak jumlah tong sampah agar sampah dibuang pada tempatnya. Kami berharap pengunjung aware dengan pentingnya memelihara kebersihan lingkungan,” pungkasnya. (zad/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post