Ni Nyoman Putri Widiasari salah satu penari di Kota Mataram. Berhasil tampil hingga ke luar negeri.
Kini, dengan pengalamannya dia ingin menularkan ilmu ke para penari muda di Mataram.
---------------------------------
Wajahnya cantik. Berkulit putih. Rambutnya terurai panjang. Itulah sedikit menggambarkan ciri Ni Nyoman Putri Widiasari.
Putri sudah menari sejak duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar. Awalnya, dia ingin terjun ke dunia seni tari setelah melihat pentas seni. "Waktu itu diajak nonton sama ibu saya," kenang Putri.
Berkat dukungan orang tuanya, Putri masuk ke sanggar tari di wilayah Cakranegara.
Waktu pertama belajar, tidak terlalu percaya diri.
"Tetapi guru tari saya terus mengajarkan," kata dia.
Untuk meningkatkan kepercayaan diri, gurunya meminta tampil pada acara pentas seni di kelas lingkungan.
"Waktu pertama kali tampil sangat gugup," kata dia.
Apalagi saat di atas panggung, beberapa penonton menertawakan.
Tetapi, ibunya yang selalu mendampingi tetap tersenyum dan memberikan suport.
"Saya semakin semangat," kenang remaja berusia 23 tahun.
Sukses menghibur penonton, semangat Putri semakin meningkat. Terus berlatih.
"Menari tidak mudah. Harus mengetahui ritme dan penyempurnaan gerakan," kata dia.
Saat berlatih badan dibuat sedikit letih. Sempat waktu itu ingin berhenti menari. "Tetapi, bapak dan ibuku terus mendorong saya untuk belajar menari," kata dia.
Ketika duduk di bangku SMA, Putri semakin mahir menari. Hingga mewakili pentas di beberapa daerah.
"Seperti di Bali, Bandung, Jogjakarta, dan Jakarta," ujarnya.
Dengan pengalamannya itu, Putri mendapatkan kepercayaan mewakili sekolahnya, SMKN 2 Mataram, pada pentas seni tingkat nasional.
"Waktu itu pentasnya di Aceh," bebernya.
Tetapi, pada saat pentas itu tidak mendapatkan juara. Karena, rekannya tampil mengalami cedera.
"Kita tidak bisa tampil maksimal karena temenku jatuh dari panggungnya yang jebol," kata dia.
Meski tidak meraih juara, tetapi dirinya dipilih mewakili Indonesia. Dikirim ke Malaysia.
"Waktu itu ada pentas untuk nari di Malaysia. Saya mewakili NTB," jelasnya.
Seni tari sudah menjadi hobi. Meski sudah tidak lagi pentas di beberapa daerah, Putri tetap berlatih.
"Saya harus bertahan di dunia seni," kata dia.
Kini dia melanjutkan kuliahnya di Institut Seni Indonesia (ISI), Denpasar, Bali. Mengambil jurusan guru seni dan budaya.
"Saya ingin perdalam di bidang seni," ujarnya.
Menurutnya, tak banyak orang yang ingin terjun di dunia seni dan budaya.
Padahal, seni dan budaya itu menjadi jurusan yang paling potensial untuk dikembangkan.
"Terutama dalam memajukan dunia pariwisata," kata perempuan kelahiran 11 Januari 2001.
Bali bisa maju karena seni dan budayanya. Kalau pariwisata alam tidak diimbangi dengan seni tidak akan pernah hidup.
"Itu yang belum disediakan di Mataram," kata dia.
Event pariwisata itu didukung karena adanya seni dan budaya yang dijual.
"Itu yang ingin saya tularkan kepada anak-anak Mataram nantinya," ujarnya.
Pengalamannya mengembangkan seni ditambah dengan pembelajaran di perguruan tinggi yang didapatkan akan diajarkan kepada generasi penerus.
"Makanya saya mengambil jurusan guru. Tujuannya supaya agar bisa mengajar," tandasnya. (Suharli/r3)
Editor : Kimda Farida