LombokPost-Kepala Puskesmas Dasan Agung, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram angkat bicara soal banyaknya nyamuk yang gentayangan di kawasan Islamic Center.
Kemungkinan banyaknya nyamuk yang dikhawatirkan tergolong nyamuk Aedes Aegypti tersebut karena Islamic Center merupakan tempat publik.
“Disana kan tempat umum, banyak orang berjualan,” kata Kepala Puskesmas Dasan Agung Apriani Yulianingsih yang ditemui di ruangannya, Kamis (9/1).
Menurutnya, kondisi lingkungan Dasan Agung memang padat. Sehingga potensi untuk adanya kasus DBD itu sangat besar.
Maka dari itu, ia mengimbau warga "perang" melawan nyamuk.
Caranya dengan memperhatikan lingkungan dan rutin melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Tidak menunggu adanya kasus, baru melakukan penanganan.
“Kalau potensi terjadi kasus itu pasti. Rumah berdekatan, dapur ketemu dapur. Pola hidup juga masih belum aware dengan kebersihannya,” terangnya.
Dengan ini, nanti pihaknya akan segera berkoordinasi dengan pengelola Islamic Center dan pihak kelurahan.
Kemudian melakukan pengecekan, PSN sekaligus pemberian bubuk abate.
“Karena musim hujan ini mungkin banyak plastik-plastik bekas gelas minum dibuang sembarangan. Hujan panas-hujan panas itu kan menimbulkan jentik,” jelasnya.
Pihaknya mengaku, pekan pertama di 2025 ini belum ada laporan pasien mengidap Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Dasan Agung.
Memang sempat dikabarkan, ada dua warga Dasan Agung yang saat ini menjadi pasien di salah satu Rumah Sakit (RS) Kota Mataram namun hingga saat ini belum mendapatkan informasi pasti.
“Belum ada terlapor kasus di 2025,” sebutnya.
Wilayah kerja Puskesmas Dasan Agung ada di tiga kelurahan, yakni Kelurahan Dasan Agung, Kelurahan Dasan Agung Baru, dan Kelurahan Gomong.
Jika ada warga yang dilaporkan RS atau Kepala Lingkungan (Kaling) maka pihak puskesmas akan langsung melakukan epidiomologi.
Untuk mengecek jarak rumah pasien dengan potensi jentik-jentik nyamuk di sekitarnya.
“Mau dia positif tidak positif kita akan anjurkan ke masyarakat untuk melakukan PSN,” sebutnya.
Jika setelah melakukan PSN, barulah pihak Puskesmas dapat mengajukan rekomendasi ke Dinas Kesehatan (Dikes) Mataram untuk melakukan fogging.
Sesuai dengan aturan, fogging menjadi opsi terakhir untuk pemberantasan nyamuk DBD.
Kalau fogging yang dibunuh hanya nyamuk dewasa dan bersifat sesaat. Dengan efek samping, sesak nafas dan asap yang menempel.
“Karena yang paling efektif itu PSN nya. Malah kalau habis disemprot itu lebih kuat dia nyamuknya,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dian penanggungjawab program DBD Puskesmas Dasan Agung mengatakan untuk 2024 Puskesmas Dasan Agung menjadi Puskesmas dengan wilayah kasus DBD terendah se kota Mataram.
Dari jumlah penduduk tiga kelurahan wilayah kerja ada 38.444 jiwa hanya ada 10 kasus di 2024.
“Jumlah masyarakat memang paling banyak di Dasan Agung ini. Dasan Agung itu 8 kasus, Dasan Agung Baru 2 kasus, dan Gomong tidak ada,” terangnya.
Baca Juga: Pemprov Gugat PT Lombok Plaza Rp 36 Miliar Terkait Persoalan NCC
Menurut data yang ada di Dikes Kota Mataram, pada tahun 2023, terdapat 400 kasus dengan jumlah kematian dua kasus.
Pada tahun 2024 jumlah kasusnya meningkat menjadi 583 kasus.
Penyebab kenaikan itu dipengaruhi cuaca. Hujan yang terus menerus dapat meningkatkan jentik nyamuk.
Sistem pencegahan yang dilakukan melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN) pasca hujan. Yang perlu dilakukan mendorong masyarakat meningkatkan kesadaran masyarakat.
“Makanya yang perlu kita lakukan adalah pencegahan dini,” kata Kepala Dikes Kota Mataram dr Emirald Isfihan. (chi/r3)
Editor : Kimda Farida