Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Perjalanan Panjang Heri Kiswanto Jadi Sopir Bus Antar Kota Antar Provinsi, Hafal Mati Setiap Tikungan dari Bima Hingga Jakarta

Sanchia Vaneka • Jumat, 24 Januari 2025 | 11:15 WIB

 

KENANGAN: Heri berpose di depan bus Surabaya Indah yang terparkir di Terminal Mandalika, Kota Mataram, belum lama ini.
KENANGAN: Heri berpose di depan bus Surabaya Indah yang terparkir di Terminal Mandalika, Kota Mataram, belum lama ini.
 

Jalan raya adalah kanvas kehidupan bagi Heri Kiswanto.

Setiap hari, ia melukis perjalanan dengan segala kisahnya, suka dan duka.

Sebagai supir bus antar kota antar provinsi (AKAP), Heri berhadapan dengan berbagai tantangan, mulai dari kemacetan lalu lintas, kondisi jalan yang buruk, hingga cuaca yang tidak menentu.

-----------------

Sejak usia 29 tahun, Heri Kiswanto telah akrab dengan setir bus. Selama lebih dari satu dekade, ia menjadi bagian tak terpisahkan dari lalu-lalang kendaraan antar kota dan antar pulau.

Jalur Bima-Jakarta via Mataram menjadi saksi bisu dedikasi Heri dalam mengantarkan penumpang hingga tiba d tujuannya dengan selamat.

”Bisa dibilang, saya ini besar di jalan," ujar Heri.

Tiga hari perjalanan pulang pergi antara Jakarta dan Bima menjadi hal yang biasa baginya. 

“Dari Bima, saya berangkat pagi dan sampai di Jakarta juga pagi," tambahnya. 

Jarak yang ditempuh dan waktu tempuh yang panjang tak menyurutkan semangatnya.

"Jadi supir bus itu bukan cuma kerja, tapi juga hobi saya," ungkap Heri. 

Momen-momen santai menjadi hal yang sangat dinantikan oleh Heri.

Saat berhenti di rest area, ia akan memanfaatkan waktu untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku.

Sesekali, ia juga menyempatkan diri menelepon istri dan anak-anaknya.

Suara tawa anak-anaknya selalu berhasil membuatnya merasa lebih tenang dan bersemangat kembali.

“Anak-anak saya ada yang di Bima, ada yang di Mataram. Kangen juga sih pengen sering-sering ketemu," ujarnya dengan nada sedikit sedih

Meski begitu, ia tak menampik adanya risiko yang harus dihadapi. 

“Ya, begadang sama makan yang nggak teratur itu sudah jadi risiko. Terus, ya kecelakaan juga bisa terjadi kapan aja," ujarnya.

Kenangan akan kecelakaan akibat ternak yang lepas di jalur Lombok-Bima masih terpatri jelas dalam ingatannya.

Namun, pengalaman pahit itu tak membuatnya patah semangat.

”Waktu itu, bus saya hancur kena ternak. Banyak banget hewan ternak yang dilepas begitu saja," kenangnya. 

Sebagai seorang pengemudi yang sering melintasi berbagai medan, Heri memiliki pengetahuan yang sangat baik tentang jalanan.

Ia bahkan hafal setiap tikungan dan tanjakan di jalur Bima-Jakarta dan Sumbawa.

”Jalan di Mataram mah udah hafal banget saya," ujarnya percaya diri. 

Ia merasa bersyukur bisa berinteraksi dengan berbagai macam orang dari latar belakang yang berbeda-beda. 

"Saya sering ketemu macam-macam orang. Ada mahasiswa, ada juga yang kerja. Pokoknya campur-campur," tuturnya. 

Heri berharap, jalur bus yang ia lalui, terutama Bima-Mataram, akan semakin baik ke depannya.

Setiap harinya, Heri harus menghadapi berbagai tantangan di jalan raya.

Jalanan yang rusak, kemacetan lalu lintas, dan cuaca ekstrem menjadi hal yang biasa baginya.

Ia harus selalu waspada dan siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. 

“Sekarang kan udah ada bus sleeper yang lebih nyaman. Tapi jalannya masih banyak yang rusak, apalagi kalau musim hujan. Pernah tuh, saya ketemu jalan yang banjir, sampai-sampai tanah sama airnya campur jadi satu." ucapnya. (Sanchia Vaneka/r7)

Editor : Kimda Farida
#penumpang #Ekstrem #Mahasiswa #akap #Jalan #jalan raya #Supir Bus #Hujan #tantangan #perjalanan