Kembangkan Sekolah untuk Mendukung Usaha Kecil. Yang Kuliah ataupun Lulus, Ikut Mengabdikan Diri. Ada pemuda yang punya tekad tinggi di balik eksistensi sekolah ini. Mereka mengabdi tanpa pamrih, membangun daerah dari pesisir pantai.
------------------------
Sekolah Pesisi Juang dibangun di atas lahan seluas dua are. Bangunan ini merupakan hibah dari sebuah lembaga NGO luar negeri.
“Ada donatur dari luar negeri,” ungkap Kepala Sekolah Pesisi Juang Bintaro Ampenan, Jauhari Tantowi.
Awalnya, bangunan itu memiliki banyak ruangan dan kamar. Pengunjung kerap dibuat kebingungan karena banyaknya pintu yang harus dibuka.
“Mirip labirin, sampai akhirnya sedikit demi sedikit kami perbaiki secara swadaya, menyatukan beberapa ruangan menjadi tempat belajar,” kisahnya.
Kini, situasinya menurut Tantowi jauh lebih nyaman. Namun, sekolah ini masih belum memiliki meja dan bangku belajar bagi siswa.
Namun, bukan fasilitas mewah yang membuat sekolah ini diminati anak-anak Pantai Bintaro. Tantowi justru menilai kekuatan sekolah ini terletak pada semangat mahasiswa dari Kampung Bugis yang mendidik adik-adik mereka.
Semangat itu membuatnya tak pernah pusing memikirkan gaji guru yang mengajar. Pemuda-pemudi yang beruntung mengenyam pendidikan tinggi dengan sukarela kembali ke kampung halamannya untuk mengajar anak-anak pantai.
“Jadi mereka yang masih kuliah atau sudah lulus, mengabdikan diri di sini. Mengajar anak-anak pantai supaya pintar,” ucapnya.
Kembalinya pemuda-pemudi Bintaro dari bangku kuliah ke kampung halaman tak ubahnya laskar-laskar yang membela nasib kampungnya. Bahkan, bukan hanya dari Bintaro, ada juga mahasiswa dari kawasan tengah kota.
“Ada yang dari Babakan, masih kuliah, juga mengajar di sini,” jelasnya.
Inilah yang membuat Sekolah Pesisi Juang tak pernah kehabisan guru. Puluhan siswa, baik yang mengikuti kelas reguler maupun les, selalu mendapatkan guru-guru muda dengan semangat mengajar tinggi.
“Kami bergotong royong di sekolah juang ini,” ungkapnya.
Pemuda-pemudi yang mengajar di Sekolah Pesisi Juang tidak hanya berasal dari mahasiswa perguruan tinggi dalam daerah. Ada juga remaja Bintaro yang kuliah di luar negeri dan mengabdikan diri di sekolah ini saat liburan semester.
“Kami juga punya guru tamu,” terangnya.
Guru tamu itu adalah mahasiswa dari luar daerah yang datang ke Bintaro Ampenan. “Mereka tinggal dan tidur di sini selama berkegiatan,” ucapnya.
Mereka berasal dari perguruan tinggi di Pulau Jawa hingga luar negeri. “Tujuan mereka ke sini biasanya untuk experience, merasakan hidup sebagai nelayan, ikut menangkap ikan, dan memasang jala di tengah laut. Sebagai imbal baliknya, mereka mengajar anak-anak pantai,” katanya.
Ke depan, ia ingin mengembangkan Sekolah Pesisi Juang. “Selain menjadikan sekolah ini sebagai wisata edukasi, kami ingin tempat ini dimanfaatkan sebagai gudang produksi UMKM atau usaha kecil yang ingin berkembang,” ujarnya.
Saat ini, sudah ada satu usaha kecil yang siap mereka dukung, yakni produksi kerupuk tongkol. Mereka telah menyiapkan satu ruangan khusus yang cukup sebagai gudang sekaligus tempat produksi.
“Lokasinya sudah kami tentukan di sana,” katanya sambil menunjuk sebuah kamar kosong. “Nanti kami yang akan bantu produksi dan pemasarannya,” pungkasnya. (*/LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r7)
Editor : Redaksi Lombok Post