Sampah kertas sering dianggap tidak berguna, tapi tidak di tangan Theo Setiadi Suteja. Theo mengubah sampah kertas menjadi rumah yang indah dan unik. Namanya The Griya Lombok, rumah kertas pertama dan satu-satunya di Indonesia, yang terletak di Ampenan Selatan, Kota Mataram.
------------------------
Sepintas, rumah tiga lantai di Lingkungan Karang Panas, Ampenan Selatan ini tampak seperti lumbung atap rumah khas Lombok. Namun, saat daun pintu dibuka, terlihat keunikan yang mencolok. Sebagian besar dinding rumah ini terbuat dari limbah kertas, sekitar 30 persen dari keseluruhan bangunan.
“Sini, ketok ini,” ujar Theo seraya menunjukkan dinding rumah yang berwarna merah dan kokoh, terbuat dari kertas.
Rumah ini dibangun dengan fondasi bubur kertas yang dicampur lem, sebuah inovasi ramah lingkungan yang masih jarang diketahui. Dinding lantai satu sebagian besar mengusung sentuhan alami dengan adonan limbah kertas dan lem, menciptakan tekstur organik yang menarik. Sentuhan akhir plesteran dari limbah kertas di seluruh bagian rumah memberikan kesan hangat dan nyaman.
“Makanya disebut the one and only paper house in Indonesia, bahkan di dunia,” sebutnya bangga.
Dengan santai, mengenakan kain Bali bercorak, Theo menceritakan proses pembuatan perabot dan hiasan rumah yang hampir ada di setiap sudut rumahnya. Pillar bercorak lukisan timbul, kursi, meja makan, meja tamu, rak, tempat hiasan lampu, dan berbagai furniture rumah lainnya, semuanya terbuat dari kertas.
“Ini semuanya kertas,” sebutnya.
Theo mengumpulkan limbah kertas dari pemulung, mitra, dan tempat sampah di seluruh kota. Kertas HVS, kotak makanan, bungkus rokok, tray telur, dan kertas nasi dibelinya dengan harga murah.
“Dulu, pada 2010, koran masih banyak, murah dapat Rp 500 per kilogram. Sekarang, volumenya berkurang, sulit cari,” ujarnya.
Setiap jenis limbah kertas diolah menjadi produk berbeda. Kertas HVS yang lebih lembut dijadikan furniture, sedangkan kertas koran yang lebih tebal digunakan untuk produk lebih besar seperti kursi dan dinding.
Theo menghancurkan kertas-kertas itu dengan air hingga menjadi bubur, kemudian mencampurnya dengan lem sebagai perekat. Adonan tersebut dibentuk dengan tangan, tanpa bantuan mesin, lalu dibiarkan mengering di bawah sinar matahari.
“Satu bata ini membutuhkan dua kilogram kertas, sedangkan bata ini kurang dari satu kilo. Penyusutan berat itulah yang menentukan kualitasnya,” jelasnya.
Perabot dan hiasan rumah tangga buatan Theo tidak hanya unik, tetapi juga kuat dan tahan lama. Bahkan, perabot berbahan limbah kertas ini diklaim anti pecah, tahan api, dan tahan gempa. Untuk membuktikannya, Lombok Post sempat mencoba membanting asbak dari kertas bekas yang dilempar ke lantai berkali-kali, namun tetap utuh.
“Butuh sekitar seminggu untuk membuat bata ini. Kalau pillar, prosesnya sekitar satu bulan,” terangnya.
Di galeri karyanya, seperti laboratorium seni yang memukau, terdapat ratusan produk berbahan limbah kertas yang tidak akan pecah meskipun dibanting berulang kali. Harga barang-barang unik ini berkisar antara Rp 50 ribu hingga ratusan juta. Theo mengaku, meski produknya belum diekspor, ia sudah menerima banyak pesanan dari Eropa.
“Karena produk ini tidak ada di luar, hanya ada di sini,” sebutnya.
Membuat karya dari bubur kertas yang lembek menjadi benda besar memang tidak mudah. Namun, bagi Theo, yang dianggap sebagai pekerjaan biasa ini adalah hobi yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan.
“Saya sendiri, tidak pakai mesin. Ya susah, tapi butuh kesabaran,” ujarnya dengan senyum simpul. (SANCHIA VANEKA/bersambung/r7)
Editor : Redaksi Lombok Post