Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

LIDI Foundation, Pembuat Kursi Roda Difabel Pertama di Indonesia Timur (3-Habis) 

nur cahaya • Senin, 10 Februari 2025 | 13:59 WIB

 

BERSYUKUR: Salah satu kegiatan LIDI Foundation saat menyalurkan kursi roda bagi difabel.
BERSYUKUR: Salah satu kegiatan LIDI Foundation saat menyalurkan kursi roda bagi difabel.
 

Wisnu ingin mencetak sebanyak-banyaknya kursi roda khusus bagi kaum difabel.

Setelahnya, membagikannya secara cuma-cuma. 

-------------------------------

MESKI satu kursi roda dihargai Rp 5 juta, namun Lalu Wisnu Pradipta mengatakan para penyandang disabilitas mendapatkan kursi roda karyanya dengan gratis. Bagaimana caranya?

“Jadi saya aktif mencari lembaga donor di dalam dan luar negeri yang punya misi sosial,” tuturnya, Jumat (7/2).

Beberapa lembaga donor itu kemudian membiayai pembuatan kursi roda. Sebagai kompensasinya, lembaga donor mendapatkan beberapa hak.

Antara lain, bebas menentukan ke siapa kursi roda akan disalurkan. “Ke siapa, berapa orang, mereka yang bebas menentukan,” terangnya.

Lembaga donor juga diberikan hak mencantumkan nama lembaga di kursi roda yang disumbang. “Ini sebagai penghargaan atas kepedulian mereka, maka logo atau nama lembaganya kami sablonkan,” ucapnya.

Saat memproduksi 30 kursi roda khusus tahap pertama, pria yang pernah berkarir di Batam Pos itu menggunakan pola ini.

Ia menghubungi sejumlah lembaga donor yang ingin menyalurkan bantuan sosial.

“Setelah ditentukan siapa penerimanya, saya pergi mengukur badan penerima, membuatkan kursi roda, dan memberikan secara gratis,” ucapnya.

Sebanyak 20 unit telah disalurkan, Wisnu mengatakan tidak ada keluhan dengan karyanya.

Para difabel justru bersyukur dengan bantuan itu dan berterima kasih telah dicarikan lembaga donor yang peduli pada keterbatasan mereka.

“Untuk komunikasi dengan lembaga donor, saya gunakan LIDI Foundation,” terangnya.

Selain dengan lembaga donor, Wisnu membangun komunikasi dengan pemerintah melalui dinas sosial.

Hanya saja, ia mengungkapkan tantangan keterbatasan anggaran yang diberikan.

Anggaran pengadaan perunit, jauh di bawah standar harga minimal.

“Dalam RPJMD (salah satu pemerintah daerah, Red) tercantum satu unit Rp 1.250.000 padahal harga minimal untuk pembuatan kursi roda khusus Rp 5.000.000,” gerutunya.

Lainnya lagi, Wisnu juga membangun komunikasi dengan sejumlah rumah sakit.

“Kami bisa membuat kursi roda yang dapat membantu korban atau pasien yang mengalami lumpuh total,” ucapnya.

Kursi roda itu didesain khusus agar bisa membawa pasien dengan aman.

Di samping itu, perawat juga dapat memberikan tindakan medis selama perjalanan ke rumah sakit.

Terlepas dari berbagai kemampuan yang dituturkannya, Wisnu mengungkapkan, terdapat satu persoalan dalam penyalur kursi roda bagi para difabel.

Sampai saat ini ia masih kesulitan mendapat data penyandang disabilitas di NTB.

Beberapa lembaga yang dikunjungi, belum dapat menunjukkan data akurat by name by address penyandang disabilitas di wilayahnya.

“Yang ada, hanya gambaran jumlah sekitar 29-32 ribu penyandang disabilitas di NTB,” ucapnya.

Ia berpikir jika data itu ada, LIDI Foundation dapat memberikan kontribusi menangani lebih banyak disabilitas yang belum punya alat bantu beraktivitas.

“Kami berharap bisa berbuat lebih banyak lagi untuk membantu teman-teman difabel,” pungkasnya. (Lalu Mohammad Zaenuddin/r7)

Editor : Kimda Farida
#disabilitas #Penerima #lembaga #gratis #kaum dhuafa #Kursi Roda #pasien #difabel #donor