Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BMKG Temukan Gangguan Atmosfer Picu Cuaca Ekstrem, Intensitas Banjir Semakin Sering

nur cahaya • Rabu, 12 Februari 2025 | 08:20 WIB

 

MENANTI SOLUSI: Seorang perempuan mengangkat sarungnya agar tidak basah terkena air yang menggenangi lingkungannya di Baturinggit, Kota Mataram. Warga menanti solusi jangka panjang dari Harum.
MENANTI SOLUSI: Seorang perempuan mengangkat sarungnya agar tidak basah terkena air yang menggenangi lingkungannya di Baturinggit, Kota Mataram. Warga menanti solusi jangka panjang dari Harum.
 

 

LombokPost-Hujan deras disertai angin kencang yang melanda Kota Mataram dalam beberapa hari terakhir menyebabkan banjir, genangan, dan pohon tumbang di berbagai lokasi.

Salah satu wilayah yang terdampak parah adalah Sandubaya. Ketinggian air di kawasan ini mencapai pinggang orang dewasa.

“Salah satu penyebabnya, air Sungai Unus naik,” kata warga setempat I Gede Wiska, Senin (10/2).

Pria yang juga anggota DPRD Kota Mataram ini melaporkan ribuan warga terdampak, dengan ratusan rumah terendam. Warga yang tinggal di sempadan sungai dan sekitar drainase berusaha menyelamatkan harta benda agar tidak hanyut terbawa arus.

Hujan yang turun sepanjang hari di Kota Mataram dan NTB menyebabkan volume air meningkat drastis. “Titik-titik banjir ada di Babakan, Abian Tubuh, Gedur, Turide, hingga kawasan selatan Sungai Unus,” ucapnya.

Banjir juga terjadi di Griya Pagutan, Gebang, dan saluran sungai yang mengalir ke Kecamatan Sekarbela. “Ada juga laporan dari kawasan selatan Pagutan, Karang Genteng, dan Karang Buaya,” tambahnya.

Melihat luasnya dampak banjir, anggota Komisi III DPRD Kota Mataram ini berkoordinasi dengan Dinas PUPR Kota Mataram. “Bu Lale (Kadis PUPR, Red) bilang luberan air tidak hanya dari hulu, tapi juga dari samping,” ujarnya.

Kawasan yang berkontribusi pada peningkatan debit Sungai Unus antara lain Dasan Cermen hingga Labuapi di Lombok Barat, serta pemukiman di Babakan, Abian Tubuh, dan Mandalika. “Ini kemudian menyatu dan membuat sungai meluap,” katanya.

Luapan air juga terjadi di kawasan hilir Sungai Unus, seperti Jempong. “Perkiraan jumlah warga terdampak mencapai ribuan,” ungkapnya.

Kemudian, di Kecamatan Mataram, banjir menggenangi Pagutan Timur dan Pagutan Barat. Camat Mataram Budi Wartono menyebut, banjir melanda rumah-rumah di dekat bantaran sungai.

“Seperti yang kita ketahui, volume hujan merata. Jadi terlalu besar arus air dari hulu. Itu masuk semua ke kali-kali kita yang melintasi Pagutan,” jelas Budi.

Banjir setinggi mata kaki merendam puluhan rumah di Pagutan. Air mulai naik sejak Senin pagi (10/2) dan mulai surut di beberapa titik pada sore harinya.

“Walaupun hanya setinggi mata kaki, halaman warga tetap tergenang,” ucapnya.

Menurutnya, penanganan jangka pendek harus dilakukan di seluruh kecamatan di Kota Mataram, terutama pembersihan sampah di saluran air. Ia melihat ada beberapa titik kali yang tersumbat.

“Ada titik-titik yang mengecil karena perkembangan permukiman dan perumahan penduduk,” terangnya.

Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada evakuasi, karena warga masih bisa mengungsi ke rumah kerabat yang tidak terdampak.

Selain Kecamatan Mataram, banjir juga melanda Kecamatan Sandubaya dan Kecamatan Sekarbela akibat luapan air sungai.

Camat Sandubaya Henny Suyasi mengatakan, luapan Sungai Unus merendam sekitar 40 rumah di Kelurahan Babakan sejak pukul 11.00 Wita. “Luapannya sampai ke jalan, sekitar di bawah lutut,” sebut Henny.

Ia menambahkan, sebelumnya kawasan tersebut tidak pernah mengalami banjir. Menurutnya, banjir kali ini kemungkinan akibat pendangkalan sungai karena sampah yang dibuang masyarakat.

“Yang jelas ada peran masyarakat. Kami dari pemerintah akan melakukan sosialisasi,” terangnya.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram Irwan Rahadi membenarkan banjir yang melanda Kota Mataram pada Senin (10/2). Namun, beberapa titik sudah mulai surut. Ia menyebut banjir disebabkan penyumbatan di sungai akibat tumpukan sampah.

“Penyumbatan sampah di sungai yang banyak,” singkat Irwan.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Mataram Haris Maulana yang turun ke lokasi banjir di Pagutan mengatakan, hujan yang tak kunjung reda menyebabkan luapan sungai.

“Banjir di dua kelurahan, Pagutan dan Pagutan Timur, disebabkan hujan yang terus turun selama dua hari,” sebut Haris.

Menurutnya, persoalan banjir bisa diatasi dengan sinergi masyarakat dan pemerintah, di antaranya dengan menjaga lingkungan, tidak membuang sampah ke sungai dan selokan, serta membuat sumur resapan untuk menampung air hujan.

“Kita tidak perlu saling menyalahkan, karena air hujan juga berasal dari wilayah timur, dan hampir seluruh kota diguyur hujan cukup lama,” ujarnya.

Solusi Tangani Banjir

Politisi PDI Perjuangan itu meminta pemerintah segera merealisasikan pembangunan waduk penampung atau pengendali air. Ia menilai bendungan seluas satu hektare di Babakan belum efektif mengendalikan air dari kawasan hilir.

“Idealnya seperti yang diwacanakan pemkot, paling tidak luas waduknya 10 hektare,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan rencana normalisasi sungai yang sering disampaikan pemerintah kota, tetapi tak kunjung direalisasikan.

“Sungai Unus ini kalau saya amati tidak pernah tersentuh program normalisasi atau pengangkatan sedimentasi,” kritiknya.

Menurutnya, jika program ini terlaksana, risiko luapan air ke pemukiman bisa berkurang. Saat ini, selain debit air meningkat, dimensi Sungai Unus menyempit akibat sedimentasi.

“Pengangkatan sedimentasi atau pembangunan tanggul tidak pernah dilakukan,” cetusnya.

Ia mendorong Pemkot Mataram berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) agar penanganan lebih terarah dan banjir tidak terus berulang.

“Sekarang banjir terjadi lebih sering. Dulu sekitar lima tahun sekali, sekarang dua tahun sekali,” katanya. (zad/chi/r7)

Editor : Redaksi Lombok Post
#sungai #DPRD #angin kencang #penyumbatan #Mataram #Pohon Tumbang #Banjir #ketinggian