Di bawah rindangnya pohon kamboja, aroma bunga krisan dan mawar bercampur dengan wangi dupa.
Suasana sunyi Pemakaman Umum Karang Bedil berubah ramai oleh langkah peziarah.
Mereka datang bukan sekadar menabur bunga, tetapi juga merawat kenangan dan merajut doa, menyambut datangnya Ramadan dengan hati yang khusyuk.
------------------
Mentari pagi mulai meninggi di Mataram, menghangatkan bumi dan menggugah kehidupan.
Pemakaman Umum Karang Bedil di Jalan WR Supratman yang biasanya sunyi, satu hari sebelum Ramadan ramai lalu lalang peziarah.
Jalanan di sekitar makam dipadati kendaraan.
Para peziarah datang berbondong-bondong, membawa bunga, air doa, dan semangat gotong royong untuk membersihkan makam keluarga.
Di bawah rindangnya pohon kamboja, aroma bunga krisan dan mawar bercampur dengan wangi dupa, menciptakan suasana syahdu.
Hari ini bukan sekadar hari biasa, melainkan momen menyambut Ramadan, diiringi tradisi nyekar. Nyekar adalah ziarah kubur yang dibarengi penaburan bunga di pusara.
“Ini lagi cari makam keluarga, tapi sudah pada hilang. Karena sudah lama,” kata Joni, seorang peziarah yang masih mencari makam leluhurnya.
Bagi warga Mataram, nyekar bukan sekadar ritual tahunan, tetapi perjalanan spiritual untuk mengenang leluhur dan mempererat silaturahmi.
Kaharudin, salah seorang peziarah, selalu menjalankan tradisi ini bersama keluarganya, baik menjelang Ramadan maupun Idul Fitri.
“Selain membersihkan makam, nyekar ini jadi pengingat tentang pentingnya keluarga dan kematian,” ujarnya pelan, seolah tak ingin mengganggu kekhusyukan suasana. “Kita juga akan kembali kan,” tambahnya lirih.
Selain nilai spiritual, ziarah kubur juga berdampak positif bagi lingkungan. Pembersihan makam membantu menjaga kebersihan dan kerapian area pemakaman.
Rumput liar dicabut, batu nisan disikat hingga bersih.
Beberapa anak kecil terlihat berlarian di antara nisan, sesekali membantu orang tua mereka menyiram air di atas makam.
Suasana syahdu sesekali diselingi tawa kecil, menciptakan harmoni antara kesedihan dan kebahagiaan.
Pemandangan di sekitar pemakaman tak ubahnya seperti pasar kaget.
Tradisi nyekar tak hanya membawa berkah spiritual, tetapi juga berkah ekonomi bagi warga sekitar.
Lapak-lapak bunga tabur bermunculan di sepanjang jalan, menawarkan berbagai jenis bunga dengan harga beragam.
Tukang parkir dadakan mengatur lalu lintas, sementara pedagang bunga menjajakan dagangannya dengan senyum ramah.
“Ya beginilah, kalau ada ziarah kan jadi banyak yang beli, rame,” kata Nengah, pedagang bunga tabur, sambil menawarkan dagangannya seharga Rp 5 ribu per bungkus.
Seiring berakhirnya ritual, satu per satu peziarah meninggalkan pemakaman, membawa doa dan harapan.
Tradisi nyekar menjadi pembuka yang indah dalam menyambut Ramadan, bulan penuh berkah dan ampunan. (Sanchia Vaneka/r7)
Editor : Kimda Farida